Senin, 20 Oktober 2014

Suatu malam kala kamu datang


Suaramu meninggi, aku menarik napas. Hari ini banyak ujian yang datang, kamu terlalu lelah untuk bermanis-manis sesampainya di rumah. Lucunya, aku sama sekali tak terganggu dengan itu.

Bukan Sayang, aku bukan penyabar. Kamu tau berapa kali aku menggeram marah karena kolegaku yang tidak bekerja benar atau berapa kali aku membanting kesal barang-barang rumah kita yang sengaja dipilih agar tahan saat terjatuh.

Mungkin sepertimu juga, sudah kupilih yang tetap bertahan meskipun aku menyebalkan dan sering menjatuhkan.

Kembali lagi soal kamu. Malam itu tak indah, meskipun suara mobil di luar tak sebising biasanya, meskipun rintik baru usai meninggalkan jalan yang kelihatan mengilap diterpa lampu kendaraan. Kamu jadi alasannya.

Senyummu menghilang, diganti kerut penat yang ingin segeranya aku hilangkan. Kamu memeluk sekadarnya saja, agar aku tenang dan tak bertanya makin banyak. Iya Sayang, aku sudah menahan diri untuk tak terus menanyaimu soal sebab.

Kita kemudian menyantap apa yang ada saja. Duduk berhadapan sambil mengunyah yang tak terasa nikmat di lidahku. Kamu tak berselera, membuatku makin jengah.

Aku mengamati kamu yang sesekali meneguk, sesekali bernapas berat, sesekali memberikan senyum hambar ke rautku yang bingung. Katakan Sayang, mahluk seperti apa yang berani mencuri lengkung bahagiamu. Mahluk seperti apa yang berani mengganggu satu-satunya Kesayanganku.

Pasti tak pernah dirasanya amarah seorang pecinta.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting