Sabtu, 04 Oktober 2014

Secangkir Teh Madu


Aku melirik ke meja kecil di sebelah tempat tidur, cangkir berhiaskan ornamen mawar sudah cantik menunggu disesap isinya. Ini pasti kamu, yang setiap pagi bangun lebih dulu demi membuatkan secangkir teh untukku. Secangkir teh dengan dua sendok makan madu hutan yang katamu bisa meningkatkan daya tahan tubuhku.

Kamu tak suka dengan kebiasaanku bangun semalaman saat inspirasi menulisku sedang deras-derasnya. Namun kamu juga tak bisa melarangku, menulis bagiku adalah napas. Aku tidak mungkin hidup tanpa bernapas. 

Dan kamu bilang, kamu tak mungkin hidup tanpaku.

Aku sesungguhnya juga tak pernah tau akan seperti apa hidup jika tanpa kamu. Aku bisa gila menghabiskan hari tanpa mengawalinya dengan hangat dekapmu atau mengakhirinya dengan kecupan lembut di keningku.

Aku hanya tak pernah mengatakannya. Entahlah, mungkin ada sebagian diriku yang takut kamu kelak akan tinggi hati dan mencari hati lain untuk ditinggali. Memikirkannya saja sudah membuat aku takut setengah mati.

Lelaki kesayangan, aku tau kamu jarang mendengarku berucap cinta. Aku sungguh merasakannya dalam tiap kerat daging yang melekat di belulangku. Aku mengulangnya tiap tarik dan hembus napas yang kuhabiskan bersamamu. Aku beberapa kali membisikkannya di hadapmu saat tengah lelap, untuk memastikan kamu tak mendengarnya.

Ini bukan soal ego, meski aku yakin egoku tak kalah tinggi dibandingkan malam saat aku menulis ini untukmu. Ini adalah ketulusan, setidaknya kuharap demikian. Aku tulus mengucap cinta untukmu, tanpa berharap kamu membalasnya dengan kata-kata indah yang lebih terdengar seperti omong kosong kehidupan buatku.

Kesayangan, kalau hidup ini adalah tentang sulit dan lelah maka semua bujuk rayu roman picisan adalah pemanisnya. Ditipunya semua umat manusia agar lupa soal peluh dan darah. Tapi taukah, aku tak ingin ditipu oleh semu. Aku ingin melalui semua terik dan terjal bersamamu, aku tak takut menyusuri setapak penuh duri asal digenggam erat olehmu.

Kembali soal pemikiranmu bahwa kamu tak mampu hidup tanpaku.
Kamu bisa, Sayang.

Patah hati adalah luka kecil yang akan disembuhkan oleh waktu, kekecewaan adalah racun yang penawarnya segera datang ketika kamu berhenti meratap. Hatimu adalah yang terluas dan terkuat yang pernah aku temui, patah hati tak akan pernah menghancurkannya menjadi kepingan kecil.

Tak akan pernah ada hati yang sempurna kecuali mereka yang tak pernah mencinta, Sayang. Kalau sekiranya perempuan setelahku tak mau menerima hatimu yang retak, maka dia tak pantas bermukim di bagian lain hatimu dimana nestapa tak pernah terdengar gaungnya. Jangan biarkan dia menjelajahi luas savana-mu meski selangkah. Dia bukan orangnya.

Tak akan pernah ada hati yang tak pernah terpuruk kecuali mereka yang tak sungguh jatuh cinta, Sayang. Retak-retak hatimu adalah tanda bahwa dia pernah tegar bertahan dalam ujian. Kalau nanti perempuanmu mengharap hati yang bentuknya sempurna tanpa cela, namanya tak pantas kamu ukir di permukaan hatimu yang guratannya jadi pesona sendiri bagiku.

Aku tak ingin meninggalkanmu.
Aku tak ingin jauh meski sedepa.

Kamu tau aku selalu terbangun saat dekapmu merenggang malam hari. Aku akan beringsut pelan dan melekatkan diri ke bidang dadamu yang bergerak teratur kala kamu bernapas. Aku tak pernah mau meletakkan jarak. Jarak boleh singgah dimana saja, namun bukan di antara kita.

Tapi ajal, Sayang. Aku tak mampu menghentikan derap langkahnya yang kian cepat memburuku. Aku sudah berlari, lebih kencang dari saat aku menjemput kedatanganmu di bandara untuk kemudian menjatuhkan diri di pelukmu yang tenang. Aku sudah sembunyi di celah sempit, lebih sempit dari ruang yang kuberikan di lemari kita untuk menyimpan pakaianmu. Dia tetap saja menemukanku.

Aku lelah, Sayang.
Aku mau menyerah saja, mulai esok aku mau kamu berhenti membuatkan secangkir teh madu di meja kecil di samping tempat tidurku.

...

Sudut pandang lain tentang Secangkir Teh Madu bisa disapa disini

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting