Kamis, 02 Oktober 2014

Pergi Mengitari Bumi


"Kemana kamu akan pergi?" tanyamu melihatku sibuk mengepak barang. Tas hijau tua yang biasanya aku gunakan untuk bepergian pun tak cukup, kukeluarkan semua isinya, lalu berjalan ke sudut ruangan hendak mengambil tas lain di atas lemari baju.

Aku berdehem. "Untuk apa kamu tau? Toh kamu tak akan tinggal bersamaku."

Kamu diam, seperti memikirkan sesuatu.

Apapun itu, yang jelas aku tau bahwa pergi bersamaku tak akan pernah jadi opsimu. Aku sudah letih menggumamkan pengharapan ke langit, aku lebih baik pergi ketimbang terus menerus sakit hati.

"Sudahlah, tak perlu merasa tak enak hati. Aku tau kamu tak pernah menjadikan aku pilihan utama dalam hidupmu. Tenang saja, aku cukup tau diri untuk tidak mengharapkannya barang secuil." Aku menelan ludah, menyadari kebohonganku barusan. Aku akan berpisah denganmu tapi malah meninggalkan sekerat kebohongan yang mungkin tak bisa aku hapus.

Aneh sekali, aku malah berdoa semoga kamu cukup peka untuk menyadarinya. Kurasa aku pembohong yang sangat buruk, tak ada pembohong yang berharap ketahuan, kan?

Kamu tak berani mendekat. Kamu mematung saja, duduk di sisi tempat tidur memandangi aku yang kini memaksa agar semua bawaanku masuk ke dalam tas. "Sayang, barangkali aku bisa mampir suatu hari," rajukmu, memintaku menyampaikan kemana aku menuju.

Aku menggeleng, "Aku tak ingin disinggahi, setidaknya olehmu. Aku ingin bersama orang yang berani mengambil risiko untuk tinggal bersamaku. Sudah bertahun hidupku dihabiskan menangisi mereka yang sekedar datang dan mampir sebentar. Maaf, aku lelah."

"Katakan saja, Sayang. Setidaknya aku tau seberapa jauh aku akan terpisah denganmu." ujarmu lagi, dengan tatapan memohon yang sukar kuhapus dari dalam kepala. Aku tak pernah sanggup menolak pintamu, apapun itu. Sesulit apapun, sesakit apapun, pintamu adalah yang nomor satu.

Kenyataannya adalah, aku tak tau hendak kemana aku pergi. Aku hanya ingin sejauhnya darimu, sejauh-jauh kakiku bisa berlari.

Bukan karena aku tak ingin kamu menyusulku, aku hanya menghindar dari kemungkinan suatu hari aku kembali pulang padamu. Aku harus menapak jalan sesulitnya, terpisah laut kalau memang diperlukan. Tak boleh tau bagaimana aku bisa pulang, kembali padamu adalah sebuah kekalahan. Bodoh sekali, aku tak pernah peduli soal menang saat bersamamu.

Aku tak tau kemana kakiku menuju, Sayang.
Tapi kalau aku harus mengitari Bumi dan mati di tengah perjalanannya demi melupakan keinginan untuk bersamamu, aku tak berpikir dua kali untuk melakukannya. Sama sekali bukan karena cinta untukmu telah menguap, aku masih dan akan selalu menyimpannya rapat.

Aku hanya tau, aku pantas mendapatkan yang lebih dari sekedar kunjungan singkat.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting