Selasa, 07 Oktober 2014

Pagi Sendiri


"Sendirian, lagi?" tanyamu mendekat, aku menoleh lalu memberikan anggukan singkat.

Desir angin memainkan rambutku yang tergerai, aku jarang mengikatnya karena aku suka kebebasan. Tak adil rasanya mengekang. Sama seperti aku yang bebas tidur dan bangun dimanapun aku mau, sama seperti aku bebas minum dan berdansa dengan siapapun yang jadi pilihanku.

Kamu mengamati aku yang masih menikmati sapuan angin di wajahku. Wajahmu setenang telaga, itu salah satu hal yang membuatku membiarkanmu duduk bersampingan denganku kala isi hatiku carut marut tak karuan. "Bagaimana malammu?"

Aku tertawa sinis. "Setidaknya lebih menyenangkan dari milikmu,"

Kamu mengangguk, tersenyum entah untuk apa. "Ceritakan padaku," ujarmu sambil menggeser posisi duduk mengarah padaku.

"Bukan urusanmu," aku menjawab defensif. Aku bukannya berbohong soal malamku, aku hanya enggan menceritakan bahwa paginya aku kembali sendirian. Saat bingar malam membuatku hidup, paginya semua kesenanganku seperti menciut lalu habis ditelan cahaya matahari. Brengsek.

Kamu masih tersenyum, sudah biasa mendapatkan perlakuan semacam itu dariku. "Malamku masih sama," katamu dengan nada datar.

Aku salah tingkah. Kita berdua tau apa kelanjutan dari kalimatmu.

"Masih menungguku."

"Masih menunggumu."

Kita berdua menyahut bersamaan.
Sayangnya, hati kita tak pernah bertautan.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting