Selasa, 21 Oktober 2014

Saat semesta melucu

Pagi itu kita terburu-buru. Matahari meninggi, kamu tak boleh terlambat. Sedang aku, harus selekasnya pergi. Aku masih ingat, hari itu Minggu. Iya, aku mengingatnya karena pada hari lain kamu tak mungkin jadi milikku. Aku tak mungkin bisa bangun dan mengecup hidungmu lalu setelahnya menertawakan wajahmu yang mengerut lucu.

Aku keluar kamar mandi, dengan menggelung rambut yang basah di dalam lilitan handuk. Pun tubuhku, masih dihinggapi bulir air di beberapa bagian. Kamu sudah rapi, duduk di sisi tempat tidur, hendak bersepatu.

"Sayang, aku lupa hari ini atasanku berwarna merah. Lihatlah," kamu memanggil aku yang masih sibuk mengeluarkan baju.

Aku lantas mengganti tujuan pandang, ke tempatmu berdiri sekarang. Sepatumu berwarna biru, kontras sekali. Aku kemudian tertawa, kamu mengangkat bahu. Sesaat kemudian tatapku bergeser ke sepatu dengan pita kecil berwarna merah darah, milikku.

Lalu aku tertawa lagi. "Sayang, lihatlah.." ucapku sambil menyodorkan sesuatu agar lebih dekat dengan penglihatanmu.

Aku tak ingat, ternyata bajuku berwarna biru.

Kita tertawa bersamaan.
Kadang semesta bisa jadi sangat lucu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting