Jumat, 10 Oktober 2014

Kabar Setahun


"Tapi kamu pernah berjanji akan menungguku," Arya bicara sambil menggenggam tanganku yang ada di atas meja. Sentuhannya sukses membuat rasa bersalahku berkali-kali lipat besarnya.

Aku menghela napas, "Kamu tak menghubungiku setahun terakhir, Ya. Sama sekali."

Arya meremas tanganku kuat, aku meringis sakit. Melihat reaksiku, segera dilepasnya genggaman tangan kami. "Taukah kamu sulitnya bertahan hanya dengan uang beasiswa, Sheil? Aku harus bekerja malam hari untuk membiayai hidupku, sementara pagi dan siangnya kugunakan untuk belajar sungguh-sungguh,"

"Seharusnya kamu tidak perlu sekeras itu pada dirimu," aku berucap datar. Aku tau mengapa kamu memilih untuk bersikeras hidup dari tanganmu sendiri. Aku tau kenapa kamu menahan untuk tidak menghubungi keluargamu dan meminta sebanyak yang kamu mau.

"Untukmu, Sheil."

Tepat seperti perkiraan. Kamu dengan bodohnya menyiksa diri demi melepaskan kewajiban untuk meneruskan dinasti keluargamu, membentuk keluarga kecil denganku. Tapi siapa yang menyangka kamu begitu bersungguh-sungguh, Arya. Setelah beberapa bulan tak ada lagi kabar yang aku dapatkan, aku berpikir bahwa kamu sudah lelah dan menghapus semua rencana kita. "Aku minta maaf," kataku, tak tau lagi harus berkata apa.

Kamu mengepalkan tangan, mengadunya dengan permukaan meja untuk melampiaskan kekesalan. "Selain permintaan maaf, apalagi yang tersisa untukku, Sheila?"

"Kembalilah ke keluargamu, Ya. Mereka pasti rindu," aku menahan genangan air mata turun dari kelopak mata. Terjebak dalam situasi ini rasanya menyakitkan. Namun kamu tetaplah kamu, laki-laki dengan kesabaran paling luas dan dalam. Tak ada cacian keluar dari mulutmu, padahal aku jelas pantas menerimanya.

Kamu menjauhkan diri dari meja. Bersiap pergi. "Maaf aku datang terlambat,"

Aku diam, yakin bahwa kalau aku memaksa diri bicara maka yang akan terdengar hanya tangis penyesalan.

'Aku yang pergi terlalu cepat, Arya.'

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting