Rabu, 17 September 2014

(How to) start a small talk


Sejak saya kuliah di Psikologi, Mama punya hobi baru. Ilmu behavioral science yang saya pelajari dijadikan source jawaban atas perilaku-perilaku di sekitar. Biasanya, kalau teman-teman dekat yang kuliahnya non psikologi menanyakan hal-hal aneh macam "Eh emang iya ya kalo orang yang sering disakitin lama-lama bisa jadi psikopat." atau "Orang pendiem itu marahnya yang bahaya banget gitu kan?" saya bisa santai menjawab, "Ya keleus." atau "Ketemenehe." karena nggak mau asal-asalan menjawab sebelum baca literatur. Tapi kalau Mama bertanya dan saya jawab dengan jawaban jenis itu, bisa jadi sekuelnya Malin Kundang deh saya. Hehehe.

Kembali ke hobi Mama bertanya soal ada apa di balik perilaku manusia. Pada Hari Raya dan berkumpul dengan keluarga besar, ada fenomena unik yang umum terjadi. Saat bertemu dan menyapa, seringkali didengar sapaan seperti: "Eh sekarang gendutan ya?" "Kok gemukan sih?" "Ih subur ya sekarang?" "Duh kok gendut?" dll dst dsb.

Mama kemudian bertanya ke saya, "Kenapa ya orang-orang bisa mudahnya menyapa begitu? Memangnya nggak kepikiran kalau yang disapa bakal sakit hati?"

Hmm. Iya ya. Saya juga nggak paham kenapa orang bisa mudah memberikan sapaan yang menyinggung bentuk tubuh, terlebih yang sifatnya negatif seperti bertambahnya bobot. Ditambah dengan kata 'gendut' pula.


Saya sih sudah punya senjata pamungkas untuk menghadapi sapaan yang tidak terlalu menyenangkan semacam itu. Respon paling minimalnya ya senyum dan mengalihkan ke topik yang lain. Kalau kebetulan sial karena lawan bicaranya kelewat 'serius' membahas dan mulai bertanya "Memangnya berapa beratnya?" "Suka ngemil ya?" "Jarang olahraga ya?" "Sering makan malem malem ya?" paling saya cuma jawab seadanya dan memberikan jarak personal untuk menyamankan diri sendiri.

Kata ayah saya, (yang tentunya nggak sensitif seperti kami para perempuan soal sapaan 'gendut') sapaan semacam itu diucapkan hanya karena lawan bicara bingung harus memulai small talk darimana. Pemikiran semacam ini kayaknya memang sangat positif meskipun nggak menjawab juga kenapa dari sekian banyak topik harus bentuk tubuh yang jadi pusat perhatian.

Kalau menurut saya, dalam interaksi yang paling penting adalah membuat lawan bicara kita merasa nyaman. Sedekat apapun kita dengan orang lain, sepertinya menyapa dengan sesuatu yang negatif nggak cocok jadi pilihan. Ini bukan berarti kita nggak boleh mempedulikan orang lain, hanya saja caranya tentu bisa disesuaikan. Lagipula, nggak perlu lah iseng mengomentari fisik orang yang akan membuat dia jadi nggak nyaman sama dirinya. Nggak ada untungnya.

Buat yang bingung memulai small talk, berikut beberapa tips:

1. Berikan komentar POSITIF tentang hal yang ada di diri lawan bicara kamu
Mulai dari tatanan rambutnya, riasan, baju, atau prestasi yang dicapainya. Kalau kamu merasa komentarmu bukan sesuatu yang positif, lebih baik diam.

2. Berikan komentar POSITIF tentang hal di luar lawan bicara kamu
Seandainya kamu sulit menemukan hal positif yang bisa dikomentari yang ada pada diri lawan bicara kamu, cari sesuatu di luar dirinya, misalnya: diskon di toko baju favorit kamu, makanan yang dihidangkan saat itu, taplak meja, tirai, apapun.

3. Kalau kamu ingin membuat lelucon, maka satu-satunya orang yang boleh dijadikan bahan leluconmu adalah KAMU SENDIRI
Ini serius. Mencoba untuk menjadikan orang lain sebagai bahan leluconmu terlalu berisiko. Kalau kamu benar-benar ingin melucu untuk menghangatkan suasana, mulailah dari dirimu sendiri.

4. Orang ingin mengobrol tentang diri mereka
Serius deh, nggak semua orang mau denger pengalaman hidupmu yang jatuh-bangun-pupus-bangkit-luarbiasa. Pada dasarnya orang ingin menceritakan diri mereka sendiri. Jadi kalau kamu ingin obrolannya diminati juga oleh lawan bicaramu, tanyakan tentang diri mereka atau opini mereka terhadap suatu isu.

Menjalin obrolan memang sesuatu yang harus dilatih supaya nggak kaku. Tenang, orang yang merasa kesulitan dalam hal ini nggak sedikit kok. Hal yang penting untuk diingat, menyapa orang dengan sesuatu yang membuat mereka nggak nyaman jarang sekali berhasil dalam menciptakan kedekatan. Yuk ah sapa dengan panggilan baik ;)

2 comments:

lalusandi mengatakan...

Point nomer 4..mbak aulia banget..hehe

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

@lalusandi: Hahaha gimana nih maksudnya? Saya suka bocor soal diri sendiri ya? :))

 

Template by Best Web Hosting