Jumat, 19 September 2014

Sia-sia yang paling menyenangkan

"Badanmu hangat." ujarku merapatkan posisi duduk. Di luar angin bertiup tak henti, membuat kumpulan daun kering yang sudah susah payah dibereskan penyapu jalan kembali berantakan.

Kasihan sekali, menurutku menyapu daun kering di musim gugur begini pastilah hal yang paling sia-sia. Bagaimana mungkin ada orang yang bangun dan menyapu seharian, kemudian pulang beristirahat hanya untuk melihat porak poranda hasil kerjanya kemarin di pagi hari?

Tanganmu merangkul aku, ada desir yang kunikmati tiap kita bersentuhan. Kembali ke sia-sianya pekerjaan menyapu jalan. Dulu aku pernah berkata pada Ayahku bahwa mencabuti rumput di halaman adalah hal yang sia-sia, mereka akan tumbuh lagi dengan kurang ajar. Kutawarkan satu ide brilian, membakar kebun kami. Ayah seharian marah, berkebun adalah kegiatan favoritnya dan ia tau aku tidak bercanda.

Kita diam, tak bicara barang sekata pun. Aku tak ingin memulai percakapan, hadirmu cukup. Mungkin kesia-siaan tak hanya milik penyapu jalan atau Ayahku yang gila berkebun. Kesia-siaan juga sudah jadi takdir para pecinta, sepertiku.

Aku jatuh cinta dan menghitung setiap hari kapan aku akan patah hati. Pada dasarnya semua hati yang dijatuhkan akan remuk, ini hanya perkara waktu. Semakin tinggi kedudukan awal, maka dampak kehancurannya akan makin parah. Fisika sudah mengonfirmasinya, ini ketentuan alam.

Kalau ada sia-sia yang paling menyenangkan. Hal itu pastilah jatuh cinta.
Bagaimana mungkin ada orang yang menyerahkan seluruh hatinya dan berbahagia padahal tau pasti bahwa cepat atau lambat hatinya akan kembali dalam bentuk remah bercampur darah?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting