Sabtu, 27 September 2014

Rasa Untuk Nina


Ditya memandangi gadis di sebelahnya yang tengah terlelap. Sudah 8 tahun tapi wajah Nina masih saja mampu mengulik keingintahuannya soal apa lagi yang belum diketahuinya soal gadis itu. Padahal Ditya sudah hafal betul tiap lekuk dan kerut wajah Nina. Tentu bukan kerut penuaan yang sering dikhawatirkan banyak perempuan sampai harus mengoleksi berbotol-botol perawatan anti aging yang bagi Ditya adalah kebohongan besar marketing.

Ditya sangat tau itu, dirinya adalah seorang dokter. Menjadi tua adalah kepastian yang tak dapat dicurangi, Ditya malah heran dengan orang-orang yang setengah mati menghindari tua. Tidakkah tiap orang perlu beristirahat dari dinamika masa muda yang melelahkan?

Menjadi tua adalah tentang beristirahat, memilih dengan siapa kita menghabiskan hari sembari menertawakan hal-hal yang mulai luput dari ingatan. Atau duduk saja di beranda rumah sambil bercerita tentang waktu muda. Atau malah menunjukkan cinta yang  murni. Cinta yang tak lagi diembeli oleh nafsu akan bentuk tubuh aduhai dan lama waktu bercinta di atas ranjang.

Ditya tak tau pasti apa yang akan dilakukannya di waktu tua. Dia hanya tau satu hal sejak bertahun-tahun lalu. Dia ingin menua bersama Nina.

Mengapa Nina? Ini masih misteri.

Secara fisik, Nina bukan tipe di atas rata-rata yang mampu menggugah hasrat banyak pejantan. Bahkan di beberapa bagian, tubuh Nina tak proporsional. Ini pasti karena enggannya gadis itu berolahraga. Olahraga baginya hanya sebatas berjalan kaki, itupun kalau matahari tak sedang terik. Nina juga tukang makan, tak pernah cukup hanya memesan satu porsi walaupun tak habis kalau harus memakan dua sekaligus. Jangan tanya soal makanan manis dan cemilan, Nina paling lemah dengan icing cake warna-warni di etalase toko. Ditya tersenyum sendiri, di kepalanya terbayang celoteh Nina bercerita soal toko-toko kue yang pernah disambanginya. Mana yang enak, mana yang mahal, mana yang tak pernah sepi pengunjung.

Nina mengguman dalam tidur, Ditya mengusap kepalanya pelan. Helai-helai rambut Nina melewati jemarinya, lembut. Biasanya Nina akan protes kalau ada yang menyentuh rambutnya, telapak tangan adalah bagian tubuh yang kotor dan berminyak dan Nina tak mau rambutnya ikut kotor. Protesnya akan nyaring terdengar kalau sampai ada asap rokok di sekitarnya, selain isu kesehatan paru, asap juga akan membuat rambutnya beraroma tidak sedap. Rambut Nina panjangnya sepunggung, tanpa model macam-macam dan warnanya tak pernah diganti dari warna aslinya.

Terlepas dari entah berapa pria yang sudah jatuh ke pelukan Nina, Ditya tetap ingin menua dengan gadis itu. Meskipun mereka punya pemahaman berbeda soal cinta. Bagi Nina, cinta adalah petualangan singkat yang dirasakannya berkali-kali. Berawal dari ketertarikan dan selalu dilanjutkan dengan bercinta lagi dan lagi. Ditya tau betul hal itu, Nina menganggap pernikahan adalah hal yang menyedihkan. Kembali pulang ke orang yang sama karena terpaksa adalah kutukan.

Sedang Ditya percaya bahwa cinta tak selalu harus diekspresikan dengan bercinta. Tentu Ditya punya hasrat, dirinya laki-laki normal. Ditya hanya tak ingin suatu hari dia berfantasi tentang perempuan lain saat bersama kecintaannya, yang sampai sekarang masih diisi oleh Nina. Tak pernah berhasil digantinya dengan perempuan manapun.

Ditya masih menaruh hormat pada Nina, tak peduli berapa kali dia harus memapahnya pulang setelah mabuk-mabukan karena patah hati. Ditya tak pernah kurang ajar menyentuh Nina kala terlelap meskipun Nina bukan gadis yang enggan memberi pelukan dan kecupan pada teman-teman sepergaulannya. Ditya menilai Nina jauh lebih tinggi dari itu.

Yang dilakukannya sekarang pastilah kebodohan kalau tak mau disebut ketololan. Nina tak pernah memberikannya harapan, Nina hanya menganggapnya teman. Ditya tau itu semua, tapi perasaan nyaman bersama Nina kelewat adiktif. Ditya tak pernah sanggup menolaknya.

Kalau menua bersama Nina berarti harus meninggalkan jam praktik demi memapahnya pulang setelah mabuk di bar atau malah menunggui Nina menangis meracaukan kekasihnya yang pergi demi perempuan lain saat mabuknya belum hilang, Ditya tak akan pernah keberatan. Dia tak menginginkan siapapun lagi, hanya Nina.
 

Template by Best Web Hosting