Sabtu, 06 September 2014

Premis-premis

Sebelum membaca cerpen ini, sempatkan kesini dulu ya :)

...

"Pulang yuk Gus, udah larut malem nih." ajakku sambil beranjak dari kursi kayu tempatku duduk selama beberapa jam bersama Gus. Oh, rasanya bersama Gus bukan padanan yang tepat karena sejak tadi aku tak merasa Gus benar hadir di hadapanku. Gus sibuk dengan lautan katanya, dia tentu lebih menyukai hobinya ketimbang aku.

Wajah Gus berubah bingung, mungkin karena nadaku yang tak serendah biasa. Wajar kan aku kesal, aku ingin Gus lebih banyak bicara, seperti tokoh-tokoh dalam ceritanya. Lagipula apa susahnya memproduksi kata lewat mulut, toh Gus terbiasa menulis berlembar-lembar cerita dengan jemarinya.

Saat Gus akan berdiri, aku menahannya. "Please, hari ini aku yang bayar, ya." aku berujar sembari tersenyum, dibalas Gus dengan anggukan. Aku sempat melihat Gus membereskan laptopnya bersiap pulang.

Aku merasa bodoh, lebih dari tiga jam duduk berhadapan tanpa ada pembicaraan yang berarti. Bukan, bukan diam yang membuatku merasa bodoh tapi kenyataan bahwa aku menikmatinya. Aku menikmati menghabiskan waktu berdua saja dengan Gus, meskipun tak berbagi sepatah katapun.

Gus harusnya lebih banyak bicara, dia pasti pencerita yang handal. Harusnya saluran kata-kata yang berasal dari otaknya tak cuma disalurkan melalui jemari saja tapi juga mengaktifkan pita suaranya. Harusnya Gus lebih banyak tersenyum ketimbang mengerutkan kening mengoreksi hasil tulisannya. Harusnya Gus berhenti tenggelam terlalu lama dalam naskah karangannya.

Harapan-harapanku seperti premis-premis yang terus menerus bertambah. Beranak-pinak. Tak mau berhenti mengganda diri. Semakin banyak premis tercipta, aku sampai di satu konklusi pasti.

Harusnya Gus menyadari keberadaanku. Harusnya aku lebih menarik ketimbang kata-kata yang selama ini dijadikan Gus sebagai napasnya.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting