Senin, 01 September 2014

Perginya diksi

Aku melalui hari ini lagi, dimana aku bangun dengan perasaan bahagia yang berdentum berkali-kali dalam dada. Seperti bunga matahari yang batangnya mengoyak-oyak susunan organ dalamku dan tak sabah membuncah keluar demi memamerkan kelopak kuning cerah yang mengagumkan.

Ekor mataku menangkapmu yang masih memejam. Kita memang berbeda soal pola istirahat. Kamu masih lelap kala aku terjaga, aku bugar saat kamu bahkan belum membuka mata.

Biasanya kita bertemu saat purnama gagah menguasai langit, matahari sama sekali bukan teman kita. Sebagai pasangan dalam bayang-bayang, kita tak boleh terpapar sinar. Terlalu banyak sinar akan melukai, kita hanya bisa bercumbu di temaram. Terang bukan takdir yang dituliskan untuk kita.

Tak apa, aku sudah bahagia bisa menemanimu kala gelap menjadi tirani.

Jangan pikir aku menyukai gelap. Aku tak pernah bermimpi akan bersahabat dengannya. Seperti penghuni Kota Cahaya yang lain, aku membenci gelap. Tak ingin lama-lama larut di dalamnya. Tapi kamu satu-satuny pengecualian, semata karena aku tak menyukai alasan. Biarlah kurobohkan sumpah sendiri untuk mempertahankanmu.

Merasa ada pergerakan di atas tempat tidur, aku menoleh. Kamu menggeliat malas, seperti sudah cukup bosan diam beristirahat namun enggan bangun sepenuhnya. "Pagi, Sayang.." ujarmu melengkungkan senyum.

ZLAP.
Semua diksiku lenyap. Selalu begitu saat berhadapan denganmu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting