Senin, 08 September 2014

Melihat Hans

"Coklat panasmu sudah di meja ya, Sayang." suara Hans terdengar dari ruang kerjanya. Masih dengan handuk terlilit di kepala, aku menuju ke meja tempat kami biasa sarapan yang letaknya hanya beberapa meter dari meja kerja Hans. Melihat mug berwarna merah milikku yang hanya terisi setengah.

Hans tau aku unik. Segala keunikanku (atau tepatnya keanehan) entah bagaimana menjadi hal yang dihadapinya dengan sangat tenang dan sederhana. Misalnya saja selera coklat panasku, lima sendok bubuk coklat, tanpa gula, dengan air panas setengah mug. Untuk hal sepele seperti minuman kesukaan aku sudah rumit, jadi jangan tanya bagaimana aku menyukai bantal dan gulingku tersusun di atas tempat tidur atau susunan sepatu di rak. Sedikit saja beda, bisa merusak suasana hatiku seharian.

Aku membawa mug berisi coklat panas ke tempat Hans mengetikkan pekerjaannya, menyandarkan lenganku di bahu-bahunya yang kokoh. "Kamu belum tidur sejak semalam?" tanyaku, mengamati barisan angka di monitor yang sampai sekarang tak pernah kupahami artinya.

Hans berhenti mengetik, tangannya mengusap lembut lenganku. "Belum, ada yang harus kukerjakan. Bagaimana tidurmu?"

"Baik." jawabku melemparkan senyum. Aku tak bisa menemukan kata-kata yang lebih baik ketimbang 'baik'. Aku tak pernah menyukai apapun tanpa kehadiran Hans. Tempat tidurku rasanya dingin, aku bangun dengan pegal-pegal seluruh badan. Kalau boleh memilih, aku ingin menemani Hans saja bekerja di depan monitornya tapi aku berani bertaruh bahwa yang akan terjadi adalah Hans merelakan waktu kerjanya demi menemani aku tidur.

Dan menyusahkan Hans sama sekali bukan pilihanku. Aku sudah cukup membebaninya dengan segala kompleksitas yang aku miliki. Lagipula siapa lagi yang aku punya selain Hans. Aku tak ingin Hans pergi. Aku tak ingin Hans hilang dari pandanganku seperti dia hilang dari pandangan semua orang.

Hanya aku yang bisa melihat Hans, jangan sampai dia pergi. Aku benci sendirian.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting