Jumat, 05 September 2014

Kedai Kopi Sunyi

Sisi Fai.

Aku tersenyum membaca pesan singkat dari Gus. Pemilihan kata-katanya selalu menimbulkan desir aneh yang kunikmati. Entah sudah berapa ribu kupu-kupu yang diberikan nyawa oleh Gus, kupu-kupu yang tak pernah berhenti mengepak tiap aku menerima rangkaian kalimat yang ditulisnya untukku.

Gus memang penulis. Karyanya dinikmati oleh banyak pembacanya seperti manisan yang tak henti-henti laku dijual di pasar. Itu sebabnya aku sangat berhati-hati soal perasaanku padanya. Entah sudah berapa perempuan yang dibuat Gus tak bisa tidur begini. Melihat pesan para penggemarnya yang kebanyakan wanita di jejaring sosial, aku rasa-rasanya harus berhenti memikirkan berapa perempuan yang berusaha merayunya di dunia nyata.

Malam ini kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, di kedai kopi sunyi yang terletak di dekat kantorku dan kebetulan searah dengan jalan pulang Gus. Kedai kopi yang sering dipuji Gus karena kopinya yang lezat. Aku menurut saja, toh perutku intoleran dengan kopi jadi aku tak mungkin mencicipnya barang sececap pun.

Gus tau itu, dipesannya secangkir coklat panas dengan beberapa potong marshmallow yang terasa manis dan lengketnya di langit-langit mulut saat aku menyendoknya. Melihatnya tak sesantai biasa, aku tak mengganggu Gus dengan cerita hariku yang membosankan.

Mungkin Gus sedang sibuk dengan tulisannya. Perhatiannya tak lepas dari benda silver berlayar empat belas inci yang menjadi otak keduanya. Itu tebakan pertama. Tebakan keduaku, mungkin Gus sedang saling berbalas pesan dengan penggemarnya. Aku tak terlalu menyukai kemungkinan yang terakhir tapi aku tak pantas marah, kan?

Gus dan aku masih berteman.
Aku tak yakin dia mampu menjadikan aku satu-satunya.

...

Sisi Gus dapat dilihat disini

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting