Senin, 18 Agustus 2014

What does oldest child need

Sewaktu saya di tengah perjalanan menuju Jakarta menggunakan kereta, ada fenomena menarik yang saya temukan. Sore itu saya sendirian, di depan saya duduk seorang ibu dengan dua anaknya. Anak tertuanya laki-laki, umurnya mungkin sekitar 10 tahun, adiknya perempuan yang kira-kira berusia 6 tahun.

Si Kakak duduk bersama ibunya, sedang adiknya duduk di kursi seberang bersama orang asing. Saya mengamati betul interaksi dua anak ini, awalnya si Kakak menawari: "Adik, duduk di sebelah Mami ya? Biar Kakak yang disana."

Tawaran si Kakak dibalas ketus: "Adik juga bisa kok duduk sendiri."

Si Kakak hanya tersenyum saja. Beberapa saat setelah kereta berangkat, Adik menghampiri kursi si Kakak untuk meminta cemilan. Kakak memberikan seplastik penuh makanan ringan setelah mengambl dulu satu bungkus miliknya, sisanya langsung dibawa oleh Adik ke kursinya.

Di tengah berjalannya kereta, Kakak menghampiri: "Aku minta dikit dong Ciki (makanan ringan) nya."

Adik menarik bungkus makanannya menjauhi Kakak, "Nggak boleh! Siapa suruh tadi (kamu) nggak beli."

Kakaknya menjawab tanpa beranjak dari samping kursi Adik, "Ya kan daripada beli yang sama mendingan aku beli yang lain. Trus kamu bisa minta, jadi dimakan barengan."

Si Adik bersikeras, "Nggak mau! Sana tuh makan makanan lo sendiri!" ujarnya sambil mendorong Kakak menjauh. Si Kakak lantas kembali ke kursinya, melanjutkan aktivitas mengemil sambil asik bermain game dari gadgetnya.

Beberapa lama, Si Adik menghampiri kursi Kakak dan Maminya, meminta pindah. Mungkin si Adik merasa bosan duduk di sebelah seorang Bapak yang tidak dia kenal. Si Kakak bangun dari duduknya dan tersenyum jahil, "Tadi katanya bisa duduk sendiri."

Reaksi Adiknya tak saya sangka, mungkin karena saya juga menikmati adegan Kakak yang jahil. Dengan nada keras si Adik bicara, "Nggak usah bacot (banyak omong) deh lo! Udah sana pindah, bacot!"

Ada yang teriris-iris dalam hati saya. Duh, dalam perspektif saya kok ya si Adik sangat nggak menghargai kakaknya ya. Padahal, si Kakak sudah menunjukkan perilaku sayang (memberikan saran yang menurutnya nyaman bagi si Adik, tidak memaksa saat meminta sesuatu yang merupakan milik Adiknya, dan menggantikan Adik yang tidak nyaman dengan tempat duduknya).

Saya saja merasa bahwa saya nggak sehebat itu dalam menjadi kakak. Saya bisa mencak-mencak kalau adik-adik saya berlaku tidak sopan. Menurut saya, interaksi kan harus saling menghargai jadi sesayang apapun saya sama orang, saya pasti protes kalau diperlakukan tidak menyenangkan.

Lalu saya jadi teringat seorang teman dekat saya yang lebaran lalu bertemu dengan keponakan-keponakannya. Dia bercerita pada saya, "Kamu tau, Ul? Melihat keponakanku yang punya adik (teman saya ini anak bungsu, jadi nggak punya pengalaman memiliki adik), menurutku anak pertama harus punya hati yang sangat besar."

Indeed.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting