Selasa, 26 Agustus 2014

Tuan penari

source: http://s3.favim.com/orig/46/boy-couple-cute-dancing-dress-Favim.com-413549.jpg
"Bagaimana kalau denganku saja?" ujarnya mengulurkan tangan. Semua orang sudah ke tengah ruangan dan berdansa dengan pasangannya masing-masing, sedang aku duduk saja di atas kursi empuk yang bantalannya dilapisi beludru sambil meneguk air limun berwarna merah muda.

Aku menggeleng, "Lupakan saja, aku tak perlu seseorang yang mengasihani aku."

Senyumnya terkembang, memamerkan sederetan gigi rapi yang kuyakin sudah berkali-kali membuat perempuan lain menunduk malu. "Kamu terlalu percaya diri, aku tak suka membuang waktu mengasihani orang lain. Nyatanya, aku memohon belas kasihanmu untuk menerima tawaranku."

"Aku tidak punya waktu mendengar rayuan. Sebelum kamu menyesal sudah berusaha, kusarankan kamu pergi." balasku tanpa merasa perlu beramah-tamah. Dia mengangkat bahu, jas berwarna abu terang sangat pas dipasangkan dengan warna kulitnya. Laki-laki yang ucapannya manis dan selera berpakaiannya apik pasti sudah mematahkan hati banyak perempuan, aku tak berniat menambah jumlah trofinya.

Musik masih mengalun, pemusik-pemusik yang disewa kini mengganti tempo dengan lagu berirama cepat. Pasangan-pasangan di lantai dansa mengendurkan dekapan mereka dan mulai menggerakkan kaki seirama dengan derap alat musik. "Di tempat dimana aku berasal, laki-laki pantang berhenti berusaha memperjuangkan apa yang diyakininya."

Aku menoleh, si keras kepala ini belum pergi juga ternyata. Napas kuhela cepat, memberikan tanda bahwa kehadirannya disini tak kusenangi. "Di tempat dimana aku berasal, keyakinan adalah nama lain dari harapan yang tingginya sama dengan langit dan kalau mataku tak salah melihat, kamu tak punya sayap."

"Nona, jangan terlalu tajam mengasah kalimatmu, akan ada banyak orang yang terluka karenanya." ucapnya hati-hati dengan nada yang tidak menggurui.

Aku tertawa, "Beberapa orang pantas mengetahui bahwa ada hal-hal yang tak mudah mereka dapatkan. Kalau uluran tangan dan tawaran dansa adalah modal yang kamu gunakan untuk memikat gadis-gadis sebelumnya, denganku kamu harus lebih pintar lagi."

...

Lelaki di pesta dansa itu memang pintar walaupun awalnya hanya bermodal uluran tangan mengajak berdansa. Aku salah sudah meremehkannya.

Tidak, jangan pikir aku semurah itu.
Aku sama sekali tak pernah mengiyakan tawarannya untuk berdansa meskipun dia terus memohon lagi dan lagi.

Aku berakhir bersamanya, mengeja malam-malam sampai membentuk gurat pagi.
Aku berakhir bersamanya, menyandarkan harapan demi harapanku di lengkung senyumnya.

Aku berakhir bersamanya, menarikan sebuah tari yang tak terikat melodi apapun.
Tak perlu ada pemain musik, masing-masing dari kami sudah seirama dalam menggumamkan nadanya. Urutan not dan temponya sudah melekat erat dalam ingat.

Untukmu, penari yang tak pernah lelah mengajakku bergerak.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting