Kamis, 07 Agustus 2014

Dulu pernah

"Apa kabar?" ucapmu sambil mengulurkan tangan, berharap aku akan menjabatnya hangat. Senyummu melengkung formal, aku bahkan tak tau apa kamu benar ingin tau seperti apa kabarku atau ini hanya pemanis perjumpaan kita setelah sekian tahun.

Apa kabarku? Singkatnya, melodiku mengalun sendiri tanpa syair. Ada bait lagu yang hilang saat kamu pergi tapi aku tak mungkin merengek meminta belas kasihanmu sekarang, kan? Terutama setelah aku mampu berdiri di atas kedua kakiku lagi.

Aku membalas dengan senyum kaku. Kamu menarik uluran tanganmu, "Everything's changed, you know."

'Not everything. Many but not all of them.'

"Dulu kamu enggan mengganti gaya rambutmu. Apalagi warnanya." katamu sambil menatapku yang berusaha melihat ke arah lain.

'Dulu kamu pun pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan aku.'

Usahamu menganggap semua baik-baik saja berhenti, seperti tau bahwa ada suatu yang belum selesai di antara kita. "Kamu belum bisa memaafkanku?"

"Kamu berharap aku bisa?" kini ganti aku bicara. Kegigihanku untuk tetap membiarkan sunyi menemanimu tak perlu diteruskan lagi. "Setelah apa yang kamu lakukan. Kamu berharap aku bisa memaafkanmu?"

--

Kamu pernah menjadi bagian dari tiap doa yang tak putus aku lantunkan ke atas langit. Dulu, waktu aku masih percaya tentang kekuatan Maha Besar yang mengatur perputaran Bumi.

Aku pernah menunggumu tanpa pupus. Aku pernah menantimu mengalahkan penat yang membisikkan caci tak henti-henti. Dulu, waktu aku percaya bahwa kita diciptakan untuk bersatu.

Kita pernah saling berjanji bahwa apapun yang datang tak akan memisahkan.

Kita pernah saling mengikat diri dan berjanji bahwa tak ada lagi celah yang bisa dimasuki siapapun kecuali kita.

Kini setelah semua gugur satu-satu, meranggas kala jarak menyelinap dan menarik kita jauh berlawanan arah. Apa yang bisa aku kata, Sayang?

Kamu pernah jadi segalaku, kini tak lagi.

Aku pernah menunggumu, kini pun sama.
Aku menunggu kamu bertemu karmamu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting