Sabtu, 30 Agustus 2014

Dialog sunyi

"...karena jarak terjauh adalah jarak antar dua hati."

Sisi Azurea.
Fian mengetik sejak tadi, pantulan monitor tampak di kacamatanya. Sudah lebih dari setengah jam aku memperhatikan matanya yang bergerak menyusuri baris-baris angka, di waktu yang sama aku merasa kalah saing dengan entah apa yang sedang dilakukannya. Coklat panas di cangkirku sudah mendingin, rasanya pun tak membuat aku berselera. Hanya perilaku Fian yang menguras perhatianku, sikapnya akhir-akhir ini yang bekerja gila-gilaan seolah menghindari interaksi denganku. Mungkin tiga tahun membuat segalanya terasa hambar, mungkin tiga tahun cukup untuk Fian merasa tak menginginkanku seperti dulu.

Mungkin aku harus memikirkan ulang rencana kami saling mengikat lebih erat dari ini.

Sisi Fian.
Azurea meneguk coklat panasnya, kekasihku ini masih saja terlihat cantik bahkan usai kerja seharian. Rambut Rea terurai melewati pundaknya, hitam tanpa sentuhan macam-macam. Aku harus menahan diri, segera aku mengalihkan pandang ke tumpukan file pekerjaan sebelum tergoda untuk mendaratkan kecupan di kening Rea. Atasan baru membuat deadline gila dalam menyelesaikan proyek yang tak sampai dua minggu aku kerjakan, masih banyak yang harus kuselesaikan walaupun sudah seminggu jumlah waktu tidurku tak sampai empat jam. Tapi aku membutuhkan pekerjaan ini, sebentar lagi Rea akan menyandang nama belakangku, tak akan aku membiarkannya turut berpusing soal biaya hidup kami.

Apapun, apapun akan kulakukan demi membahagiakan Rea.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting