Senin, 25 Agustus 2014

Bulan dan Braga

"Berapa lama lagi untuk keberangkatan travel yang selanjutnya, Mbak?" Bulan bertanya pada penjaga loket travel yang asik mengunyah permen karetnya. Sebenarnya Bulan merasa jengkel pada lagak si penjaga loket yang sejak tadi melayani tanpa sekalipun menyapa, malah asik mengobrol dengan entah siapa di ponselnya, dengan speakerphone pula.

Si penjaga loket memberikan raut masam, "Belum tau, mobilnya kena macet di tol," katanya cepat-cepat lalu kembali ke pembicaraan seru di ponselnya.

Bulan menghela napas panjang, enggan membuang energi meladeni si penjaga loket. Di Indonesia, kaum menengah biasanya banyak menoleransi perilaku-perilaku semi kurang ajar yang ditampilkan penjual jasa. Berbeda dengan masyarakat kelas atasnya, jangan harap bisa selamat kalau bertindak tidak hormat. Sambil memandangi tiket travel yang sudah di tangan, sesuatu terlintas di benaknya tiba-tiba.

"Mau kemana neng (neng: panggilan untuk menyapa perempuan muda dalam bahasa Sunda)?" tanya supir taksi sesaat setelah Bulan duduk di jok belakang.

Bulan menggigit bibirnya, "Braga, Pak." jawabnya setelah meyakinkan diri sendiri. Keputusannya bisa jadi akan menyakitinya, sudah lebih dari dua tahun sejak Bulan memutuskan bahwa jalan lawas yang menjadi daya tarik pelancong itu menjadi haram baginya untuk dilewati.

Taksi melaju lambat. Pada akhir minggu Bandung memang berubah menjadi lautan mobil berplat B yang hendak melepas penat dari racauan polusi dan ramai ibukota. Degup jantung Bulan tak turut memelan, malah semakin kencang dengan semakin dekatnya dengan tujuan.

"Braga dimananya, neng?" supir taksi bertanya lagi setelah plang hijau bertulisnya 'BRAGA' terlihat dari kejauhan.

"Lewatin aja jalannya, Pak." jawab Bulan tanpa menyebutkan tempat yang spesifik. Sebenarnya dia memang tak ingin kemana-mana, Bulan hanya ingin melalui Braga yang sisi-sisi jalannya seperti biasa banyak diisi oleh pejalan kaki. Beberapa adalah turis asing yang memang lebih suka berjalan kaki ketimbang naik taksi, sisanya adalah turis lokal yang kebanyakan terpaksa berjalan kaki karena ingin berfoto dengan bangunan-bangunan bergaya lama yang ada di sepanjang jalan.

Taksi yang bergerak menyusuri jalan Braga memberikan sensasi aneh di perut Bulan. Ada yang membuatnya ingin tertawa tiba-tiba tapi niat itu diurungkannya karena khawatir disangka gila. Braga pernah tempat favoritnya, Bulan pernah melangkahkan kaki ringan sembari tertawa di trotoar berwarna kemerahan yang ada disana. Dingin Bandung malam hari pernah ditaklukkannya hanya dengan kaos oblong dan celana pendek, di dekapan Fidi. Ada hangat yang mengalir melalui dada Bulan, menyebar ke seluruh area di tubuhnya, dia pernah sebahagia itu.

"Balik lagi ke pool travel yang tadi ya Pak," ucap Bulan setelah ujung jalan Braga tampak di depan matanya. Nafas ditarik Bulan sangat panjang, seolah ingin menyimpan udara Braga sebelum pulang. Beberapa adegan berputar di dalam kepalanya, kecup-kecup mesra dan dekap erat membuatnya tersenyum sendirian.

Bulan harus mulai mengumpulkan kenangan-kenangan manis itu. Setidaknya kenangan-kenangan itu membuatnya bertahan selama beberapa jam ke depan. Kenangan-kenangan yang akan melindunginya dari patah hati yang akan melumatnya tanpa ampun petang ini.

Bulan akan pergi, ke pesta pernikahan Fidi.
Tidak, Fidi tidak meninggalkannya. Fidi tak pernah mau.

Bulan yang memintanya pergi dan menyudahi perselingkuhan mereka.

1 comments:

Anonim mengatakan...

Jadi terinspirasi bikin puisi:

Kalau mau membaca, tidak sulit memahami.
Seingin itu aku memahami, sehingga nyeri saat kamu meludahi.
Dengan tak mau sampaikan fakta dan sebut aku dengan sesuatu yg kubenci.
Aku mungkin tidak belajar psikologi, tapi aku tahu lebih baik sendiri daripada terus tak dipercayai.

 

Template by Best Web Hosting