Senin, 21 Juli 2014

Tuan tak sendiri

"Berapa lama lagi waktu kita?" ujar Tuan sembari menatap Nona yang memandang ke luar jendela. Memandangi kekasihnya dari samping selalu bisa membuat napasnya terulur satu-satu.

Sang Nona menoleh, berkata pelan, "Tak sampai satu purnama."

"Lalu apalagi?" langkah Tuan tertahan, tak berani mendekat. Dalam hati Tuan memaki dirinya, betapa dia pengecut dan takut mendengar jawaban dari pertanyaan yang diajukannya sendiri.

"Kita akan terpisah seperti sebelumnya. Kamu di duniamu, pun aku. Segala tentang kita akan menjadi abu." nada Nona datar menjawab, tak ada lengkung senyum pun gurat khawatir di wajahnya.

Sinar matahari yang menyelinap masuk melalui ventilasi jendela tiba-tiba terasa membakar kulit. Detak jantung Tuan seperti berlomba memompa isi dadanya agar pecah berhamburan ke luar. "Hanya itu?" katanya. Sedetik kemudian Tuan memaki dirinya lagi, dia sendiri memancing jawaban yang tak ingin didengarnya.

Nona mengangkat bahu, "Selalu ada lebih dari satu kemungkinan. Kalau kita tak terpisah usai satu purnama, aku khawatir kita akan mengalami yang terburuk."

'Adakah yang lebih buruk dari terpisah denganmu?' ujar hati Tuan berbisik.

"Kita akan bersama selamanya. Aku tak bisa melupakanmu. Kamu tak bisa meninggalkanku. Kita akan saling mengisi hidup satu sama lain, kita akan terus merindui satu sama lain, kita akan saling mengharapkan satu sama lain." Nona menjawab lagi, pandangannya mengarah lurus pada sepasang mata Tuan.

Tuan mengatur napas agar tak bicara terbata-bata. "Bagaimana bisa kamu berkata itu adalah kemungkinan terburuk?"

Mendengar reaksi Tuan, Nona memandang tak mengerti. Sudah hilangkah akal Tuan di depannya hingga ingin menyalahi aturan langit. "Karena kita tidak diciptakan untuk satu sama lain?" balasnya dengan nada menggantung.

"Baiklah." Tuan menutup pembicaraan, merapikan pakaian dan bergegas pergi. Kalau lebih lama lagi dia disitu, Nona pasti akan menganggapnya gila.

Ruangan sepi beberapa saat.

Nona menangis sendirian. Tamengnya ambruk begitu Tuan melangkah keluar ruangan, susah payah dia berpura-pura tegar saat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuan.

Tuan tak pernah tau, bukan dia sendiri yang ingin menentang keputusan langit.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting