Kamis, 10 Juli 2014

Dua kali tiga ratus enam puluh lima hari

Pagi dingin yang biasa, aku masih berpiyama dengan rambut panjang yang tergerai acak. Kamu datang dengan handuk melilit di pinggang, "Sayang, katakanlah kita berjauhan. Aku tak akan bisa memelukmu semalaman atau memijat pundakmu saat kamu mengeluhkan kedatangan tamu bulananmu. Bagaimana kamu yakin aku masih mencintaimu?"

Saat itu aku tengah mengolesi lembaran roti dengan selai sarikaya, kesukaanmu. Sejak berkuliah kamu selalu melewatkan sarapan, hingga sekarang pun mengisi perut di pagi hari bukan kebiasaanmu karena itu aku menyiapkan kantong kertas di laci dapur. "Aku tidak pernah tau, Sayang. Kenyataannya, aku bahkan tidak pernah tau perasaanmu yang sebenarnya." kini tanganku berganti memasukkan setangkup roti yang akan jadi makan siangmu ke dalam kantong kertas, lalu menulisinya dengan pesan singkat seperti biasa.

Langkahmu mendekat hingga jarak kita tak sampai semeter antara satu sama lain. Kamu membuka laci dapur, mencari-cari sesuatu. "Ngg.. sayang,"

"Kopi pagimu sudah ada di atas meja, kuletakkan bersama dengan koran pagi ini. Oh, ada surat-surat yang datang untukmu di akhir pekan kemarin," ujarku tanpa harus menunggu kamu menyelesaikan kalimat.

Usai mendengarku bicara banyak, kamu tertawa. "Aku lupa kamu bisa membaca pikiranku,"

"Aku hanya mencintaimu, Sayang. Itu lebih dari cukup."

Kamu membalik tubuhku, lalu memberikan kecupan kecil. "Aku minta maaf tak bisa datang malam ini. Hadiah untukmu akan kukirimkan..."

"Simpan saja hadiahnya. Oh, ini bekal makan siangmu." aku menggigit lidahku setelahnya, menahan diri agar tak bicara sembari menangis sesenggukan. Tiba-tiba ada nyeri menjalar di ulu hati milikku.

Kamu memelukku erat, "Selamat peringatan dua tahun pertemuan kita, Sayang. Aku akan lekas kembali padamu."

Iya, tentu saja kamu tak akan pernah ada saat peringatan hari pertemuan kita karena di hari yang sama tunanganmu berulang tahun dan kamu harus ada di sampingnya. Lagipula, kita pertama kali bertemu di pesta ulang tahunnya.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting