Jumat, 06 Juni 2014

Slap, ouch!

Ada saat-saat dimana aku ingin kamu pergi saja, lenyap bak asap api unggun yang kita bakar saat dingin menusuk-nusuk kulit di puncak gunung. Aku ingin kamu lekas hilang, tanpa memberikan lebih banyak lagi goresan-goresan yang kelak harus kubereskan sendiri.

Tapi pelukmu terlampau hangat untuk dilepaskan, senyummu terlampau memabukkan, dan kecupmu. Ah, Tuhan tau seperti apa aku menggilai kecupmu yang tak henti menyusuri tiap inci tubuhku.

Maka aku kemudian memilih untuk diam tinggal di sisimu. Menikmati detik-detik kepunyaan kita sembari menghitung mundur sisa waktu yang tergerus. Menikmati gores-gores yang terus menerus bertambah, berdamai dengan kenyataan, menyatu dengan sakitnya.

Sekarang terserahmu, Sayang.
Ceritanya akan berakhir sama bagiku.

--
Dibuat usai ditampar Kak +Tyas Suci dengan kutipan: “Sometimes you must forget what you feel and remember what you deserve.”

Belum selesai, tamparan lanjutannya adalah: "...kadang manusia emang harus ditampar berkali2 biar sadar, Ul."

Well said,

1 comments:

ONI -simple page mengatakan...

nice words..

 

Template by Best Web Hosting