Senin, 09 Juni 2014

Loyalty

Kamu datang dengan wangi yang selalu membuat degupku menjadi tak beraturan selama beberapa detik awal pertemuan. Kalau ini terjadi dua tahun lalu, maka langkahmu selanjutnya adalah mendekati aku yang tersenyum malu-malu, mendaratkan sebuah kecupan kecil. Sayangnya kita tidak hidup di masa lalu, Ji.

"Kamu apa kabar?" tanyamu melemparkan senyum formal.

Kaki-kakiku mengetuk tak sabar di bawah meja, aku ingin selekasnya pergi dari sini. "Baik. Apa yang mau kamu bicarakan?"

Aji--nama pria yang duduk di depanku--nampak terkejut namun langsung berusaha menguasai dirinya lagi, "Tahun ini aku akan menikah, Re."

"Congratulation then," ujarku sembari mengatur isi kepala yang berantakan tiba-tiba, memberikan sensasi berputar yang membuat pening. "I am happy for you,"

"Kamu mau menikah denganku, Re?"

--
Aku menghela napas, mengumpulkan kata-kata yang seolah berkumpul di dalam rongga perutku. Kami berdua tak ada yang bicara setelah Aji menanyakan sesuatu yang menjadi perkiraan terakhir kalimat yang keluar dalam pertemuan kami siang ini.

"Ji, I can't. We're over for a reason." Klise. Aku tak bisa memikirkan alternatif respon lain untuk Aji. Ucapan 'kamu terlambat, Ji.' rasanya juga tak bisa memperbaiki keadaan.

Aji menggenggam tanganku yang terkulai di atas meja, "Rea, aku sungguh-sungguh. Keluargaku meminta aku untuk menikah tahun ini. Satu-satunya yang terpikir olehku hanya kamu Re,"

Brengsek. Kupu-kupu yang kukira mati kini mengepak-ngepak dalam perutku, menggantikan sensasi tak nyaman dengan perasaan campur aduk. "Ji. Aku nggak bisa."

"There's someone else?" Tebak Aji penasaran. Matanya meneliti ke arahku yang bingung menjelaskan. Genggaman tangannya mengendur.

Aku menggeleng. "I have no one. Yet." Kemudian menarik tanganku untuk keluar dari genggaman tangan Aji. "Kamu sendiri Ji?"

"I can't imagine spend my life with her. I still love you, Re. And forever will be." Aji menjawab pelan, pandangannya pergi ke sisi lain kafe.

Senyumku mengembang, pahit. Ada luka lama yang terbuka saat Aji bicara. "Ji, forever is a long time. Aku nggak akan bisa tenang kalau bersamamu."

"Rea, aku akan menyediakan semua yang kamu butuhkan. Apapun Re,"

"Kesetiaan, Ji? Selamanya yang aku bayangkan adalah selamanya satu perempuan tidak pernah cukup untukmu. Aku meninggalkanmu karena ada perempuan lain yang menemanimu menghabiskan malam, Ji. Sekarang kamu memintaku hidup denganmu saat kamu memiliki orang lain yang harus kamu jaga perasaannya,"

Aji menatapku tajam, aku telah melukai egonya dan aku sadar ini tak akan berakhir baik bagi kami. "Kamu bodoh Rea. Aku tak akan menawarkan hal ini dua kali,"

"Aku tak perlu penawaran sama sekali Ji. Sampaikan salamku pada mempelai wanitamu," Aku meletakkan selembar uang di atas meja, meninggalkan Aji dengan langkah ringan.



Untukmu, yang terlambat menawarkan 'selamanya' untuk aku tinggali.
Selamanya hanya akan menjadi perangkap kalau kamu tak pernah merasa cukup.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting