Minggu, 22 Juni 2014

Jalan usai hujan

Aku masih menggeliat malas di dalam selimut saat pertama membuka mata dan mendapati kamu sudah berdiri di samping jendela kamar kita. Ada yang mencuri atensimu demikian lama, membuat aku tergerak untuk bertanya. "Apa yang kamu lakukan, Sayang?"

Mendengar suara bangun tidurku, kamu menyudahi kegiatan menatap ke luar jendela sesaat. Hanya sesaat, untuk melemparkan selengkung senyum dan menjawabku. "Hujan membuat jalan terlihat menarik, Sayang."

Ada harga diri yang iri ketika kamu tak beranjak barang sedepa. Aku bangkit dari atas tempat tidur, kakiku terisi oleh energi yang bertanya-tanya semenarik apa pemandangan yang terlihat dari ketinggian sepuluh lantai sampai kamu enggan bergerak kembali padaku.

"Sayang," ucapmu sambil menutupi sebagian tubuhku dengan tirai penutup jendela. Lucu sekali, aku bahkan sudah tak peduli penampilanku yang polos kala itu. Lagipula, siapa yang punya waktu memandangi satu dari ratusan jendela kecil tempat kita bermalam?

Iya, jalanan memang cantik usai diguyur hujan. Aspal menjadi berkilap ditimpa sinar lampu jalan. Di atasnya, mobil-mobil dengan lampu sorot terang menambah kekayaan permainan cahaya. Pantas aku kalah mempesona.

Tanganmu melingkar di pinggangku, kamu menarik aku merapat ke arahmu. Bersamaan dengan itu, kecupan-kecupan kecil memenuhi ruang kosong di punggungku. Kecupan kesukaanku. Kecupanmu. "Kamu baru saja mengalahkan menariknya jalan usai hujan turun, Sayang."

"Benarkah? Karena aku baru saja menyadari bahwa aku mungkin kalah pesona dibandingkan dengan jalan yang membuatmu bergeming disini." ujarku menoleh ke belakang, memagutmu yang sibuk mengecup.

Kamu melepaskan ciuman yang aku berikan beberapa detik, "Setiap lelaki pernah menjadi bodoh, Sayang. Maafkan kebodohanku barusan." lalu memagut sepasang bibir yang sekarang tersenyum perlahan malu-malu.

Apa? Malu?
Lucu sekali. Setelah tampil polos di depanmu, aku masih bisa merasa malu. 

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting