Sabtu, 28 Juni 2014

Don't sick! #Indramayu

Terhitung dari tanggal 20, saya (dan dua puluh orang lain yang menjadi teman sekelompok saya) sedang menjalani satu mata kuliah yang mengharuskan saya untuk tinggal selama satu bulan di sebuah desa kecil di Kabupaten Indramayu.

Kami tinggal di sebuah rumah yang cukup bagus (kalau dibandingkan dengan rumah penduduk pada umumnya). Rumahnya sudah berdinding tembok (bukan anyaman bambu) dan berlantai (bukan beralas tanah). Kamar mandinya pun sudah baik (mengingat masih ada penduduk disini yang mandi di sungai yang bersamaan dengan itu airnya digunakan untuk mencuci peralatan masak dan buang air). Jadi, saya harus banyak-banyak bersyukur dengan bangunan yang menjadi rumah saya selama satu bulan ini :)

Pagi ini, saya mengantar teman saya yang kebetulan sedang tidak enak badan ke puskesmas pusat di desa tetangga. Kami harus pergi ke desa sebelah karena memang di desa kami hanya tersedia puskesmas pembantu yang diisi oleh seorang perawat (orang yang memiliki gelar sarjana keperawatan meskipun beliau memberikan obat-obatan untuk sakit ringan).

Sesampainya kami disana, hati saya sedih setelah terkejut oleh yang disebut sebagai 'puskesmas pusat'. Ternyata di puskesmas pusat, tenaga dokter pun tak tersedia. Di poli umumnya hanya ada seorang perawat (atau bidan, saya tak tau pasti karena menunggu di luar) yang bertugas memeriksa dan meresepkan obat.

Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya menjadi masyarakat yang tinggal disini. Boro-boro mau diperiksa oleh dokter spesialis, dokter umum saja ogah buka praktek disini. Boro-boro mengerti soal psikosomatis kalau jantung koroner dan pneumonia saja belum tentu ditangani tepat waktu.

Fasilitas kesehatan mahal, tenaganya apalagi.
Setelah bertahun sekolah dan membayar sekian ratus juta, kenapa harus duduk diam dan menangani masyarakat yang masih menjemur nasi sisa untuk dimakan esok hari, kan?

Jakarta kelewat terang, sinarnya menyilaukan. Saya adalah satu yang terkena silaunya.
Masyarakat sini tak tau asiknya nonton film sembari duduk di ruang dingin ber-AC. Masyarakat sini sibuk berpikir bagaimana agar sawah mereka tak terserang hama dan anak istrinya bisa makan layak. Tiba-tiba saya jadi merasa manja sekali saat mengeluh tentang lelah berkuliah pagi sampai sore di panasnya cuaca Jatinangor.

Saat begini, mencegah lebih baik ketimbang mengobati rasanya menjadi peribahasa yang tepat untuk diturunkan antar generasi di daerah ini. Mereka tak boleh sakit, tak boleh! Sebab tak ada yang ma(mp)u mengobati mereka.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting