Kamis, 05 Juni 2014

Denganmu.

"Kamu tau permen jelly warna warni yang aku suka?" tanyaku sambil berjalan di sebelahmu, menyusuri trotoar sepanjang Braga. Hari sudah larut, tapi lalu lintas Braga masih jauh dari kata sepi.

Kamu langsung mengangguk. "Permen yang selalu tersedia di tasmu? Aku tau. Kamu suka varian tanpa taburan gula, kan?"

Aku tertawa menutupi ketersanjungan karena tidak pernah berekspektasi kamu begitu memperhatikan. "Iya. Gula membuatnya jadi terlalu manis. Aku bisa diabetes." tukasku beralasan. Sial! Kamu tak boleh melihat semu yang membuat pipiku memanas.

"Dan ayahmu adalah penderita diabetes," lanjutmu lagi. Sambil tetap memandang ke depan, kebiasaanmu saat sedang berjalan. Ya, kamu akan memandang ke depan dan mengingatkan aku yang tak bisa memusatkan penglihatan lurus saat berjalan.

Aku menoleh, kamu begitu dekat sampai tangan kita beberapa kali saling menyentuh saat berjalan beriringan. Tidak, genggaman tangan bukan interaksi favoritmu, setidaknya tidak di tengah keramaian. Untuk alasan yang kedua, kamu--pun aku--sangat tau alasannya. "Kalau ada yang menawarkan aku permen jelly satu kontainer untuk ditukar denganmu, aku tak akan pernah menyetujuinya."

"Kamu harusnya setuju," katamu datar.

Aku menggeleng yakin, "Aku bisa diabetes," ucapku mengulang kalimat beberapa menit lalu. Sesungguhnya aku tak peduli soal diabetes, satu kontainer permen jelly warna-warni tak sepadan denganmu.

Bahumu terangkat, "Yaaa kan nggak harus dimakan. Kamu bisa jual trus kamu beliin rumah, kalau cukup bikin juga kolam renang di halaman belakangnya,"

Dalam hati aku tertawa, kamu memang begitu dari dulu, kelewat realistis. Anehnya, itu yang aku suka darimu. Kamu selalu tau kapan harus menyeretku kembali ke dunia nyata usai terperangah dengan dongeng-dongeng yang aku baca. Dalam beberapa hal, kita memang berbeda. Aku bahkan merasa beberapa bukan kata yang tepat, kita berbeda dalam banyak hal. Namun perbedaan-perbedaan itu tak membuat aku berhenti jatuh cinta, aku tak tau pasti denganmu. "Denganmu, aku bisa meraih yang lebih dari itu."

Langkahmu terhenti sesaat, kamu menoleh dan melemparkan senyum ke arahku yang membalasnya dengan tawa ringan.

Tak ada kalimat yang menjadi lanjutan percakapan kita malam itu, sisanya hanya aku yang tak berhenti didera kebahagiaan sembari mengumpulkan potongan-potongan senyum dan tawamu.

Sayang, taukah kamu bahwa aku akan melakukan apapun untuk tetap membuatmu tersenyum dan tertawa?

--
Denganmu, aku bisa meraih yang lebih dari itu.

Aku tidak akan bersama denganmu untuk selamanya.
Di dunia ini, mungkin cuma aku, kamu, dan Tuhan yang tau alasannya.
Selamanya (yang tak pernah kamu percaya keberadaannya) tidak tersedia untuk kita cicipi.

Tapi Sayang, aku tak merasa membutuhkan selamanya karena saat kamu ada di dekatku, aku seperti mampu mengunci memori dan segala yang ingin aku simpan sampai nanti nanti.

Aku sudah mengubur keinginan untuk selamanya bersamamu sejak pertama kali memutuskan untuk jatuh dan berbahagia di sampingmu.

Aku sudah mati-matian meyakinkan diri bahwa denganmu segalanya akan berjalan singkat dan harus aku sudahi.

Denganmu, takut dan cemasku seolah mati.
Denganmu, aku bisa melakukan segala, aku bisa menghidupkan mimpi-mimpi yang ada.
Denganmu, aku belajar menghargai saat ini.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting