Rabu, 18 Juni 2014

Culture Festival

Sejak kecil, saya suka sekali datang ke festival (meskipun festival yang pertama kali dan hampir setiap tahun saya datangi dulu cuma Bobo Festival). Hehehe. Bagi saya yang ekstravert ekstrim, keramaian selalu saja menjadi sarana charging diri saya di tengah penat perkuliahan. Makanya meskipun di tengah minggu UAS (Ujian Akhir Semester), saya mengiyakan ajakan Uti untuk pergi ke festival budaya.

ps: almost all pictures are taken by Lidya

Welcome!

Peran Raja-Ratu paling menjiwai!


Putri-putri Mesir adalah peserta paling ramah, bahkan waktu istirahat mereka masih mau diajak berfoto
Awalnya saya mengira acaranya diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, ternyata festival ini diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi di universitas saya. Saya pribadi (hampir selalu) salut deh sama mereka kalau soal ide acara cemerlang dan menyenangkan. Oiya, hebatnya lagi acara ini gratis bagi siapa saja yang mau datang (maklum ya, mahasiswi emang suka sekali sama hal gratisan).





Nah, madamoiselle cantik ini yang pertama kali saya ajak foto! Cantik banget abisnya!
Yang menarik dari acaranya? Nggak banyak konten serius yang disajikan tapi kostum warna-warni dan booth yang dihias sesuai dengan tema masing-masing budaya menjadi ketertarikan tersendiri bagi pengunjung yang ogah disodori konten serius macam saya.

Para peserta festivalnya dengan senang hati diajak berfoto atau ditanya seputar budaya yang mereka tampilkan. Saya sendiri belajar beberapa kata dalam bahasa asing dan mencicipi makanan khas yang disediakan cuma-cuma disini (tuh kan gratisan lagi)


Ini rombongan dari Tiongkok, rajanya sangat humble sampe pake swallow :))

Rombongan India saya rasa yang narinya paling oke, yaiyalah!  


Cappati (did I spell it right way?), roti yang terbuat dari gandum dan dimakan dengan dicelupkan ke kuah kari India

Sunda! Baju dengan ornamen paling ribet. Saya bangga!



Republik Fiji!

Mas yang ini, waktu diajak foto dia bilang, "Tapi harus seneng ya mukanya kalo mau foto.."


Tiap kali datang ke acara bertemakan budaya, saya selalu saja ingin membuka mata banyak orang bahwa perbedaan itu asik dan menyenangkan. Untuk apa sih menyamakan semua hal? Bukankah pelangi hilang pesona kalau warnanya sama?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting