Sabtu, 31 Mei 2014

Kehilangan kah?

Tidak semua dalam post ini adalah kejadian nyata.
Well, saya berbohong kalau menyebutkan bahwa keseluruhannya adalah fiksi.

Setiap fiksi yang dituliskan oleh penulis adalah pengalaman nyata yang pernah dialaminya. Pertanyaannya hanyalah berapa proporsi dari kenyataan yang diijinkannya untuk dibagi bersama pembaca, bukan? :)

--
"Ada yang ingin kamu lakukan malam ini?" tanya seorang sahabat saya via chat platform yang sering kami gunakan untuk berkomunikasi. Saya menjawab bahwa malam ini saya ingin sendirian saja, sedang tak berselera melakukan apapun.

Sebenarnya tak berselera melakukan apapun bukan istilah yang tepat. Saya kehilangan selera terhadap apapun. Saya kehilangan selera makan dan tidak merasa lapar walaupun tidak makan seharian, satu-satunya alasan makan saya adalah paksaan dari sahabat saya yang lain. Lucu sekali, padahal menurut teori kebutuhan Maslow, makan adalah kebutuhan dasar manusia yang cenderung lebih dulu dipenuhi dibandingkan kebutuhan lainnya.

Saya kehilangan selera tidur. Malam bukan lagi waktunya saya terpejam dan tidur, saya tak tergerak sedikitpun untuk beristirahat. Jari-jari saya enggan berhenti mengetikkan kata-kata yang berakhir jadi draf. Kepala saya enggan berhenti memikirkan banyak hal, bukan cuma hal-hal yang berkaitan dengan benda dan situasi, tapi juga seseorang.

Saya kehilangan selera belajar. Begitu hari terang, kantuk hebat menyerang. Jadilah saya memenuhi hasrat tidur dan melewatkan banyak kelas yang biasanya menggugah saya. Setelah lebih dulu 'menghadiahi' saya dengan omelan, sahabat saya akhirnya setuju untuk menandatangani daftar presensi supaya saya tetap diijinkan mengikuti ujian akhir. Entahlah, banyak teori yang sebelumnya membuat saya bertanya-tanya tiba-tiba kehilangan pesona. Saya hanya ingin menghabiskan terang hari di dalam selimut dan tirai tertutup.

Saya kehilangan hasrat menuntaskan tantangan. Tumpukan tugas yang biasanya menjadi lawan saya kini saya biarkan menang. Saya tak lagi tergerak untuk menyelesaikannya, saya letakkan saja di dalam kepala saya tanpa keinginan untuk memikirkannya. Rasa-rasanya otak saya pun kehilangan seleranya bekerja. Semua stagnan.

Pertanyaan 'kenapa' dan 'ada apa' hanya saya balas dengan senyum simpul, saya tak ingin memulai cerita apapun. Saya hanya ingin melakukan apa yang saya rasa nyaman karena saya merasa kehilangan sesuatu.

Sebentar, patutkah dinamakan kehilangan sesuatu kalau sejak awal saya tak pernah memilikinya?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting