Kamis, 22 Mei 2014

Digantungin (?)

Semester ini, para mahasiswa semester 6 di kampus saya sering sekali mengeluh satu sama lain. Bahan pembicaraan (keluhan .red) yang cukup sering terdengar adalah 'partisipan'. Contoh pembicaraannya begini:

"Udah dapet berapa partisipan?"
"Eh, partisipan kelompok lo udah cukup belum?"
"Duh, partisipan gue pada ngebatalin nih."
dll dsb dst.

Sebelum curhat ini berlanjut, saya akan lebih dulu menjelaskan apa yang disebut dengan partisipan:

Partisipan (atau yang dahulu biasa disebut dengan subjek pemeriksaan) adalah seseorang yang berpartisipasi dalam sebuah penelitian (Hamilton, 2007).

Di semester ini (yang memiliki mata kuliah pratikum terbanyak), kami dibekali dengan kemampuan mengadministrasikan pemeriksaan psikologi (biasa dikenal sebagai psikotes) klasikal (bersama-sama; bukan individual) sesuai dengan standar yang berlaku.

Dalam melakukan pratikum, ada beberapa ketentuan bersifat teknis yang harus dipenuhi oleh kami. Dari semua persiapan teknis yang harus kami siapkan, hal yang dirasa cukup sulit dan menegangkan (lebay lu, Ul!) adalah menghadirkan partisipan.

Dalam tiap pratikum, satu kelompok (beranggotakan tiga sampai empat orang) WAJIB menghadirkan MINIMAL 8 partisipan. Kata WAJIB dan MINIMAL berarti dosen pembimbing memiliki hak untuk membubarkan pratikum kalau jumlah partisipan kelompok yang hadir kurang dari 8. Hiks!

Pratikum diadakan mulai pukul 8 pagi sampai 14 siang, kami harus mencari orang yang sukarela datang untuk mengikuti pratikum selama 6 jam. Dimulailah petualangan mencari partisipan, mulai dari jalur teman-dekat, teman-biasa, sampai teman-jauh-yang-hampir-nggak-kenal. Mulai dari mempersuasi, meminta, sampai memaksa (becanda deng, hehehe).

Menurut saya pribadi, yang paling menyebalkan dari proses pencarian partisipan bukanlah tahap persuasi namun tahap persetujuan. Mengapa?

Pada tahap persetujuan, saya (dan banyak teman-teman senasib lainnya) cukup sering mendapat jawaban yang tidak pasti (Insya Allah; liat nanti ya; belum tau tapi pingin; liat besok ya; dll dsb dst). Jawaban ini bagi saya cukup menyebalkan karena saya merasa digantungkan, padahal cukup banyak hal yang harus saya persiapkan, misalnya jumlah alat tes dan jumlah konsumsi untuk sarapan dan makan siang partisipan.

Saya (sebagai sulung yang sekaligus Aries (?)) sangat tidak menyukai ketidakpastian (dalam hal apapun, termasuk hubungan intim. Ciye. Curhat.) Maka dari itu, saya selalu meminta kepastian dari partisipan saya (serius deh, ditolak itu nggak lebih menyakitkan dari digantungin. Ciye. Curhat).

KESIMPULAN:
Lain kali kalau ada mahasiswi Psikologi yang minta kesediaan kamu untuk jadi partisipan dan kamu nggak mau/nggak bisa/nggak minat, lebih baik kamu tolak aja dengan kalimat yang jelas daripada kamu gantungin.

Ingat ya, nge-gantungin dalam konteks pratikum aja nggak boleh, apalagi konteks yang lain (?)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting