Senin, 19 Mei 2014

(Bukan) karena kamu tetap mencintaiku

"Kamu tau, aku pernah membaca tulisan seseorang tentang perempuan yang layak dan tidak layak untuk dinikahi." ucapku suatu ketika.

Kamu ada di belakangku, memeluk erat sambil sesekali menghadiahi pundakku dengan kecupan-kecupan lembut. "Biar kutebak, ini soal cara berpakaian lagi? Atau ritual keagamaan? Atau.."

"Katanya, perempuan yang bangun siang tak layak dijadikan isteri. Katanya, perempuan yang bangunnya siang tak pantas ditemani sehidup semati," aku memotong ucapanmu yang bernada sinis.

Tawamu terdengar, membuatku penasaran. Aku membalik badan, kini hanya beberapa inci di depanmu. "Nala, kamu tau kan dunia ini dibangun oleh banyak sekali opini. Perempuan seperti apa yang layak dan tidak dinikahi, lelaki seperti apa yang pantas dan tidak untuk dijadikan pasangan hidup."

Aku tau, aku sangat tau itu. Tapi yang sebenarnya ingin aku tanyakan adalah...
"Lalu, bagaimana menurutmu?"

"Sebentar, kenapa kamu menanyakan ini?" tanganmu merapikan gerai rambutku yang menutupi sebagian wajah. "Boleh aku tau alasannya?"

Sunyi menyelimuti ruangan. Aku tak sampai hati bicara. Hanya tersenyum simpul, memintamu menjawab. Aku kelewat malu menyatakan ada apa di balik pertanyaanku malam ini.

"Kamu tau aku baru bangun dekat tengah hari, kan? Kamu tau alasannya?"

Siapa yang tidak tau, kamu bekerja semalaman bahkan usai waktu kerjamu. Kamu terlalu mencintai baris-baris kode di layarmu, hingga lupa waktu istirahat. "Tapi kamu bukan perempuan,"

"Iya, sayang. Maksudku begini, kalau kamu menanyakan pendapatku karena kebiasanmu bangun siang maka aku akan menjelaskan. Pertama, kamu harus tau bahwa aku akan tetap mencintaimu terlepas dari jadwal keseharianmu. Kedua, sama sepertimu, aku tau alasan dari jam bangunmu."

"Tapi aku tak akan pernah membuatkanmu sarapan." saat mengatakan ini, ada sebait kalimat mama yang terngiang dalam kepalaku, 'Laki-laki itu kasih sayangnya ya dari perut, nduk. Baru kemudian ke hati dan pikirannya.' makin menyudutkan aku yang tolol dalam masak-memasak.

"Dan aku tak pernah merasa merasa perlu dibuatkan sarapan olehmu. Kita bisa bangun dan langsung bersiap bekerja, setelah mampir untuk makan siang di manapun kamu mau." kamu menjawab sembari berkelakar, memainkan rambutku yang tergerai acak di samping kepala.

Kecupan-kecupan lembut mendarat lagi di pundakku. Aku tertawa haru mendengar jawabanmu barusan, "Hahaha. Aku merasa bodoh sekali. Kenapa juga aku harus memikirkan soal kriteria calon isteri yang baik."

"Karena aku akan tetap mencintaimu, Nala."

Sekarang aku menggeleng, "Karena kita tidak akan menikah, Bima."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting