Sabtu, 24 Mei 2014

1220

Lampu-lampu kendaraan merayap pelan sepanjang Braga. Aku yang sedang mengamati terang dari lantai dua belas tersenyum simpul, Braga tak pernah terlihat begini indah sepanjang aku hidup disini.

"Sayang, apa yang kamu lihat?" suaramu menggema dari sisi lain kamar. Mengusik syahdu yang kucipta bermenit lalu.

Aku menoleh, lalu menggeleng pelan. "Hanya jalan dan lampu kendaraan,"

Jawabanku memancingmu mendekat, lalu menyibak tirai demi mendapatkan ruang visual yang lebih luas. "Hujan sudah berhenti, kamu mau makan malam sekarang?"

"Mungkin nanti," jawabku tak menjauh dari jendela. Aku masih ingin menyimpan semua detil visualnya sekarang sebab aku tak tau kapan lagi kita bisa bertemu. "Kamu sudah lapar?"

"Aku harus menjawab ya agar kamu tergerak untuk turun dan makan bersamaku, bukan?"

Aku akan ikut kemanapun kamu pergi, Fiar.

"Riz, ayolah. Kita turun sebentar untuk makan malam, setelahnya kamu bisa berdiri disini selama apapun kamu mau,"

Mendengar argumenmu aku tertawa, "Fiar, aku punya semalam untuk dihabiskan bersamamu. Aku pasti gila kalau memilih untuk berdiri di sisi jendela dan membiarkan kamu tidur sendiri,"

Fiar tersenyum dan mendekat, lalu mengecup pipiku singkat. "I know you are smart one, hon."

Tapi kamu bisa membuat akalku berhenti, Fiar.
Kamu membuat segala yang disebut pengetahuan lenyap tanpa asap dalam kepalaku dan anehnya, aku menikmati jadi sebodoh-bodoh mahluk di depanmu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting