Minggu, 06 April 2014

Pulang

Kemang, 
Larut malam.

Aku membuka pintu depan, berharap kamu sudah terlelap tidur karena ini empat jam lebih dari waktu pulang yang aku janjikan. Semoga kamu sudah terlelap adalah harapan yang egois sebenarnya. Aku berharap kamu terlelap agar aku tak perlu merasa bersalah kalau-kalau kamu menunggui aku yang ingkar janji.

Lalu disana kamu, duduk diam dengan setelan baju tidur di hadapan layar dan berbaris-baris kata yang menjadi bagian dari pekerjaanmu. Bukan, kamu bukan sedang menulis. T
entang tulis menulis, aku bisa berbangga bahwa aku lebih pintar merangkai kata-kata dibanding kamu.

"Maaf aku terlambat, besok ada klien yang tiba-tiba minta meeting pagi jadi malam ini aku harus menyiapkan semuanya. Kamu tau kan atasanku yang baru tidak memiliki kehidupan lain di luar kantor jadi dengan bodohnya dia menganggap hidupku sama menyedihkan dengan kehidupannya." aku bicara dengan nada naik turun, hampir mengumpat karena di saat yang bersamaan heels-ku sulit dilepas.


Terdengar bunyi berirama yang aku suka,hasil perpaduan jari-jari dan tuts keyboardmu."Bagaimana dengan makan malammu?"

"Belum. Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya cepat menyelesaikan meeting dan pulang."

Kamu memutar kursi, menatapku dengan pandangan lucu. "Kamu tau bahwa aku akan tetap menunggu, kan?"


Aku mendekat, menyibakkan rambut yang tak kalah berantakan dengan suasana hatiku sebelum bertemu kamu. "Tak peduli kamu menunggu, aku selalu ingin bisa secepatnya pulang kepadamu." ucapku sambil kemudian membungkukkan diri dan mendaratkan sebuah kecupan singkat.

Kamu menahan pinggangku yang hendak tegak kembali, "Aku akan selalu menjadi tempatmu pulang, Dina." lalu membalas kecupanku dengan ciuman panjang.

Senyumku tersungging, kalimatmu membuatku melupakan keinginanku beristirahat sebelumnya. Kalimatmu melambungkan asa yang sebelumnya tertutupi oleh kelelahan. Namun seketika, aku sadar kesemuan yang kamu sajikan. "Kamu akan selalu jadi tempatku pulang, Dharma. Tapi aku tidak akan lupa bahwa kamu punya istri dan anak-anak yang selalu jadi tempatmu pulang."

Peganganmu di pinggangku mengendur. Kamu memalingkan wajah, aku sudah sedemikian jahatnya merusak suasana yang sebenarnya bisa berakhir dengan menyenangkan. "Aku tau. Maaf."

"Apa yang perlu dimaafkan? Pada akhirnya kamu akan kembali pada mereka dan meninggalkan aku merana sendiri. Jadi kurasa, bukankah lebih baik kita menikmati waktu yang kita punya saat ini? Bukankah lebih baik aku menghabiskan malam-malam yang bisa kuhabiskan bersamamu sebelum akhirnya kamu kembali tidur dengan ibu dari anak-anakmu?"


Toh akhirnya akan sama saja untukku, Dharma.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting