Sabtu, 12 April 2014

Pagi di Dua Puluh Satu

"Bagaimana rasanya berusia dua puluh satu tahun?" suaramu adalah yang pertama kudengar mataku masih menyesuaikan dengan pilar-pilar cahaya yang masuk menembus tirai kamar kita. Ah iya, hari ini ulang tahunku.

Aku berdehem, berusaha meminimalisir suara pagiku yang tak merdu. "Entah. Aku rasanya lebih memikirkan akan menghabiskan hidup dengan melakukan apa ketimbang dengan bersama siapa."

Kamu menaikkan selimut yang mulai turun ke pinggangku dengan lembut, "Baiklah. Semoga kamu bermanfaat bagi banyak orang. Semoga kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan." lalu diakhiri dengan mengecup keningku.

Ada Amin yang terucap pelan seiring dengan usainya kecupanmu. Aku tau telinga Tuhan peka akan doa-doa hambaNya, tak pernah sedikitpun kuragukan itu.

Satu yang selalu mengganjal bagiku ialah hal apa yang akan dilakukan Tuhan selanjutnya, memilah doa mana yang dikabulkan dan tidak? Kalau begitu, apa yang menjadi pertimbanganNya dalam mengabulkan doa-doa? Seberapa religius hambaNya?

Baiklah, seorang hamba yang kadang meminum segelas dua gelas alkohol dan tidur bersama dengan yang bukan pasangannya sepertinya akan sulit masuk ke dalam kualifikasi hamba yang religius. Tak apa, aku tetap yakin setiap doa terbawa sampai ke ujung langit meskipun tak tau apa yang terjadi setelahnya.

"Kamu nggak kedinginan?" tanyaku mengerlung di dalam selimut sembari memberikan isyarat agar kamu masuk ke dalam selimut dan menghabiskan pagi ini dengan berpelukan daripada duduk mengganti-ganti program televisi yang tak ada menariknya.

Kamu menoleh, "Nggak. Kamu kedinginan? Mau kumatiin AC nya?"

Aku menghela napas, "Kamu nggak sadar bahwa aku sebenarnya minta kamu untuk mendekat dan memelukku?" aku berbalik memunggungimu dengan kesal.

"Aku tau." kamu memberikan celah di dalam selimut dan menggeserkan tubuhmu mendekat. "Aku cuma mau kamu ngomong langsung," tanganmu melingkar di pinggangku, kemudian kecupan lembut terasa di pundakku.

"Don't worry. You are more important than my ego," 

Kamu bangkit dari posisi tidurmu,aku tau karena tanganmu yang melingkar di pinggangku kini membalik posisiku pelan. "You are more important to me, more than anything in this world," ujarmu setengah berbisik di telingaku.

"Then you are lying," giliranku bicara sembari mengecup singkat pipimu. "Let's get up, kamu siang ini ada meeting penting kan? Meeting yang katamu sudah direncanakan beberapa minggu sebelu...."

Suaraku lenyap, terkunci kecupanmu yang kuat dan enggan kulepaskan. Beberapa menit setelahnya aku seperti melupakan banyak agenda yang harusnya jadi alasanku bangkit dan mengawali kegiatan hari ini, tergantikan oleh kuatnya perasaan menginginkanmu lebih lama dari yang bisa kudapatkan.

Di tengah usahaku mengatur napas, aku ingat bahwa sepertinya aku belum mengirimkan doa apapun ke langit. Meskipun aku tak termasuk dalam kalangan hamba yang religius, harusnya Tuhan berbaik hati dengan mengabulkan satu permintaan kecilku.

Benar bukan, tak ada yang terlalu sulit untukNya?

Maka dengan masih saling mengecup mesra, aku membisikkan  pada Tuhan yang kuyakin sedang mengamati kita, aku meminta keberanianmu untuk tinggal di sisiku lebih lama dari selamanya.

1 comments:

Anonim mengatakan...

Kesehatanmu lalu bahagiamu.

 

Template by Best Web Hosting