Rabu, 09 April 2014

Saran Tiana

"Hei," sapaan yang datang dari arah samping membuatku refleks menengok. Tiana.

Aku tersenyum sopan, "Hei. Silahkan duduk," lalu memanggil pelayan untuk mengantarkan buku menu.

Tiana duduk sambil berusaha menguasai dirinya, sangat terlihat bahwa dia pun bingung dengan permintaanku untuk menemuinya siang ini. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan kami akhirnya bisa berlangsung sedemikian tenang.

Usai menyebutkan satu jenis kopi, Tiana langsung angkat suara, "Aku tak pernah mengira kamu akan mengundangku,"

"Well, many things changed," jawabku bersamaan dengan tawa canggung. "Ini salah satu usahaku meminta maaf, untuk hal terakhir yang aku lakukan padamu,"

Giliran Tiana tertawa, "Aya, kalau pertemuan ini adalah soal meminta maaf, maka akulah yang berhutang maaf padamu. Let's move on, shall we?"

"I have already. Don't worry," ujarku sambil memainkan pengaduk kopi di dalam cangkirku. "Na, boleh aku tanya sesuatu?"

Tak sampai satu detik berselang, Tiana menjawab, "Tentangku dan Bagas?"

Aku diam sebentar, "Bukan. Aku sudah menganggapnya masa lalu,". Ada jeda yang aku berikan setelah aku mengucapkan kalimat itu, sekaligus merasakan apakah aku masih membohongi diriku sendiri. Nyatanya tidak, tak ada yang aku rasakan saat mengucapkan nama Bagas.

Pesanan Tiana datang. Tiana membuka sachet gula dan mencampurkannya ke dalam kopi pesanannya, memberikanku waktu menyusun memori dari kejadian yang lampau. Ah! Sial, sakitnya masih ada.

"Sesekali, saat aku mengingat soal kejadian itu.. Aku merasa sangat tolol,"

Aku mendongak ke arah Tiana, "Kejadian yang mana?"

Tiana menyesap kopinya, seperti ingin melumuri semua rongga mulutnya dengan larutan kafein. "Iya, saat aku dengan bangga datang ke flat mu dan memamerkan apa yang kulakukan dengan Bagas di malam sebelumnya,"

"Everyone makes mistake," kalimat Tiana kutanggapi klise, tak mengerti apa lagi yang harus diucapkan.

"Iya, aku tau. Tapi saat itu aku terlalu gegabah bertindak. Egoku masih belum sepenuhnya dapat kukendalikan. Harusnya aku bisa saja kan, jadi simpanan Bagas untuk jangka waktu yang tidak terbatas?" Tiana menutup kalimatnya dengan tawa ringan.

Aku tersenyum, "Kalau kamu sampai melakukannya, maka aku satu-satunya yang akan menjadi sangat tolol. Bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa tunanganku sudah meniduri perempuan lain selama itu?" 

Tiana berhenti tertawa, seperti merasakan sakit yang baru saja menggoresku tanpa ampun. "Maaf. Jadi, kapan kamu mau menjelaskan alasan dari pertemuan kita hari ini?"

"Ah iya, aku hampir lupa," ucapku berbohong. Mana mungkin aku lupa tujuanku mengajak Tiana bertemu. "Aku mau kamu tau bahwa ini tidak ada hubungannya dengan Bagas dan mengenai urusan kita di masa lalu, aku sudah memaafkannya."

"Jelas kamu memaafkannya, Aya. Kamu sudah membalasku dengan balasan yang setimpal," Tiana mengangkat sebelah alisnya, membuatku sadar bahwa maaf yang kuberikan sama sekali tidak cuma-cuma. 

Aku menghela napas, ingin segera mengakhiri pembicaraan tentang hal ini. "Aku juga minta maaf tentang apa yang kulakukan pada karirmu. Sekarang, bisa kita mulai?"

Senyum Tiana mengembang, aku mengangkat bahu.

"Singkat kata, aku hari ini berada di posisimu tiga tahun lalu. Aku mengencani seorang pria baik, tunangan seseorang. Kami berdua saling mencintai dan aku begitu menginginkannya. Ini akan terdengar sangat bodoh, aku meminta saranmu untuk menjadikannya milikku. Sama seperti yang kamu lakukan pada Bagas,"

Tiana diam, sepertinya terkejut dengan permintaanku. "Kamu sungguh-sungguh?"

"Kalau aku tidak sungguh menginginkannya untuk menjadi milikku, maka aku tak akan mengundang seorang perempuan yang pernah merebut tunanganku untuk duduk semeja dan meminta sarannya, bukan?" jawabku serius.

Ada hening yang tercipta, aku tak ingin bicara sampai Tiana siap. Lagipula, kalau Tiana sedang berpikir, aku tak akan mengganggunya.

"Athaya, ada beberapa hal yang akan kusampaikan. Mungkin ini tidak akan menyenangkan buatmu dan mungkin kamu akan enggan menemuiku lagi setelah aku mengatakannya. Anggaplah ini satu kebaikan yang kulakukan untukmu, meskipun aku tidak mengabulkan permohonanmu. Athaya, katamu kamu mengencani seorang pria baik? Pria yang baik tidak akan melakukan hal-hal yang mungkin menyakiti pasangannya. Kalau dia baik, seperti apa yang kamu katakan, maka dia tidak akan mengacuhkanmu dan tetap setia dengan pasangannya."

"Tiana," panggilku memotong ucapan Tiana yang menurutku sama sekali tak akan ada gunanya bagiku. "Aku tak perlu saranmu tentang mana yang baik dan yang buruk. Aku hanya perlu kamu mengatakan apa yang harus kulakukan untuk memisahkan dia dengan tunangannya,"

"Baiklah, ini akan jadi kalimat terakhirku. Aku tak akan memberikanmu saran tambahan mengenai tindakanmu. Tapi kamu tidak boleh lupa Athaya, sesuatu yang kamu dapatkan dengan cara merebutnya dari tangan orang lain, akan pergi persis dengan cara seperti itu," Tiana mengangkat cangkir kopinya dan mulai meneguk. 

Aku terdiam. Namun sesaat kemudian tak tahan untuk bertanya, "Bagaimana tentangmu dan Bagas?"

"Dia meninggalkanku untuk perempuan lain, sama seperti dia menginggalkanmu untukku,"

--

Untukmu, yang diam-diam menyelinap dan membuat aku berdarah-darah.
Aku tidak akan pernah melupakan sakitnya.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting