Rabu, 09 April 2014

An assumption.

Dan tiba-tiba, kognisiku seperti lepas  kendali.
Aku melewatkan hal-hal penting yang kamu utarakan.

Maaf, bukan larut yang membuat kesadaranku memudar.
Bukan pula jenuh yang jadi alasanku kehilangan perhatian.
Tapi suaramu.

Aku merasa bahagia sekaligus bodoh yang teramat.

Sudah berkali-kali aku mendengarkanmu berbicara di sebelahku, di ranjang yang sama.
Namun baru malam ini aku menyadari bahwa ketertarikanku akan pembicaraan-pembicaraan kita tak berkaitan dengan luas wawasanmu.

Ralat, pasti ada kaitannya dengan itu walaupun kecil.
Tapi ijinkan aku menjelaskan sudut pandang yang kudapatkan malam ini.

Ini adalah asumsi, tentu karena aku belum menguji soal kebenarannya dengan metodologi yang sesuai. Kamu tau bahwa ilmu yang aku dalami adalah tentang menguji asumsi-asumsi mengenai perilaku, kan? Jadi maafkan kalau aku harus menyebutnya asumsi, bahkan di saat aku sangat meyakini kebenarannya..

Aku mengasumsikan bahwa aku lebih menikmati suaramu, bukan hanya sebagai medium penghantar konten pembicaraan tapi sebagai inti dari kegiatan mendengar yang aku lakukan.

Kamu pasti akan tertawa kalau kujelaskan..
Begini sayang,

Aku menyadari bahwa suaramu jauh jauh jauh lebih menarik perhatianku ketimbang pandangan-pandanganmu mengenai banyak hal. Pandanganmu mengenai pekerjaan, misalnya. Caramu menghayati waktu-waktu yang kamu habiskan mengetik di depan layar sebagai permainan yang kamu senangi.

Aku juga menyadari hela napasmu dalam tiap jeda kalimat yang kamu katakan. Hela napas yang semakin panjang kalau kita terlibat dalam pembicaraan emosional dan berakhir dengan nada bicaraku yang meninggi. Tidak, nadamu tak pernah turut berpacu, bahkan semakin lembut seiring dengan payahnya kemampuanku mengelola amarah. Aku berterima kasih untuk yang satu itu.

Aku menyadari bahwa kamu menggumam saat mencari pengganti kata yang tak aku mengerti. Padahal kamu bisa saja angkuh menjawab ketidaktauanku, namun alih-alih merendahkan orang lain, kamu selalu mencari cara menambah wawasan mereka. Dan aku menganggap itu caramu bersyukur atas kemampuan yang sudah dititiskan semesta dalam kepalamu.

Terakhir, yang jadi favoritku. Aku menyadari bahwa kamu berusaha tetap terjaga saat aku enggan beristirahat. Bahkan setelah melalui hari penuh tekanan dan ujian, kamu akan tetap berusaha tidak mendahului aku soal terpejam. Tentu aku tidak akan menyebutkan berapa kali kamu kalah dan akhirnya mendengkur di sampingku dengan wajah lucu.

Karena alasan-alasan yang aku tuliskan di atas, sayang..
Obrolan-obrolan kita ibarat candu untukku, tentunya aku tak akan mengecilkan fungsi dekap dan kecup yang seringkali kita kombinasikan dengan porsi yang berbeda-beda.
Semuanya membentuk sebuah rangsang hebat yang selalu berhasil mengaktifkan sistem limbik di otakku, menghasilkan respon paling primitif dan penuh dengan insting.

Dan aku tak perlu belajar bagaimana caranya mengakhiri obrolan bersamamu.
Because they said, "It's like riding a bicycle, you won't forget how."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting