Minggu, 09 Maret 2014

Psikotes tuh gampang diakalin!

"Kalau psikotes kayak gitu aja sih gampang diakalin. Kayak gini nih...." ujar seorang laki-laki muda dengan bangganya.

Saya menoleh. Maklum, insting kepo sudah menjadi satu dengan kepribadian saya sejak berkuliah di jurusan psikologi. Lalu tampaklah oleh saya dua orang yang sedang sibuk mencorat-coret di atas tisu yang disediakan oleh kafe tempat saya menunggu.

...

Di negara tempat saya tinggal, mencari pekerjaan bukan suatu hal yang mudah. Lulusan sarjana menumpuk tiap tahun, sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia jumlahnya kian sedikit. Sayangnya, semangat kewirausahaan anak muda cenderung rendah sehingga sedikit sekali yang memiliki tujuan untuk 'membuka lapangan pekerjaan'.

Rendahnya jumlah lapangan pekerjaan ini (sepengamatan saya) bukannya membuat para pencari kerja berusaha meningkatkan kualitas mereka namun berusaha entah bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Jadilah banyak kecurangan, penerimaan pegawai negeri sipil misalnya, sering diwarnai dengan calo jawaban (orang yang menjual kunci jawaban soal seleksi) dan calo kursi (orang yang memastikan bahwa si calon pegawai diterima dengan imbalan uang).

Itu pada sektor pemerintahan. Pada sektor swasta, para pencari kerja tak menyerah dengan usaha mendapatkan pekerjaan. Selain dengan jalur 'saudara' yang berarti nepotisme, ada juga cara 'menghafalkan jawaban psikotes'.

Begini, ijinkan saya menjelaskan sesuai dengan pengetahuan saya yang terbatas sebagai mahasiswi semester 6 jurusan psikologi :)

Psikotes adalah pemeriksaan psikologi yang BUKAN merupakan sebuah tes karena dalam pemeriksaan psikologi tidak dikenal istilah LULUS atau tidak lulus. Pemeriksaan psikologi ini nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran tentang diri testee (orang yang menjadi subjek pemeriksaan).

Jadi, ajang pencarian kerja sebenarnya dapat digambarkan sebagai ajang 'perjodohan'. Perusahaan/instansi yang sudah memiliki kriteria tertentu dan pencari kerja yang memiliki kriteria unik dalam dirinya.

Lantas, kenapa butuh pemeriksaan psikologi?

Untuk menduduki suatu jabatan, selain dibutuhkan keahlian yang sifatnya teknis (seperti tinggi badan/kemampuan menggunakan komputer/kemampuan berbahasa asing) dibutuhkan juga kriteria yang menyangkut kepribadian dan aspek mental lain (seperti kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berpikir analitis, ketahanan terhadap stress).

Hal ini penting untuk perusahaan agar mendapatkan pegawai yang sesuai dan penting untuk pegawai agar mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bayangkan, bagaimana jika orang yang memiliki daya tahan yang rendah terhadap stress ditempatkan sebagai manajer strategi penjualan yang bekerja dengan target?

Jadi kalau ada orang yang berniat berbuat curang saat mengerjakan psikotes, bisa dianalogikan dengan seorang pacar yang tidak bersikap jujur saat berpacaran.
Mungkin saja pada akhirnya mereka bisa menikah, tapi bukankah kita semua berharap selama proses perkenalan-pendekatan-pacaran pasangan kita memperlihatkan diri yang sebenarnya?

Bukankah akan jauh lebih membahagiakan kalau kita memutuskan untuk berpisah karena ketidakcocokan dan menemukan orang lain yang lebih sesuai walau butuh waktu yang lebih lama? Tidak demikian? Well, itu pilihan.

Kembali ke topik pekerjaan. Psikotes dibuat untuk 'menjodohkan' kompetensi calon pegawai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan penempatan yang tepat, maka kemampuan pegawai akan lebih berkembang ke depannya.

Jadi kalau kamu ngeliat orang yang ngeluh-ngeluh terus soal pekerjaannya, ngeluh-ngeluh kalau dia nggak naik-naik jabatan, ngeluh-ngeluh nggak enjoy sama pekerjaannya. Coba tanya dulu, waktu psikotes dia jujur nggak?
;)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting