Selasa, 04 Maret 2014

Niat baik

"Apa yang membuat kalian percaya bahwa pria ini adalah pria baik, bisa diandalkan, yang nantinya kalian pilih untuk menjadi pacar? Apakah semata-mata keputusan emosional? Atau ada kognisi yang berperan dalam seleksinya?" tanya dosen yang saya kagumi pada salah satu mata kuliah yang (tadinya) sangat tidak saya sukai. 

Anyway, ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang beliau. Tulisan sebelumnya bisa dibaca disini 

Dosen saya mulai meyakinkan kami sekelas bahwa research bukanlah sesuatu yang jauh dan hanya dilakukan oleh ilmuwan. "Saat kalian menyeleksi calon pacar kalian, misalnya. Kalian juga melakukan research."

Pembahasan kelas selanjutnya sangat seru, dosen saya memberikan beberapa tips sederhana (namun tetap logis) yang dapat digunakan untuk mengetahui inisiatif, motivasi, dan elemen-elemen psikis lain kalau-kalau kami (para mahasiswinya) berkeinginan untuk menyeleksi calon pacar kami. Hehehe.

"Zaman sekarang ini, perempuan tidak butuh lelaki untuk membayar makanan, kan?" kalimat beliau disambut dengan persetujuan para perempuan yang jumlahnya memang selalu menjadi mayoritas di fakultas kami. Saya pribadi setuju dengan kalimat tersebut, siapa yang membayar bill makan dan nonton sama sekali bukan prioritas saya dalam memilih calon pasangan selama ini.

Respon kelas yang riuh membuat beliau tersenyum dan kembali melanjutkan kalimatnya, "Tapi perempuan butuh laki-laki yang berniat baik, betul nggak?"

Saya tertawa dan diam-diam kembali setuju dengan pernyataan beliau. Niat baik adalah satu hal esensial yang menurut saya, sangat mahal didapatkan di zaman seperti sekarang ini.

Bayangkan, bagi perempuan yang cantik--sangat sulit menyeleksi laki-laki yang berniat baik kepadanya (bukan hanya memandang si perempuan seperti properti yang bisa dibanggakan dan dipamer-pamerkan seperti trophy). Bagi perempuan keturunan ningrat dan kaya raya--sangat sulit menyeleksi laki-laki yang berniat baik, bukan hanya memandang si perempuan seperti fasilitas perbaikan garis keturunan (atau lebih parahnya, perbaikan taraf hidup).

Maksud saya, bukannya saya cantik dan kaya. Tapi rasanya sulit menemukan seseorang yang berniat baik untuk menjalin hubungan karena apa adanya diri kita, bukan hanya karena kualitas-kualitas baik yang dimiliki.

Jadi, dibandingkan mencari laki-laki tampan, mahir merayu, priyayi, dan berjanji akan mengambilkan bulan (ini sih berlebihan, ya), ada yang jauh lebih penting dari itu semua.

Niat baik.
Laki-laki sejati harus memiliki niat yang baik.

2 comments:

bellamandam mengatakan...

Deeeuh kang aul~ terus lupa aja lagi kuliah metodologi penelitian. Hahaha

Ada yg nganjel dimataku ul, itu paragraf ke lima, emang maksudnya prioritas atau maksudnya mayoritas? Hehe punten loh uul

Aulia Fairuz mengatakan...

Oh iyaaa hahaha maafkan ya.. isi kepala ngga sinkron sama jari.. Sudah diganti bels! :)

 

Template by Best Web Hosting