Jumat, 07 Maret 2014

Chaining one's life

Saat liburan, saya sempat bertukar pikiran dengan Mama tentang 'gaya berpacaran' saya dan partner. Saya yang uring-uringan seharian karena beberapa hari mendapatkan kabar yang sangat singkat karena partner saya sedang sangat sibuk menyusun tesisnya, ditanggapi Mama dengan kalimat datar, "Bukannya seperti itu harusnya ya, nduk?"

Wah, jelas saya protes.
Saya kan tipe perempuan yang berharap setidak-tidaknya mendengar 'Selamat pagi, Sayang.' tiap hari lewat ponsel saya.

Mama saya kemudian menanggapi protes saya dengan sabar, mungkin sudah biasa menghadapi anak gadis satu-satunya yang keras kepala. "Ya, bukannya cinta itu harusnya membiarkan satu sama lain tumbuh? Kalau saling mengikat, gimana bisa berkembang?"

Saya jadi melakukan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan saya yang masih tergolong tidak terlalu sibuk, lha buktinya saya masih sempat rewel ke partner saya. Waktu yang saya pakai untuk rewel dan mangkel itu harusnya masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain, belajar misalnya (meskipun hampir nggak mungkin juga, kecuali besok harinya ada kuis atau ujian). 

Maybe true, love isn't about chaining one's life. It's about letting each other grow up.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting