Sabtu, 22 Februari 2014

Wanita mandiri versi kami

Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh seorang anak, maka dari itu lingkungan ini sangat berperan dalam membentu persepsi dan pola berpikir individu.

Saya dan partner sama-sama dibesarkan dengan lingkungan keluarga dimana ibunya dan ibu saya sama-sama bekerja sebagai wanita karir. Hal itu membentuk persepsi kami berdua terhadap peran perempuan dan tuntutan peran perempuan dalam keluarga.

Kesamaan persepsi ini merupakan suatu hal yang saya syukuri karena perbedaan di antara kami sudah sangat banyak. Rasanya kalau menemukan hal-hal yang sama, saya senangnya bukan main karena itu berarti mengurangi PR kami untuk mencocokkan hal-hal yang belum sama, hehehe.

Menurut partner saya, perempuan sebaiknya bekerja. Pandangannya tentang perempuan yang bekerja pernah saya tulis dalam post disini. Saya menuliskan inisialnya dalam dialog sebagai K.

Tidak, saya sedang hilang minat menuliskan tentang perempuan yang berkarir. Akhir-akhir ini saya tidak punya kesibukan, jadi rasanya atribusi yang digunakan tidak akan tepat.

Pernah waktu itu partner saya menceritakan tentang kebiasaan sarapan di rumahnya. Di kampung halamannya, sarapan biasa menggunakan roti khusus yang proses memasaknya tidak mudah dan memakan waktu. Dengan pertimbangan tersebut, keluarga partner saya akhirnya memutuskan untuk membeli instead of baking.

Saya masih ingat perkataannya, "Kasihan ibu kan kalau harus bikin roti itu. Mending kita beli aja, lebih gampang. Kenapa harus susah?" saya sebenarnya juga berpendapat demikian soal makanan dan masakan. Gambaran kesibukan sebagai wanita karir yang saya dapatkan dari mama saya, (melihat jadwal pulang beliau) rasanya nggak mungkin saya bernafsu untuk memasak sepulang kerja. Jangankan masak, makan aja kayaknya udah males kalau nggak terlalu lapar.

Maka dari itu saya sering parno (paranoid) sendiri kalau denger cowok yang high-demanding soal peran perempuan sebagai tukang masak rumah. Pernah lho saya dengar ucapan teman kuliah saya, "Ya itu kan resiko dia. Kalau dia mau kerja, jangan sampai menelantarkan rumah. Dia harus tetap masak buat saya dan anak-anak."

Tapi pola pikir soal 'kepraktisan' ini nggak selamanya berdampak menyenangkan buat saya. Ibunya dan mama saya yang mandiri kadang jadi bumerang untuk saya yang masih sangat manja kalau dibandingkan dengan beliau-beliau.

Misalnya waktu itu kami merencanakan untuk kencan. Saya naik kereta dari Jakarta, dengan ekspektasi bahwa dia akan menunggu saya di stasiun untuk kemudian pergi bersama ke tempat yang kami tuju.

Apa boleh buat kereta saya terlambat datang, hari itu juga hari Jum'at dan dia punya kewajiban untuk shalat Jum'at. Saya awalnya ingin menunggu saja di stasiun sampai dia selesai shalat dan menjemput saya, tapi tanpa embel-embel romantis sama sekali dia bilang, "Kenapa harus tunggu lama di stasiun? Kamu pergi aja ke ******* (tempat tujuan kami), nanti setelah shalat saya kesana juga. Jadi kita langsung ketemu disana."

Saya pikir, benar juga idenya, sangat efisien meskipun jauh dari kesan romantis.
*sigh*

Atau saat maag saya kambuh karena makan mayones yang sebenarnya sudah jadi pantangan bagi perut saya. Partner saya mengomel sepanjang jalan menasihati saya soal 'menjaga kesehatan' dan 'peduli terhadap diri sendiri'.
Kekhawatirannya tidak ditunjukkan dengan memanjakan saya tapi raut muka tegas yang menyeramkan, hiii.

But overall he is being a very nice guy.
He carries my bag (not purse. I repeat, not my purse!) although I say I can handle it.
He lets me order my meal first, he makes sure that I'm comfortable when I sit, he assures that I'm safe when crossing the street, he listens to me with patience, and he has no doubt for asking a guy who stares at me. LOL!

It's too cheesy to end this post with 'I love him' statement, isn't it?

And I don't want to be cheesy.
You know I do, Assalim.
:p

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting