Rabu, 12 Februari 2014

Saya golput

Baru saja selesai menonton sebuah acara televisi yang mewawancarai seorang walikota perempuan. Meskipun saya mengawali post ini dengan kata kunci 'perempuan', saya harap tidak ada pembaca yang merangkap cenayang yang cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa saya akan menulis post yang pro feminis (atau malah menganggap saya seorang feminis).

Banyak yang berkecamuk dalam pikiran saya saat mendengarkan wawancara yang terpotong-potong (karena adik saya yang memegang panel kendali beberapa kali mengganti chanel televisi dengan program Top Gear yang sedang membandingkan antara Ferrari, Mc Larren, dan Audi. Pffft) tersebut.

Salah satu yang menggugah saya adalah perkataan narasumber saat ditanya apakah beliau memiliki keinginan untuk memimpin Indonesia sebagai presiden.

"Nanti saya nggak bisa masuk surga gimana dong? Masa' saya nggak bisa masuk surga karena ada satu orang yang bilang 'saya nggak sejahtera di bawah kepemimpinan ibu Risma'. Nggak mau ah saya." ujar beliau sambil tertawa kecil, namun sukses mencubit hati saya.

Saya adalah orang yang cueknya luar biasa terhadap sistem pemerintahan. Dalam waktu dekat ini akan diadakan pemilihan calon legislatif dan saya mengutarakan niat saya untuk tidak memilih siapapun (golput) kepada mama saya. Beliau langsung menceramahi saya panjang lebar soal 'satu suara dapat membuat perubahan' dan 'kepedulian anak muda terhadap nasib bangsa'.

Sayangnya kuliah dari mama pun nggak mengubah niat saya untuk menjadi golput saat pemilihan nanti (kemungkinan besar sih saya sedang berkuliah di Jatinangor jadi nggak akan ikut pemilihannya, hehehe).

Perlu dicatat, saya sama sekali tidak merasa bangga karena golput, dan tidak menghimbau siapapun untuk ikutan golput. Do I make myself clear?

Alasannya golputnya? Sama seperti banyak orang mungkin.

1. Saya nggak kenal itu siapa, jadi gimana saya tau potensinya seperti apa?
2. Dia juga nggak kenal saya, jadi gimana saya bisa percaya bahwa dia akan mewakili suara saya?
3. Program kerja yang diusungnya apa? Boro-boro program kerja, tugas dia ngapain aja saya nggak pernah tau.
4. Kalau seandainya, poin satu sampai tiga terpenuhi. Saya tau darimana kalau dia akan memenuhi janjinya? Tidak akan berubah jadi penguasa doyan uang seperti kebanyakan orang yang sudah terpilih?

Tapi tidak terpenuhinya poin-poin di atas bukan sepenuhnya salah pihak lain, tapi jadi salah saya juga. Saya nggak mau cari informasi, nggak berusaha menggali darimana saya bisa lebih mengenal calon pemimpin saya.

Namun akhir-akhir ini, melihat program-program keren pemimpin yang mulai disorot media, saya ikut senang. Yah, setidaknya masih ada harapan.

Meskipun, tetap aja saya akan golput saat memilih calon legislatif nanti.
Menetapkan pilihan? Mungkin nanti.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting