Kamis, 13 Februari 2014

Menjadi ibu

Sudah beberapa hari ini saya di rumah, menghabiskan sisa liburan yang tinggal beberapa hari. Kebetulan di akhir libur ini saya tidak memiliki kegiatan berarti, maksudnya tidak ada kegiatan spesifik yang menunjang kehidupan akademik atau finansial saya.

Yep, I'm officially jobless.

Beberapa hari lalu sih saya berniat menjadi 'calon ibu rumah tangga yang baik' untuk orang rumah, berhubung semua orang di rumah saya meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dan baru pulang lewat waktu makan malam jadi saya harus punya banyak waktu kosong yang bisa diisi oleh banyak kegiatan (pilihan lainnya kesepian seharian karena nggak ada temen ngobrol, hehehe).

Hari-hari pertama lumayan menyenangkan, memang pada dasarnya saya suka sekali memasak untuk orang lain. Melihat satu-satu anggota keluarga pulang dan menikmati rumah yang rapi dan masakan yang hangat terhidang di atas meja membuat saya ikut merasa senang.

Masuk hari ketiga, semangat saya mulai turun. drastis.
Mungkin pengaruh kepribadian juga, sebagai ekstrovert saya merasa jenuuuuuuuh sekali kalau seharian tidak berkomunikasi dengan siapapun. Teman saya mengobrol cuma Jecky (kucing saya) dan asisten rumah tangga yang datang hanya beberapa jam untuk setrika dan membersihkan rumah. Duh!

Kejenuhan saya ini membuat saya berpikir, bagaimana ya kehidupan sehari-harinya ibu rumah tangga? Sejenuh inikah?

Sebentar, jangan dulu menghakimi bahwa saya adalah perempuan tidak taat agama yang doyan keluyuran dan menelantarkan rumah tangga. Sejak kecil, Mama mendidik saya dengan slogan, "Kamu boleh sekolah setinggi apapun, menjadi apapun cita-cita yang kamu mau. Tapi tetap harus mampu mengurus keluarga dan rumahmu." jadi saya bisa berbangga bahwa saya capable dalam mengurus rumah, yah meskipun sense kerapiannya masih harus ditingkatkan, hehehe.

Mengerjakan pekerjaan rumah itu, kalau tidak dalam suasana hati yang baik jadi menyebalkan, lho. Kesannya seperti capek sendirian. Wah, saya lebih nggak bisa membayangkan kalau hidup di keluarga yang tidak apresiatif. Mungkin tambah bete.

Bicara soal keheranan (dan kekaguman) saya dengan ibu rumah tangga yang istiqamah dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Saya jadi tambah sayang sama Mama saya. Membayangkan beliau harus menyelesaikan tugas-tugasnya secara profesional di kantor, mengatur waktu dan membagi perhatian antara urusan rumah dan kantor saja sudah membuat saya pusing. Belum lagi ditambah saya dan adik-adik saya yang meskipun sudah sebesar ini masih saja rutin menanyakan ke mama via pesan singkat: "Ma, malam ini makan apa?"

Aneh memang, padahal di hari-hari kerja, Mama sangat jarang memasak dan kemungkinan pertanyaan kami akan dibalas dengan menu-menu seperti: "Kita makan pizza aja ya, janjian langsung di tempatnya." "Sate ayam, sop kambing, sate kambing." "Mcd"

Saya kadang tersenyum geli mengingat kami masih saja menggantungkan keputusan menu makan malam pada mama, padahal kami bisa saja langsung memutuskan sendiri mau makan apa tapi rasanya kurang afdol kalau bukan keputusan mama.

Makin hari rasanya saya makin kagum dengan peran 'ibu' yang bagi saya pribadi merupakan perwakilan Tuhan yang dikirim ke dunia. Diam-diam saya juga bersyukur bahwa nantinya saya insya Allah akan menjadi salah satunya meskipun perasaan syukur ini disertai ketakutan dan keraguan 'apakah saya bisa menjalankan peran tersebut dengan baik ya?'

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting