Rabu, 19 Februari 2014

Melodiku Sendiri

Aku menarik napas, ini pasti tidak semudah kelihatannya. Saat cemas begini tanganku otomatis akan memindahkan energi kecemasan ke benda apapun yang bisa digenggam, kali ini giliran pakaian yang kukenakan.

"Kamu bisa genggam tanganku kalau kamu mau," Zeva berkata pelan, tak ingin menarik perhatian orang lain di sekitar kami. "Kamu pasti bisa. Percayalah, setidaknya pada dirimu sendiri."

Namaku dipanggil, padahal baru saja aku ingin menyalurkan kecemasan ke telapak tangan Zeva. Kamu pasti bisa, Rania, ucapku ke diri sendiri yang lebih terdengar seperti harapan.

...

"Buku lagi? Tentang perempuan?" suara asing merusak fokusku yang tengah asyik membaca. Ah, Zeva lagi. "Kadang aku pikir kamu egois Ran, kamu menyimpan pengetahuanmu sendirian."

"Lantas maksudmu aku harus mengumbarnya di tengah jam istirahat?" balasku tak terima. Zeva tak bisa seenaknya datang dan merusak waktuku membaca, meskipun dia seniorku.

Zeva menggeleng, "Kamu tau kemana arah pembicaraan ini, kan?"

Jelas aku tau, Zeva memintaku untuk mendaftar jadi Finalis Putri Kampus. Menurut Zeva, dengan mendaftar kesana aku akan mudah mendapatkan donatur untuk kegiatan yang selama ini jadi mimpi besarku, pemberdayaan perempuan. Zeva lupa kalau mendaftar kesana berarti memberikan banyak orang kesempatan untuk menertawakanku. Siapa pula Rania, sampai berani bersanding dengan mahluk-mahluk berparas cantik yang selalu bisa membawa diri dengan sempurna di depan banyak penonton.

"Formulirnya ada di tasku, kamu bisa isi sekarang," ujar Zeva sambil bersiap membuka retsleting ranselnya. "Pas fotonya bisa diberikan menyusul, nanti aku yang bicara sama panitianya,"

Aku gusar, "Kenapa bukan kamu aja yang daftar?"

"Rania, itu kompetisi Putri Kampus. Kamu mau aku jadi transgender?" balas Zeva yang membuatku membatalkan rencana untuk marah. "Ayolah Ran,"

"Mahasiswi yang mendaftar setidaknya bisa bermain musik, modelling, atau bernyanyi. Aku bukan mereka, Zev,"

Mendengar alasanku Zeva menggeleng, "Cuma akan ada satu pemenang, Ran. Karena kamu berbeda maka kesempatan menangmu akan lebih besar kan? Rencana proyekmu itu akan terdengar jauh lebih merdu bagi ibu-ibu desa pinggiran yang menunggu realisasi program pengembangan diri mereka ketimbang lagu apapun yang dinyanyikan mereka, Ran."

"Kamu paling pintar membesarkan hati,"

Zeva mengangkat sebelah alisnya, menantangku. "Lebih baik daripada pintar mengecilkan diri sendiri kan? Ran, kita berdosa untuk berdiam padahal ada perbuatan baik yang bisa kita lakukan,"

Aku mendengus sebal, Zeva memang pandai bicara. Aku makin sebal saat aku terbawa perkataannya.

...

Hadirin menatapku yang berjalan kikuk. Setelah satu tarikan napas panjang, aku mulai bicara, "Selamat pagi hadirin, nama saya Rania Putri Athaya. Pada pagi ini saya akan menyampaikan sebuah program.....

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting