Rabu, 19 Februari 2014

Kuliah aja

Kemarin siang, seorang sahabat saya yang berasal dari Madagaskar datang untuk mampir. Katanya dia datang untuk memastikan saya ada di kosan karena dia mau mengembalikan selimut saya yang dia pinjam sehari sebelumnya. Tapi memang dasar saya tukang ngobrol jadilah dia lama mampir untuk ngobrol sambil menemani saya makan siang, hehehe.

Dalam obrolan kami, sahabat saya selain bercerita tentang kecintaannya terhadap Indonesia juga menceritakan rencana-rencananya. Oh ya, sahabat saya ini namanya Tsiry, orangnya sangat baik dan menyenangkan.

Saat saya menanyakan tentang alasannya mengambil hubungan internasional sebagai jurusan, jawabnya singkat: "Hubungan internasional adalah (hal yang) penting. Saya mau buat (membangun) hubungan Madagaskar dan Indonesia, supaya bisa buat kedutaan besar (Madagaskar) disini juga. Saya dan mahasiswa dari Madagaskar lainnya berencana membangun (kantor) kedutaan di Indonesia."

Dalam hati, saya menertawakan diri sendiri. Saya sama sekali tidak punya misi nasional (apalagi internasional) sebagai alasan saya memilih jurusan kuliah. Misinya masih sangat individual, sampai hari ini.

Selanjutnya saya bertanya tentang perasaannya kuliah disini.
FYI, teman-teman mahasiswa internasional tidak mudah untuk survive disini. Pada awal kedatangan mereka di Indonesia, mereka cukup sering ditipu oleh pedagang yang menjual dengan harga sinting (sebagai gambaran, Tsiry saat di Jakarta membeli simcard dengan harga 45rb). Duh! Saya kesal sekaligus malu mendengarnya.

Saya bertanya tentang cuaca yang panas (kota tempat Tsiry tinggal merupakan kota dengan iklim paling dingin di negaranya) dan kotornya lingkungan.
Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri untuk mendengar keluhan karena memang itu yang biasanya diungkapkan oleh teman-teman saya dari luar negeri tiap kali berbicara soal cuaca panas dan sampah.

Tsiry menjawab dengan senyumnya yang jarang sekali hilang, "Ya, memang disini panas. Kalau kotor, dimanapun (bukan hanya di Indonesia) pasti ada kotoran. Jadi it's no problem. Saya kesini untuk kuliah, jadi kuliah saja. Yang lainnya no problem."

Jawaban Tsiry seperti mencubit saya, mengingatkan kalau saya sering mengeluh betapa Jatinangor sempit dan kurang tempat hiburan. Padahal saya datang kesini untuk berkuliah, bukannya mencari hiburan.

Lain kali saya ingin mengeluh tentang Jatinangor, saya harus bicara keras-keras, 'Saya datang kesini untuk berkuliah, jadi ya kuliah aja.'

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting