Selasa, 04 Februari 2014

Berita untuk Perempuanmu

'Aditya Pristian'

Aku mengetikkan namamu di mesin pencari.
Sembari menunggu, hatiku tak karuan menerka-nerka apa yang akan keluar sebagai hasil pencarian. Sudah setahun ini kuhindari berita tentangmu, memberikan hatiku waktu untuk pulih.

Tik. Tok. Tik. Tok.
Suara jarum penanda detik pada jam dinding mulai membuatku jengah.
Sementara itu, layar di depanku nampaknya sedang memilah-milah informasi tentangmu.

Muncullah satu-satu, kejadian hidupmu yang luput dari pengamatanku selama satu tahun. Berita yang ada di surat kabar online, testimoni klien, sampai gambar-gambar yang sebenarnya belum ingin kulihat sekarang.

Senyummu masih sama, bangga memperlihatkan deretan putih gigi yang tak menguning karena kamu benci rokok. Merokok sama dengan membakar uang, katamu. Dan hanya orang bodoh yang menghabiskan waktu bekerja lalu membakar uangnya sendiri. Saat itu aku tersenyum bangga, tidak semua laki-laki berpikir sama tentang lintingan tembakau. Saat itu aku berdoa agar bisa menyematkan namamu di belakang nama anak-anak kita kelak.

Tapi malam itu tidak.

...

Kamu berbicara tanpa jeda, ada kontrak yang salah. Ada investor yang membatalkan kerjasamanya dengan perusahaanmu. Malam itu kamu datang ke flat-ku, meracau tentang hal-hal seputar pekerjaanmu yang tak pernah kumengerti.

Bukan racauanmu yang mengkhawatirkanku, tapi aroma lain yang tercium di udara tiap kali kamu berbicara. Alkohol. Kali ini lebih menyengat dari biasanya.

Kamu bukan orang yang enggan untuk minum seteguk dua teguk bersama teman-temanmu. Aku tak memiliki masalah dengan hal itu, walaupun menyentuh gelasnya pun tak pernah. Banyak perayaan dalam dunia kerja yang tak bisa dihindari, katamu. Aku mengangguk saja, biarlah jadi urusanmu dengan Tuhanmu.

Demi menghindari penghuni lain terganggu sebab kerasnya suaramu, aku memapahmu masuk. Usai mendudukkanmu di sofa, aku mencari handuk dan air hangat. Melihatmu dalam kondisi berantakan seperti ini membuatku iba.

"Kamu cantik," katamu terkekeh saat aku membuka ikatan dasi yang simpulnya sudah tak rapi. Aku diam, tak ingin menanggapi. "Hey, aku lagi ngomong sama kamu,"

Nadamu meninggi. Kujauhkan baskom kaca berisi air hangat yang ada di dekatku. "Kamu mabuk, Dit,"

Kamu terkekeh lagi, melirik ke arahku yang memang memakai baju tidur. Saat pandangan yang kamu arahkan mulai membuatku tak nyaman, aku berbalik pergi--akan kucari baju lain yang lebih pantas.

"Mau kemana, sayang?" tanganmu mencegahku.

Aku bergerak menghindar, walaupun tak berhasil. Kekuatanku tak ada apa-apanya. "Aku tinggal sebentar ya Dit. Ada yang harus diambil,"

Tapi cengkramanmu di lenganku bertambah kuat. "Sini aja dulu yuk," bersamaan dengan itu, kamu menarik tubuhku mendekat. Nafasmu memburu, terasa di bahuku yang terbuka.

...

Aku menutup mata, membuat air mata yang tadinya tertahan leluasa meluncur turun. Ada ngilu yang merayap di tiap sendi-sendi tulangku. Butuh beberapa detik saja sampai akhirnya aku sesenggukan bak anak kecil. Aku gagal mengendalikan diri.

Setelah malam itu, kuputuskan untuk pergi. Ucapan maaf yang kamu berikan esok paginya sudah tak ada artinya. Ini terlalu menyakitkan untukku, selamanya aku tak akan bisa memaafkanmu.

Kita tak perlu lagi saling menghubungi, kataku. Kamu tak menyanggahnya, tak berusaha mengubah pemikiranku.

Tapi pagi ini, setelah setahun memaksa diriku pergi jauh dari kehidupanmu--aku punya pemikiran lain. Mungkin, mungkin aku bisa belajar memaafkanmu. Mungkin kemarahanku sudah sirna mengingat kini keinginan untuk mendengar suaramu luar biasa besarnya.

Maka dengan sisa air mata yang belum kering, aku menekan tombol-tombol nomor di ponselku. Kamu pasti terkejut, kamu pasti tak menyangka akan mendengar suaraku lagi. Degup jantungku berpacu dengan nada sambung yang terdengar sangat lambat.

"Halo, dengan Nyonya Aditya Pristian disini.."

Aku sontak mengakhiri pembicaraan. Bibirku bergetar, air mata yang tadi berhenti kini mulai mengalir, tak ingin kuhentikan. Ngilu yang bersarang di tiap sendiku berubah jadi berkali-kali lipat sakitnya.

Di tengah-tengah tangisku, aku kembali menghubungi nomor yang sama. Senyumku tersungging, tidak adil kalau kamu kembali menghancurkan harapanku. Tidak adil kalau cuma kamu yang bisa merebut milikku yang paling berharga.

Aku berdehem, menyiapkan diri untuk bercerita.

Aditya, apa perempuanmu tau apa yang dilakukan suaminya setahun lalu?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting