Rabu, 05 Februari 2014

Beda dong! Jangan setuju-setuju aja

Being different?

Bagi orang-orang yang tinggal di negara dengan budaya kolektivitas yang tinggi seperti misalnya negara saya, menjadi berbeda adalah sesuatu yang dihindari. Meskipun, pola pikir ini bisa berubah seiring dengan waktu dan berubahnya lingkup pergaulan.

...

Malam ini, adik saya yang paling kecil menangis karena seragam batik yang harusnya digunakan esok hari sobek.

Menurut pengakuan adik saya, temannya lah yang tidak sengaja menarik seragamnya. Mama saya jelas tidak terima, menurut beliau kami semua harus bertanggung jawab terhadap barang kepunyaan kami jadi seharusnya (masih menurut Mama saya) adik saya sudah melakukan tindakan yang bisa menunjukkan tanggung jawabnya terhadap seragam tersebut (misalnya, membeli seragam baru atau pergi ke tukang jahit).

Adik saya menangis bukan karena seragamnya sobek, ternyata. Penyebab menangisnya ternyata usul Mama yang meminta adik saya memakai dulu seragam putih birunya sampai seragam batik yang sobek selesai diperbaiki.

Pasalnya, Mama tidak sampai hati melihat anaknya ke sekolah memakai baju sobek (seperti gelandangan, kata beliau). Sedangkan adik saya (yang orangnya cuek) merasa tidak keberatan harus memakai seragam sobek daripada harus memakai seragam yang berbeda dengan teman-temannya.

Saya menengahi dengan bertanya, "Memangnya kenapa kalau memakai baju yang beda? Apa gurumu akan marah? Kalau memang iya, bawa aja baju batikmu. Jelaskan ke beliau kalau hari ini kamu mau bawa bajunya ke tukang jahit untuk diperbaiki."

Adik saya, masih dengan menangis sesenggukan menjawab, "Aku nggak mau pakai baju yang beda. Nggak enak. Aku nggak suka kalau diliat atau ditanya kenapa bajunya beda."

"Tadi Mama memberi usul, tujuannya supaya kamu nggak malu pakai baju yang sobek. Tapi kalau menurutmu kamu lebih nyaman pakai baju batik yang sobek itu ya nggak masalah. Pilihannya ada di kamu." ujar saya lagi, sembari tersenyum dengan harapan dia berhenti menangis.

Mendengar ucapan saya, adik saya akhirnya berhenti menangis. "Aku tetap akan pakai baju batik. Mungkin akan pakai jaket. Pulang sekolah nanti aku akan ke tukang jahit untuk perbaiki bajunya."

Saya mengangguk (dan tau sebenarnya Mama nggak sepenuhnya mendukung keputusan adik yang satu ini, hehehe).

...

Sejak kecil, kita sudah dididik dalam lingkungan yang serba sama.

Sekolah sebagai lingkungan yang (harusnya) menyediakan simulasi kehidupan bermasyarakat menyamakan seragam murid yang salah satu alasan awamnya adalah:

"Supaya semua di sekolah ini sama, yang kaya maupun yang miskin seragamnya sama. Nggak dibeda-bedain."

Padahal, nantinya dalam hidup 'sungguhan' semuanya memang berbeda.

Waktu saya masih duduk di SMP (Sekolah Menengah Pertama) ada kebijakan sekolah tetangga yang sangat lucu menurut saya.

Pada jaman itu, sedang trend jam tangan warna-warni yang modelnya berbentuk kotak besar (kalau saya nggak salah merk nya Levi's). Jam tangan model seperti itu yang asli (bukan tiruan) harganya cukup mahal dan nggak semua orang mampu membeli, lalu di sekolah tersebut terjadilah kasus pencurian jam tangan. Saya kurang tau apakah kasus pencurian tersebut akhirnya terbongkar atau tidak, tapi yang saya tau akhirnya sekolah membuat larangan memakai jam tangan ke sekolah (lagi-lagi saya kurang tau apakah jam tangan yang dilarang adalah semua model atau hanya model tertentu). Saat saya menanyakan alasan mengapa dibuat peraturan tersebut, teman saya (setelah menanyakan ke gurunya) menjawab bahwa peraturan tersebut dibuat supaya tidak ada siswa yang iri dan mencuri jam tangan.

Lucu ya?

Setelah saya berkuliah, syukurlah saya berkuliah di jurusan Psikologi.

Di kampus kami (sejalan dengan disiplin ilmu yang dipejari) sangat menjunjung tinggi individual differences atau perbedaan individual dan (dalam bidang akademis maupun organisasi) menuntut keberanian mengutarakan pendapat (kalau sifatnya akademis tentu tetap harus memiliki dasar empiris, hehehe).

Saya tidak tau pasti seperti apa di kampus lain, tapi yang jelas dalam suasana akademis keberanian untuk menjadi berbeda tentunya menjadi sangat berguna dan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan.

Bayangkan, apa serunya datang ke kelas dan membahas sesuatu yang sudah jelas disetujui oleh semua orang tanpa adanya sanggahan atau pendapat yang berbeda.

...

Jangan langsung setuju ya, yang langsung setuju dan iya-iya aja bikin pembahasan jadi garing dan nggak asik.

;)

1 comments:

Anonim mengatakan...

Well, sudah sifat manusia untuk lebih menyukai hal yang sama dengan mereka, at least mirip dengan mereka.

Dan ini sudah mengakar, membudaya, dan menyebar terutama di budaya kita.

Bahwa persamaan lebih diutamakan daripada perbedaan, walaupun pada kenyataanya bisa saja berbeda. :3

 

Template by Best Web Hosting