Senin, 10 Februari 2014

Aku Benci

"Dia selingkuh Za." ujarmu dengan bibir bergetar. Perlu waktu bagiku memahami siapa yang kamu maksud. Tanpa kupersilahkan, kamu memasuki pintu lalu duduk di kursi ruang tamu. Menangis.

Aku mematung, tak tau apa yang harus lebih dulu dilakukan. Apakah memelukmu yang sekarang tersedu-sedu atau pergi ke dapur dulu mengambilkan segelas air putih hangat untuk menenangkanmu. Meskipun yang pertama nampaknya lebih menyenangkan, aku tau pilihan kedua lebih kamu butuhkan.

"Ini air putih, kamu minum dulu." tanganku menyerahkan segelas air yang lekas kamu ambil. "Terusin aja nangisnya sampai kamu tenang, kalau mau cerita aku mau dengerin. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Kamu udah makan?"

Air putih di gelas langsung tandas. Kamu menoleh ke arahku yang masih bingung menempatkan diri. Kamu memelukku cepat, menangis lagi. Kata-katamu keluar berbarengan dengan isak yang sebenarnya sangat tak ingin kudengar.

Baiklah, singkat cerita kekasihmu berkhianat.

Aku benci mendengar sisanya. Aku benci mendengar kamu berkata betapa kamu sangat mencintainya. Aku benci mendengar betapa hatimu sakit dibuatnya. Aku pun benci mendengar betapa kamu ingin membunuh si perempuan sialan. Perempuan yang menurutmu jadi biang perselingkuhan pacarmu. Perempuan yang menurutmu sudah merayu pacarmu sampai mereka berakhir satu ranjang.

Laras, lelaki memilih dengan siapa dia menghabiskan malam dan terbangun di tempat tidur yang mana, pikirku. Namun tak sampai hati menyatakannya padamu. Takut lebih menyakitimu.

"Aku tidur disini malem ini ya Za?" pintamu, dengan mata sembab dan riasan yang berantakan. "Aku nggak mau sendirian."

Aku menghela napas. Peraturan yang diberikan oleh pemilik rumah ini jelas, tidak boleh ada perempuan yang menginap atau perjanjian sewaku akan dihentikan. Sulit menjelaskan padamu kalau lingkungan yang kutinggali berbeda dengan apartemenmu, dimana semuanya bebas, tak ada tetangga yang peduli.

"Kita pulang ke apartemenmu, aku antar kamu kesana. Kamu bisa tidur di kamarmu, aku tidur di sofa."

Kamu tersenyum senang, seperti biasanya kalau permintaanmu dipenuhi. "Aku malas menyetir, kamu yang bawa mobilku ya?" lenganmu menggamit lenganku, lalu kepalamu bersandar manja. Siapa yang bisa menolak permintaanmu.
 

Apartemenmu tidak rapi, kerapian bukan bagian dari dirimu dan aku tak pernah terganggu dengan hal itu. Aku mengantarmu sampai ke depan kamar, langkahku terhenti saat pintu kamarmu terbuka.

"Makasih ya Za." katamu dengan senyum yang kubalas anggukan. Saat kamu berbalik pergi, mataku menangkap sesuatu yang janggal.

Ada kemeja pria yang terserak di atas tempat tidurmu. Sebagai laki-laki, ada harga diri yang luka saat melihatnya. Tapi aku cepat menampar diri dengan kenyataan, kenyataan bahwa aku bukan lagi lelakimu.

Laras, apa yang sudah dilakukan laki-laki itu di kamarmu?
Ruang yang tak pernah kumasuki karena aku menghargaimu bukan hanya sebagai pacarku, tapi juga calon ibu dari anak-anakku.

Aku melirik jam dinding, pukul sembilan malam. Kalau kebiasaanmu belum berubah, maka beberapa jam lagi kamu akan terbangun, membuka kulkas dan meneguk segelas air dingin. Kamu juga akan mencari sesuatu untuk dimakan, maka baiknya aku turun ke supermarket di lantai bawah--membeli roti atau sereal coklat yang jadi kesukaanmu.

Sepanjang jalan menuju ke kamarmu bersama dengan sekantung belanjaan, aku sama sekali tak merasa sendirian. Sudah terbayang olehku wajah bangun tidurmu yang manis dengan rambut tergerai acak, berjalan mencari cemilan tengah malam.

Pintu kamarmu terbuka sebagian, terdengar suara yang asing dari dalam. Bukan hanya suaramu. Aku mempercepat langkah kaki, khawatir akan keselamatanmu.

"Ras?" panggilku yang langsung mencari sosokmu dalam ruangan.

Kamu menoleh. Bukan, bukan cuma kamu yang menoleh. Ada orang lain. "Siapa dia Ras?"

Semua berhenti bicara. Ruangan menjadi sunyi beberapa detik lamanya. Ada secuil harapan yang kugantungkan dalam jawabanmu.

"Bukan siapa-siapa." jawabmu, tanpa memandang ke arahku.

Dua kali,  harga diriku terluka hari ini. Kamu masih sama, dengan mudah membuangku seperti yang lalu-lalu. Aku pun masih sama bodohnya, menerimamu lagi saat datang dengan hati berdarah-darah.

"Mending lu pergi deh, gua masih ada urusan sama cewek gua."

Oh, jadi orang ini yang jadi alasanmu menangis sore tadi. Potongan-potongan informasi yang berantakan mulai tersusun pelan-pelan dalam tempurung kepalaku. "Ras, kamu nggak apa kalau aku pergi?"

Kamu mengangguk. Seperti membuang harapan yang lagi-lagi tanpa sadar kugantungkan. Laras, butuh berapa kali patah hati sampai kamu sadar bahwa kita ditakdirkan untuk kembali bersama?

...

Beberapa bulan setelah kejadian itu, tak lagi kupikirkan apapun tentangmu. Sudah saatnya aku menyadari bahwa 'kita' tak akan pernah ada lagi. Sudah saatnya aku mulai membuka hati dan mencari perempuan lain yang sebelumnya kuhindari.

Malam ini adalah salah satunya, sudah kurencanakan makan malam romantis bersama dengan teman perempuan sekelasku. Dia memang tak lebih cantik darimu namun setidaknya dia tidak pernah meninggalkanku berulang kali.

Ponselku bergetar, nomor tak dikenal.

"Za, aku butuh kamu ke apartemenku sekarang."

Mataku melirik setangkai mawar putih yang baru sore tadi kubeli di pasar bunga. "Nggak bisa Ras, aku ada acara malam ini."

Isakmu mulai terdengar. Sembari terbata-bata mengatur nafas--kamu meneruskan, "Za, dia selingkuhin aku Za. Dengan perempuan yang sama."

"Ras, aku ada acara malam ini," ucapku dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.

...

"Makasih udah dateng, Za.." dengan air mata berurai kamu memelukku. Menceritakan tentang hal-hal yang tak ingin kutau. Yang kutau, di antara kebencianku terhadap hal-hal yang kamu ungkapkan--bertambah satu kebencian lagi.

Aku benci tak pernah bisa menolak keinginanmu. Apapun itu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting