Rabu, 01 Januari 2014

Konsep berpacaran

Dalam kuliah Antropologi Psikologi, seorang dosen wanita yang gue kagumi memberikan penjelasan tentang bagaimana budaya dalam era-era tertentu dapat mempengaruhi kepribadian.

Misalnya saat printer belum ditemukan, orang menulis menggunakan mesin tik.

Menulis dengan mesin tik tentunya lebih sulit karena kita tidak dapat menghapusnya seperti menulis di komputer.

Hasilnya, orang yang hidup pada era tersebut cenderung lebih berhati-hati dalam berperilaku dan menghidari konsekuensi buruk yang mungkin akan diterimanya.

Tadi pagi, gue dan Mam terlibat dalam pembicaraan menarik. Diawali dengan gue yang menyampaikan resolusi 2014: "Tidak akan menghindari hubungan serius." lalu dilanjutkan dengan wejangan,

"Kalau kamu memang berniat pacaran, tanyalah sama calonmu seperti apa konsep berpacarannya. Kalau dia bilang selama kita cocok, jalanin aja pikirkan lagi untuk melanjutkan. Nggak ada hal apapun yang perfectly fit.

Sampai menikahpun, ketidakcocokan dan konflik pasti terus ada. Konsep berpacaran mama dulu, ayo dijalani bersama. Susah, senang, kaya, miskin, baik kamu tersenyum ataupun marah.

Hal-hal yang belum cocok, mari kita cocokkan. Ada saatnya saya mengalah untukmu, meskipun tidak akan selalu seperti itu. Dalam beberapa hal, ada saatnya giliranmu mengalah untuk saya."

Mendengar wejangan Mam, mungkin sebelum menanyakan konsep berpacaran pada pasangan, sebaiknya gue memperbaiki konsep sendiri dulu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting