Jumat, 24 Januari 2014

Happier

Aku menggenggam lenganmu yang kokoh. Kamu selalu saja membuatku bangga menjadi perempuanmu, terlebih di kerumunan seperti ini. Kaki-kakiku yang malam ini 'dipaksa' mengenakan sepatu bertumit tinggi melangkah perlahan, khawatir tergelincir dan mempermalukan diri sendiri.

"Mau kemana setelah ini, sayang?" kamu bertanya kepadaku yang masih mengamati tamu-tamu lain. Pesta pernikahan mewah, khas teman-temanmu.


Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa orang yang menikah harus mengundang ratusan orang yang belum tentu mereka kenal. Aku juga tidak mengerti kenapa orang yang menikah harus berpura-pura akrab dan menyalami semua tamu undangan yang datang. Waktu aku mengutarakan pendapatku, kamu hanya tertawa--lalu mengacak rambutku pelan.

Aku mengangkat bahu, mengeratkan pegangan ke lenganmu. "Belum tau. Mau ke apartemenku? Tapi kulkasnya kosong, aku belum belanja bulanan."

"Apa hubungannya? Menghabiskan malam di apartemenmu dengan kulkasmu yang kosong?" jawabmu yang kutau pasti kemana arahnya. Senyum jahilmu tersungging.

Saat kita menghabiskan malam di tempatku, kita tidak membutuhkan bahan makanan apapun. Kita hanya akan saling bercerita di atas tempat tidur sambil membagi kecupan yang rasanya tak akan habis. Mengingatnya membuat pipiku bersemu malu. "Mungkin saja kamu lapar," jawabku menetralisir perasaanku sendiri.

"Denganmu di sebelahku? Mana sempat aku merasa lapar," jawabanmu membuatku tersenyum malu. Tanganmu merayap pelan di belakang pinggangku, "I love you,"

Bisikan konyolmu mengundang tawa yang berusaha aku tutupi dari orang lain. "You know I do more," aku mendekat, menghirup aroma musk yang sangat kusuka di sekitaran lehermu.

"Hey," suara lain mengganggu obrolan kita. Aku menoleh, berhenti menikmati aroma parfummu yang belum puas kuserap.

"Kamu disini juga?" suaramu terdengar tak suka, membuatku makin penasaran dengan si pengganggu.

Ah dia. Laki-laki masa laluku. Kalian saling tidak menyukai dan selalu membuat posisi serba salah tiap kali kita bertiga bertemu dalam momen yang sama. "Kita lebih baik pergi," ajakku yang tak ditanggapi olehmu. Kaki-kakimu masih tegap tak bergerak.

"Hahaha. Sejak kapan aku dilarang datang ke pesta pernikahan temanku?" jawab Danang tak ingin kalah. Egonya terlalu besar untuk menahan diri tidak memicu pertengkaran tiap kali bertemu denganmu.

Matamu yang biasanya setenang telaga kini bergejolak, menahan marah. Kamu membenci Danang, bukan karena dia mantanku. Kamu membenci Danang karena sikapnya padaku di masa lalu. "Enjoy the party, then," nadamu sama sekali tak terdengar tulus.

"How can I? My damsel is right beside you," Danang bicara dengan volume pelan penuh tantangan. Tanganmu mengepal, aku segera mengusap lenganmu--berharap kamu tak melampiaskan murkamu saat itu juga. Menganggapi Danang hanya akan membuatnya menang. "She's prettier than I remember," Danang tak berhenti mencoba memancing emosimu.

Aku angkat bicara, Danang tak bisa bersikap kurang ajar seolah-olah aku tak mendengar ucapannya. "I'm happier too. Much happier than before."


And you don't know how happiness can magically change people.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting