Minggu, 12 Januari 2014

Better Lover

"Kamu tau apa yang menyenangkan?"

Suaramu membuat aku mendongak ke samping, menyudahi kenikmatan menyandar di dada bidangmu. "Duduk seharian ditemani sekretarismu yang cantik?" candaku, melingkarkan tangan lebih erat ke pinggangmu.

Kamu tertawa, menampilkan sederet barisan gigi rapi yang selalu kamu rawat dengan mendatangi klinik gigi tiga bulan sekali. "Ah, itu belum ada apa-apanya."

"Lantas apa?" ucapku, berganti mengusap rahangmu yang kokoh. Pasti baru pagi tadi kamu bercukur, tak ada rambut-rambut halus yang biasanya menggelitik saraf perabaanku. "Melayani klien-klien mu yang tak pernah mau repot menutupi belahan dada mereka?"

Kamu masih tertawa. "Kalau senang hanya sebatas menonton belahan dada, aku bisa membeli yang lebih dari itu Na."

Aku mundur, menjauhkan diriku dari tubuhmu. Berpura-pura kesal, "Ooo.. Aku baru ingat kalau kamu perancang interior yang sukses. Yang gajinya lebih dari delapan digit. Yang banyak dikelilingi wanita cantik. Yang..."

Aku tak bisa bicara, kecupanmu mengunci bibirku. Beberapa detik suasanya sunyi, hanya deras hujan terdengar menghantam atap rumah beramaian. Saat nafasku--dan kamu mulai saling balas dengan interval yang sempit, kamu berhenti. Kita berdua tau, ada batas yang boleh disentuh tak peduli betapa kuatnya keinginan yang kita punya.

"Aku sayang kamu, Na."

Aku kembali menyandarkan diri di dadamu, duduk di sampingmu ditemani suara hujan adalah agenda favoritku. "Aku tau, Bar."

"Jadi, ibu editor ada kegiatan apa akhir pekan nanti?" Bara mengecup dahiku dengan kecupan panjang setelah selesai mengutarakan pertanyaannya, memberiku jeda untuk menjawab.

Kuhela nafas, merasa bersalah akan memberikan jawaban yang mengecewakan. "Ada beberapa buku yang harus terbit akhir bulan ini, maaf. Pasti aku menggagalkan kencan kita lagi kan?"

Pandangan Bara lurus menatap mataku, sesaat membuatku lupa bahwa kakiku masih menapak bumi. "Ada restoran Italia yang baru buka, milik temanku. Tadinya aku mau bawa kamu kesana. But since you can't make it, then I'll bring the foods to you, your Highness."

"You don't have to," aku merenggangkan badan, merasa kaku ada di posisi yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama.

Bara tersenyum, tangannya merapikan helai-helai rambutku yang menutupi wajah. "But I want to."

Kita saling mengecup lagi. Membiarkan deras hujan turun sesukanya, membiarkan dingin temperatur ruangan digantikan panas tubuh satu sama lain yang melebur satu.

I can't wish for a better lover, love.

4 comments:

Anonim mengatakan...

aaaahhh, membacanya membuat aku merasa menjadi pemeran utama, dan karenanya di akhir kalimat setelah selesai membaca aku menjadi bahagia =D

Aulia Fairuz mengatakan...

Hai! Terimakasih sudah membaca.. Rangkaian kata-kata memang punya daya membahagiakan yang luar biasa ;)

Anonim mengatakan...

It's 8 digit, Sayang

Aulia Fairuz Kuntjoro mengatakan...

Ouch, iya. Barusan kuhitung dengan jari. Lupa kalau digit berarti bukan nolnya saja. Terima kasih, Anon!

 

Template by Best Web Hosting