Rabu, 31 Desember 2014

Memaksa Hati


"Pernah nggak sih dia bilang cinta sama kamu, Ras?" ucap Asti geram melihat Laras. Laras diam, Asti tau jawabannya tidak mungkin iya kalau reaksi Laras begini.

Laras, sahabatnya yang sampai sekarang tak kunjung membuka hati untuk kehadiran laki-laki lain. Asti sendiri heran, padahal laki-laki yang mendekati Laras tak ada yang nilai kualitasnya kurang dari 8 dalam skala Asti. Dengan nilai sebesar itu, kandidat yang bersangkutan sudah tentu mapan dan tampan.

Laras berdehem, gerah dengan diskusi yang sering sekali menyangkut topik yang sama. "Soal hati mana bisa dipaksain sih, As." lanjutnya menyeruput coklat panas yang terhidang.

"Ya tapi kan bukannya tanpa diusahain juga, Ras." lanjut Asti tak mau kalah. Pasalnya, Asti tak tahan melihat Laras yang kerap menolak banyak pelamar dengan alasan yang tak jelas. Laras bisa saja pongah di usia seperti sekarang, tapi tiga-empat tahun lagi? Siapa yang akan melamar perempuan berusia hampir tiga puluhan kalau bukan bujang lapuk yang tak laku di pasaran? Hiiii membayangkannya saja Asti takut.

Laras membolak-balik buku menu, wajahnya tenang seperti biasa. Apapun yang menjadi kekhawatiran Asti tak pernah dianggapnya serius. "Aku lebih baik sendiri daripada menghabiskan waktu dengan orang yang nggak benar-benar aku cintai, As." jelasnya gamang.

Asti menghela napas, tau betul apa yang dimaksud Laras. "Ras, aku tanya sekali lagi. Emangnya pernah dia bilang cinta sama kamu?"

Laras tersenyum lagi. Enggan menjawab. Asti tak akan pernah mengerti apa yang membuatnya tak bisa melupakan Reyhan sampai sekarang.

"Kalau dia emang cinta sama kamu, dia nggak akan meninggalkan kamu, Ras."

Dia tidak pernah meninggalkan aku, As. 
Hidupnya sangat penting buatku sampai aku tak ingin merusaknya demi memuaskan egoku sendiri. Dia tau sebesar apa aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, tapi semesta tau ada perempuan lain yang berhak menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.

Sabtu, 20 Desember 2014

Jarak? Masalah?


"(apakah) Jarak (menjadi) masalah buat kamu?" seseorang menanyakan kepada saya saat sedang mengobrol dengan konteks hubungan jarak jauh.

Saya diam, memutar kembali memori di kepala saya. Sepanjang sejarah hubungan saya, hampir semuanya memiliki pertemuan yang sangat terbatas. Penyebabnya memang bukan jarak, tapi kesibukan saya dan (saat itu) pasangan yang tidak bisa ditinggalkan.

Tidak bisa? Koreksi. Mungkin kami sama-sama tidak ingin meninggalkan kesibukan. Namanya juga mahasiswa tingkat tanggung pasti lebih suka pacaran dengan organisasi ketimbang duduk menonton film dengan perempuan, iya nggak sih? Hehehe. Sedangkan saya yang suka cari kesibukan (dan uang jajan tambahan), lompat dari satu event ke event lain untuk bekerja sampingan.

Sayang nggak sih? Tentu saja sayang. Kalau nggak, kenapa dipacarin? :p Tapi ini soal susunan prioritas, pada saat itu dia bukan prioritas saya. Dan (untungnya) saya juga nggak ada di susunan prioritas dia. Adil? Bisa jadi.

Sekarang kembali ke pertanyaan awal. Apakah jarak bisa menjadi masalah?

Logikanya (belum menggunakan teori karena saya nggak buka textbook kuliah) apapun dalam hubungan bisa menjadi masalah. Jangankan jarak yang bikin orang jarang ketemu, intensitas waktu bertemu terlalu sering juga bisa jadi masalah dalam hubungan. Alasannya macam-macam, mulai dari bosen, nggak sempat kangen, atau malah ruang personal yang makin sempit karena terus-menerus merasa diintervensi pasangan.

Bicara tentang hubungan berpacaran memang nggak lepas dari dinamika kepribadian orang yang mengalaminya. Kalau di Indonesia, pasangan yang berpacaran serius umumnya ada di populasi dewasa awal (17-24 tahun). Berbeda dengan hubungan pernikahan atau hubungan intim non-pernikahan di jenjang usia setelahnya, individu sudah lebih stabil dalam mengelola emosi jadi hubungannya cenderung lebih ayem dan minim konflik.

Trus gimana dong yang pacaran? Ya nggak apa-apa. Mau gimana lagi? :p

Konflik dalam hubungan berpacaran bisa jadi latihan yang bagus bagi perkembangan individu baik dari segi kognisi (pemecahan masalah) maupun emosi (regulasi emosi negatif; empati). Jadi, berlatih dan jadilah juara! :))

Soal jarak? Kalau memang merasa nggak bisa memiliki hubungan yang minim pertemuan ya baiknya nggak memaksakan. Serius deh, apa sih enaknya sok kuat dihantam jarak kalau membuat diri sendiri jadi mellow terus menerus? Capek ah. Saya pribadi nggak pernah mempermasalahkan jarak, mau Bandung-Jatinangor, Jakarta-Jatinangor, Jepang-Jatinangor, atau New York-Jatinangor (kok, pamer mantan?) rasanya sama sulitnya.

Kalau mau optimis, teknologi sudah banyak membantu kok. Messaging app yang nggak menguras kantong atau skype yang bisa mengobati rindu melihat wajah pasangan bisa jadi faktor pendukung mengiyakan sebuah hubungan jarak jauh. Persoalannya, apakah pasangan punya keinginan dan usaha yang sama untuk menjaga komunikasi? Segala macam solusi teknologi cuma jadi sampah kalau yang bersangkutan nggak menyediakan waktu, betul apa betul?

Sabtu, 06 Desember 2014

I will stay


Kamu membuka mata, perlahan. Mungkin sudah bosan tertidur lama, aku tak menyingkap tirai kamar karena tak ingin sinar matahari mengganggumu. Kita sama-sama membenci matahari, terlebih saat terangnya tak berperasaan merobek malam. Malam kita.

Dahimu mengernyit kala menemukan wajahku tepat di depanmu, "Kenapa, Sayang?"

Mungkin ekspresiku aneh, mungkin senyumku terlalu lebar sampai kamu kira aku menyeringai, atau apalah. Tapi kamu harus tau bahwa aku bahagia, lebih dari yang kamu bisa bayangkan. "Bukan apa apa," jawabku tak menjauhkan diri dari wajahmu yang bertambah heran.

Sebuah kecupan mendarat. "Kamu tau itu bukan jawaban, kan?" lanjutmu mengunci aku di dekapan. Mendaratkan kecupan acak lagi dan lagi sampai aku terkikik geli.

...

Semalam kamu pulang, kelelahan. Setelah bertemu dengan entah siapa untuk urusan apa, kamu merebahkan diri di atas kasur, sedikit bicara. Sedikit bicara karena tubuhmu butuh istirahat secepatnya, bukan sedikit bicara seperti saat kita bertengkar.

Kita diam saat bertengkar, tak ada caci maki yang keluar. Kita seperti membiarkan sepi dengan pedangnya mengoyak hati kita masing-masing namun tak pernah membiarkannya menang karena kita akan tetap tidur saling memeluk. Meskipun kamu menyebalkan, meskipun aku kekanakan, meskipun kamu sangat marah, atau aku sesenggukan. Peluk akan selalu menang, sepi boleh mati saat kita menginginkannya pergi.

Saat obrolan kita terhenti, aku tau lelap sudah memelukmu dalam buaiannya. Dengkurmu terdengar teratur, semoga kamu sudah benar-benar terlelap. Saat begini, biasanya aku akan mulai menulis. Bukan, bukan tentangmu. Setidaknya, bukan hanya tentang itu. Seperti penulis kebanyakan, isi kepalaku akan datang bergerombol saat gelap. Aku sendiri tak tau pasti alasannya, mungkin mereka satu familia dengan kelelawar. Hanya butuh sejenak saat diberikan lorong keluar, ide-ide langsung terbang beramaian melalui ujung-ujung jariku, menjelma menjadi baris-baris kalimat yang memenuhi halaman kosong file di layar notebook.

"Sayaaaaaang.." suaramu terdengar. Aku yang sedang mengetik menghentikan kegiatan sejenak, takut suara peraduan jari dan tuts keyboard mengusik tidurmu. "Kemarilah, dekap aku erat-erat."

Dengar Sayang, yakini satu hal, kamu akan selalu didahulukan, tak peduli tokoh utama dalam ceritaku sudah hampir bertemu kekasihnya setelah berpisah bertahun lamanya. Apapun bisa menunggu, pintamu akan selalu menduduki nomor satu urutan prioritasku. 

Aku beringsut mendekat, mendekapmu erat. Merasakan bagaimana napasmu beralur, menikmati napasku yang menjadi seirama. Lambat dan tenang. Saat beberapa menit berlalu, aku bergerak pelan, ingin meneruskan kisah si tokoh utama yang hampir menemukan kekasihnya. Kasihan, aku tak ingin dia kesepian sementara aku bahagia di sampingmu semalaman.

"Stay." tukasmu sambil tetap terpejam, mengeratkan pelukan. Lenganmu kaku memagari, mencegah aku pergi. Baiklah, tokoh utama ceritaku harus tabah menerima nasibnya malam ini. Besok akan kutuliskan pertemuan yang menyenangkan untuknya sebagai imbalan.

Sedang aku, memasrahkan diri dalam pelukmu.

Bahagia selamanya

"Makanlah, aku tidak lapar." ucapmu menyuguhkan semangkuk sup panas. Di luar hujan, petir menyambar seperti tak ada bosannya.

Aku mengangguk, sambil mengigil. Mulai menyendokkan sup hangat yang rasanya kudalami sebagai bentuk kepedulianmu. 

Bukan cuma semangkuk sup. Soal bahagia pun kamu begitu.

"Semoga kamu bahagia, selamanya." aku berujar khidmat, menyampaikan harap ke atas langit. Semoga karma baik menjadi sayapnya, semoga tak lelah mengepak sebelum sampai ke telinga semesta.

Tanganmu merengkuh pinggangku. Kuat. Bukan kuat penuh arogansi, kuat yang menenangkan. Rasanya aman, namun tetap membebaskan. "Tak perlu. Aku suka begini saja, bahagia selamanya boleh untukmu."

"Selamanya terlalu banyak." aku menjawab dengan sekeping dusta. Nyatanya aku mustahil bahagia kalau kamu belum merasakannya. Kamu mungkin lupa, ada bagian dari hatiku yang kutanamkan tepat di jantungmu. Degupnya menguatkanku. "Bagaimana kalau separuh, saja?"

Kamu menjawab tanpa lebih dulu memberi jeda, "Tidak. Bahagia selamanya untukmu."

Aku menutup mata, mengerahkan semua daya yang aku punya untuk bicara. 'Semesta, mari kita uji seberapa peka telingaMu mendengar doa. Kalau harapan soal bahagia selamanya sudah sampai dan akan Kau kabulkan, aku ingin mengajukan penawaran. Ketimbang menggandakannya menjadi dua bahagia atau membaginya untuk dua orang berbeda, bagaimana kalau Engkau satukan saja kami. Tak perlu memberi apa-apa lagi setelahnya, bahagiaku ada di tiap hela napas ciptaanMu yang satu ini.'

Jumat, 05 Desember 2014

2 hal

Ada dua hal yang tidak akan kita perdebatkan lagi.
Perasaan masing-masing dan kesehatanku.

Yang pertama karena kita saling maklum tentang perasaan yang datangnya terlambat dan serba tak tepat. Kamu maklum bahwa aku kadang tak bisa menahan diri berucap cinta. Aku maklum bahwa kamu enggan mengucap cinta. Mungkin tak ingin aku jatuh lebih dalam lagi, tak ingin aku nanti terluka lebih lama, tak ingin menyakitiku lebih parah.

Kesehatanku. Alasan kedua karena kepalaku kadang berhenti berfungsi dalam menghindari pantangan yang sudah ada bertahun lamanya. Bersikeras mengabaikan waktu istirahat saat inspirasiku datang bergerombol. Kamu ada disitu, kadang memperingatkan dengan lunak, menjadikan peluk dan kelakar sebagai senjata utama. Namun seringnya harus beradu keras dengan kepalaku yang disusun oleh batu sebagai elemen utama. Kala nadamu naik, aku berhenti bicara.

Kita saling takut kehilangan. Kamu takut aku mati. Aku takut kamu pergi.
Maka kita berhenti saling mendebatkan alasan dan merapatkan pelukan.

Minggu, 30 November 2014

Resto 30 tahun


"Dulu, waktu ayahku masih muda, beliau mengajak pacarnya makan disini." ujar si laki-laki sambil membukakan pintu mobil.

Perempuan terperangah, takjub. Seperti perempuan kebanyakan sangat suka romantisme gaya lama, dimana kesetiaan belum jadi mitos dan bualan belaka. "Ibumu?"

"Oh, bukan." jawab laki-laki cepat mengoreksi. "Ayahku macan kampus, pacarnya banyak. Katanya resto ini selalu berhasil menaklukkan hati wanita-wanitanya. Kecuali ibuku."

Langkah perempuan berjalan, mengikuti setapak batu yang ditata di pelataran berumput. Kakinya harus hati-hati sebab hujan baru saja turun, licin. Tangan laki-laki tau-tau ada di belakang pinggangnya, berjaga kalau dirinya kehilangan keseimbangan. Beberapa detik, mereka dilingkupi sunyi.

Mereka duduk di resto lawas, berusia sekitar 30 tahun. Dengan taplak meja pola bujur sangkar berwarna merah putih, di tengah resto ada taman kecil yang memberi nuansa hijau. Rasanya seperti pesta kebun dengan sepi sebagai tamu-tamunya. "Kamu suka?" tanya lelaki was-was.

Perempuan mengangguk. "Jadi, aku perempuan ke berapa?"

"Maaf?" laki-laki mendengar apa pertanyaan perempuannya, dia hanya mengulur waktu untuk menjawab.

"Lupakan." lanjut perempuan sembari melemparkan senyum. Suasana baik begini tak sepadan bila dirusak ego khas keperempuanannya. Dihirupnya udara dalam-dalam, wangi hujan.

Perempuan di depannya memejamkan mata, seperti memasukkan udara sebanyak yang dia bisa ke dalam paru-paru. Rautnya tenang dan menyejukkan, laki-laki terkesima. Jarang dia bisa melihat perempuan dalam ekspresi diam begini, seringnya bicara tak bisa berhenti.

Kalau ayahnya benar, seharusnya resto magis ini bisa menaklukkan hati si perempuan. DIa tak perlu belasan perempuan, kalau perlu kekuatan untuk menaklukkan hati belasan perempuan itu disalurkan saja demi menaklukkan perempuan di depannya ini.

Lelaki tak pernah tau. Perempuan di depannya tak memiliki hati.

Kamis, 27 November 2014

First time ever! Nonton sendiri


"Apa rasanya sendirian?"

Buat extravert? Siksaan! Sungguh, saya lebih suka terjebak di keramaian orang-orang yang sama sekali nggak saya kenal dibandingkan harus sendirian lama-lama. Lagian, kalau ada orang lain di sekitar saya kan saya setidaknya bisa mencoba kenalan. Kalau beruntung, tukeran kontak :))

Jadi ceritanya hari ini saya merasa sendirian. Iya, kuliah di semester akhir yang kelasnya banyak bolong dengan tebusan tugas luar biasa membuat saya merasa hidup saya kosooooooong sekali.

Berhubung film bagus sedang banyak di bioskop, saya memutuskan untuk melakukan hal yang saya inginkan dari dulu, Nonton Sendirian! Tentunya bukan nonton satu teater sendirian, nggak mampu beli tiketnya :p. Saya beli tiket sendiri, beli popcorn karamel sendiri, dan duduk manis menunggu teater dibuka. Sambil ngemil popcorn yang habis bahkan sebelum saya masuk ke teaternya. Hahaha.

Dua pengunjung lain duduk di kursi tunggu di depan saya, sepertinya berpasangan. Darimana saya tau? Dari gerak perempuannya yang menyandarkan kepala ke bahu si lelaki. Dari perempuan yang sesekali mengecup rahang bawah si lelaki. Dari... ah yaudahlah.

Tapi pandangan lelakinya nggak tergerak sedikitpun dari... layar device.

Membayangkan rasanya merangkul orang tersayang, sesekali mengecup mesra, dan dikalahkan oleh entah apapun yang ada di layar device. Saya merasa lebih baik sendirian saja.

Rabu, 26 November 2014

Hangatmu

 

Aku duduk di sampingmu usai mandi, masih terlilit handuk. Kamu menoleh, memberikan atensi setelah bermenit mengurusi soal pekerjaan dari layar tablet. "Sayang, bahumu masih basah.."

Kebiasaan buruk, aku sering melewatkan bahu untuk dikeringkan selesai mandi. Kamu mengambil selembar handuk yang tergeletak di atas tempat tidur. Kebiasaan burukmu, susah sekali meletakkan handuk pada tempatnya selesai mandi. Aku tertawa kecil.

"Kenapa, Sayang?" tanyamu sembari mengusapkan handuk ke bahu kiri yang di atasnya masih ada titik-titik air, aku menggeleng pelan. "Kamu kedinginan?"

Aku menggeleng lagi, dingin menyerah pada hangat yang kamu pancarkan tiap kali kita berdekatan. Satu kecupan mendarat di bahuku, hangatnya menjalar sampai ke ulu hati.

Jangan pergi, Sayang. Nanti aku bisa mati beku.

Sabtu, 15 November 2014

Cinta di luar nalar

Sore ini, di tengah kemacetan gila Kota Bandung. Ditemani hujan deras yang tak henti disingkirkan sepasang wiper kaca depan mobil kami. Aku dan dua orang lain sedang menikmati bunyi tabrakan air dan atap mobil yang terdengar berirama acak.

"Sayang, kalau kita berpisah nanti...." suara tenang milik perempuan yang padanya surgaku ditentukan mulai mencuri atensi. "...maksudku, kalau salah satu dari kita pergi lebih dulu..."

Ah, kematian. Aku mengalihkan pandang, pengendara motor mulai berlomba menggagahi trotoar karena tak sabar mengantri jalan. Seorang ibu yang berjalan memakai payung sampai harus minggir hampir masuk selokan, celananya terkena cipratan genangan air bercampur lumpur karena roda sepeda motor. Beberapa manusia dilahirkan dengan ketidakpedulian yang besarnya luar biasa.

"...aku mau kamu tidak meratapiku." lanjut perempuan sambil menatap ke lelaki di balik kemudi. Ada kekuatan semesta yang dititipkan lewat mata perempuan itu, ada daya yang menyesap habis oksigen tiap kali dirinya berbicara. Aku pernah menjadi lawan bicaranya, dalam banyak situasi napasku menjadi sesak. Kadang oleh haru, seringnya syukur tak terkira.

Lelaki yang umurnya sudah melampaui setengah baya menarik napas. Benar kan, pasti dadanya sesak sekarang. "Semua orang bisa bersedih, Sayang." jawabnya tak berminat melanjutkan pembicaraan. Dibawanya mobil melaju pelan, ada sedikit jarak di depan.

"Iya. Setiap orang boleh bersedih. Aku hanya tak mau diratapi." ujar perempuan mengulang inti permintaannya. Sekarang lebih terdengar seperti paksaan. Aku mengangkat bahu, bentuk cinta seperti ini sudah di luar nalarku.

"Kemana kita setelah ini?" pertanyaan dilemparkan ke udara oleh lelaki yang terlihat terganggu, tak jelas ditujukan pada siapa. Sekarang aku tau darimana insting berlari dari masalah diturunkan pada darahku.

"...Sayang, maka dari itu aku mau waktu kita berdua dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jadi nanti saat kita sudah tak bisa bersama, memori-memori baik yang terus kamu kenang dalam kepala." selesai, perempuan sampai pada penutup kalimatnya.

Tak ada jawaban, selama ini sunyi artinya lelaki setuju. Atau tepatnya, memilih untuk setuju demi senyum kecintaannya. Iya, untuk yang terakhir itu sang lelaki memang mengenyampingkan banyak hal demi melihat senyum yang membuatnya gila sejak bertahun silam. Senyum perempuan yang turun ke garis bibir anak-anaknya. Senyum perempuan yang magis, tak pernah mengundang jenuh meski sekalipun.

...

Anak perempuan di kursi belakang melengkungkan senyum. Nalarnya memang tak pernah sampai ke bentuk cinta seperti ini namun dia bahagia.

Minggu, 09 November 2014

Sebuah tawaran


"Apa kabar?" lelaki di seberang meja menyapa perempuan bersyal merah yang tengah berdua dengan secangkir coklat panas. "Masih ingat aku?" lanjutnya dengan senyum merekah, tak pernah disangkanya semesta berbaik hati dengan sebuah pertemuan dari bagian hidupnya dari masa lalu.

Senyum pendek terulas dari bibir si perempuan. Ditahannya kata-kata agar tak banjir keluar, segenap kekuatan dihimpunnya demi menenangkan diri sendiri. "Baik." jawabnya tak ingin meneruskan basa-basi.

"Bagaimana ceritanya sampai kamu ada disini?" lelaki berpindah duduk, lancang menarik kursi tanpa sedetik pun melepaskan pandang dari wajah kaku perempuan. "Berapa tahun ya, lima?"

"Entahlah." respon perempuan yang tak jelas untuk pertanyaan yang mana. Perempuan tau sudah lima tahun, tujuh bulan, dua puluh satu hari mereka berpisah. Tak ada hari yang dilaluinya tanpa lebih dulu menyesap sakit hati sambil menyeruput kopi paginya. "Bagaimana pernikahanmu?"

Pertanyaan pertama, tajam tanpa manis yang dibuat-buat. Lima tahun lalu ditinggalkannya perempuan di depannya ini untuk alasan itu, pernikahan. Pernikahan yang kemudian enggan dipertahankannya dengan bualan kesetiaan. "Sudah tidak ada. Dua tahun lalu."

Perempuan terdiam. Kalau dia tak ingat untuk menahan diri, pertanyaan 'Lantas kemana saja kamu dua tahun lalu? Tidak mencariku? Tidak bertanya apakah aku mau kembali padamu?' pasti akan keluar dari mulutnya. "Aku turut berduka." ucapnya berusaha terdengar simpati. Meskipun sejujurnya sulit ikut bersedih akan hancurnya sesuatu yang sudah meremukkan hatinya berkeping-keping.

"Tak perlu. Dia tetap bahagia tanpaku." ujar lelaki pahit. Ada senyum asing yang tersungging, entah untuk apa. Mungkin dia sedang meneriakkan banyak kata tolol untuk keputusan yang diambilnya sendiri waktu itu.

Tangan perempuan mengepal di atas pangkuannya. Geram. Mudah sekali lelaki mengambil asumsi. Tak pernahkah terpikir bagaimana sulitnya bahagia tanpa orang yang kita cintai? Mungkin memang pada dasarnya isi kepala lelaki penuh keegoisan yang luar biasa tolol. Dikiranya semua orang cepat pulih dari patah hati. Mata perempuan nanar menatap ke luar jendela, hujan masih turun perlahan.

"Bagaimana denganmu?" tanya lelaki ingin menyudahi nostalgia yang berputar dalam memorinya. Dulu seperti ini saat pertama kali mereka berkencan, di luar hujan, perempuannya datang dengan baju hangat berwarna merah, mereka duduk berdekatan demi menghangatkan diri satu sama lain.

Perhatian perempuan tercuri, ditolehkannya kepala ringan "Hidupku? Biasa saja." jawabnya tanpa intensi meneruskan cerita. Biar suara dalam kepalanya saja yang meneruskan bagaimana dia rindu, bagaimana dia menghitung tiap hari yang dia lewati dengan pertanyaan kapan lelakinya akan kembali, bagaimana dia lelah berharap dan memutuskan untuk bertahan saja dengan apa yang ada. Hati yang remuk, keyakinan yang sudah ditelan masa lalu.

"Kamu pulang sendirian? Mau aku temani?" ego dilesakkan si lelaki ke perut Bumi, musnah. Biar kalau kemudian yang didapatnya adalah cacian dari perempuan, dia tak peduli. Semesta tak mungkin mempertemukannya dengan perempuan ini tanpa alasan. Dahulu dia boleh salah mengambil putusan, kali ini dia akan bertahan. Sudah disiapkannya pipi kalau-kalau harus ada satu dua tamparan yang mendarat. Dia merasa pantas mendapatkan yang lebih dari itu.

Perempuan tertawa kecil, tawa yang sengaja diberikan untuk mengejek ajakan lelaki dengan tatap penyesalan di depannya. "Percuma. Jangan menawari aku kalau waktu yang kamu punya cuma sebentar."

"Kali ini aku punya selamanya, Selma." jawabnya tanpa menunggu.

Kalau selamanya, perempuan itu tak mungkin menolak.

Kamis, 06 November 2014

Surat kejujuran


Ada kotak surat yang kubuat untukmu. Disandikan namamu, beralamatkan nama tempat kita sering bertemu. Tidak, kamu belum boleh mengetahuinya sekarang.

Kenapa. Itu jadi persoalan tersendiri. Yang jelas bukan untuk melucu seperti aku biasanya saat merahasiakan kecupan-kecupan kecil yang kuharap jadi pelipur laramu.

Mungkin karena aku menyiapkan semuanya untuk nanti. Saat kita sudah tak bertemu lagi. Saat kita akhirnya menyerah kalah oleh takdir, bukan malah berkonspirasi dengan malam untuk meminjam gelapnya.

Ada banyak sekali surat yang kutulis untukmu. Tiap masing-masing kalimatnya kurangkai dengan sepenuh hati. Bukan berarti semua tentang bahagia, namun semua tentang kejujuran.

Seperti kejujuran bahwa aku akan sulit sekali melupakanmu.

Selasa, 04 November 2014

RED!


Dekat


Tersebutlah kita, dua yang dipisahkan oleh mil-mil jarak. Jangan kira aku melemah, kamu tau bahwa tentang mempertahankanmu aku tak pernah kalah. Tulisan kali ini bukan tentang keluhanku atas waktu pertemuan yang seadanya, setelah masing-masing dari kita mulai jengah oleh tawa meremehkan milik rindu.

Begini, kalaupun kita tergambar sebagai dua titik yang dekat pada peta, tetap saja temu jarang memenangkan pertarungan yang diprakarsai oleh takdir. Kita berdua tak akan pernah lupa bahwa tak sembarang suasana ramah terhadap kita, sepasang. Hanya tirai malam yang selalu membiarkan kita bercumbu tanpa henti. Alasannya, kamu tau.

Lalu soal dekat. Aku lebih sering mendeskripsikannya dengan perasaan hangat kala tak sengaja kita ada di tanah yang sama. Maka kamu sering sekali menerima pesan konyol dariku seperti, "Aku sedang memandangi langit yang sama, awan dengan bentuk persis sama seperti yang kamu ceritakan. Sudahkah kamu merasa dekat?"

Iya, aku mencukupkan bahagiaku di batas itu.
Kamu akan membalasnya dengan senyum, bahkan tawa kalau aku sedang beruntung.

Siapa menyangka kalau kemudian di satu titik awal dimana kita akan kembali mengizinkan mil-mil jarak untuk menjauhkan kita, kamu datang. Kamu datang menantang siang, seperti berkata bahwa sesekali kita tak perlu sembunyi.

"Sudahkah kamu merasa dekat?" ujarmu yang tak sampai semeter dariku.

Aku mengangguk cepat. Ada yang mengalir hangat mengisi rongga dadaku, rasanya seperti menghirup udara bercampur bahagia yang menyumpal tiap alveoli hingga aku kesulitan bernapas. Kalau terlalu lama begini, aku bisa mati.

Tapi siapa pandir yang akan protes kalau mati karena terlalu bahagia, kan?

Jumat, 24 Oktober 2014

Mereka yang menunggu


Bagaimana kalau sebenarnya, mereka yang menunggumu adalah mereka yang terburu-buru. Mereka yang mati-matian menahan kaki-kakinya berlari.

Bagaimana kalau sebenarnya, mereka yang menunggumu adalah mereka yang sudah pasti. Tak lagi bergulat dalam tumpukan rencana yang tak rapi.

Lalu kamu berkata bahwa kamu sepenuhnya sendirian.
Tak ada yang menginginkan.

Lalu kamu berkata bahwa kamu diciptakan tak untuk berpasangan.
Tak ada yang memberikanmu kepastian.

Bagaimana kalau mereka yang menunggumu sebenarnya adalah mereka yang takdirnya kamu tunda. Bagaimana kalau kamu yang menyebabkan langkah mereka terhenti.

Beri kesempatan mereka yang mau bersusah payah menunggu.

Selasa, 21 Oktober 2014

Saat semesta melucu

Pagi itu kita terburu-buru. Matahari meninggi, kamu tak boleh terlambat. Sedang aku, harus selekasnya pergi. Aku masih ingat, hari itu Minggu. Iya, aku mengingatnya karena pada hari lain kamu tak mungkin jadi milikku. Aku tak mungkin bisa bangun dan mengecup hidungmu lalu setelahnya menertawakan wajahmu yang mengerut lucu.

Aku keluar kamar mandi, dengan menggelung rambut yang basah di dalam lilitan handuk. Pun tubuhku, masih dihinggapi bulir air di beberapa bagian. Kamu sudah rapi, duduk di sisi tempat tidur, hendak bersepatu.

"Sayang, aku lupa hari ini atasanku berwarna merah. Lihatlah," kamu memanggil aku yang masih sibuk mengeluarkan baju.

Aku lantas mengganti tujuan pandang, ke tempatmu berdiri sekarang. Sepatumu berwarna biru, kontras sekali. Aku kemudian tertawa, kamu mengangkat bahu. Sesaat kemudian tatapku bergeser ke sepatu dengan pita kecil berwarna merah darah, milikku.

Lalu aku tertawa lagi. "Sayang, lihatlah.." ucapku sambil menyodorkan sesuatu agar lebih dekat dengan penglihatanmu.

Aku tak ingat, ternyata bajuku berwarna biru.

Kita tertawa bersamaan.
Kadang semesta bisa jadi sangat lucu.

Senin, 20 Oktober 2014

Suatu malam kala kamu datang


Suaramu meninggi, aku menarik napas. Hari ini banyak ujian yang datang, kamu terlalu lelah untuk bermanis-manis sesampainya di rumah. Lucunya, aku sama sekali tak terganggu dengan itu.

Bukan Sayang, aku bukan penyabar. Kamu tau berapa kali aku menggeram marah karena kolegaku yang tidak bekerja benar atau berapa kali aku membanting kesal barang-barang rumah kita yang sengaja dipilih agar tahan saat terjatuh.

Mungkin sepertimu juga, sudah kupilih yang tetap bertahan meskipun aku menyebalkan dan sering menjatuhkan.

Kembali lagi soal kamu. Malam itu tak indah, meskipun suara mobil di luar tak sebising biasanya, meskipun rintik baru usai meninggalkan jalan yang kelihatan mengilap diterpa lampu kendaraan. Kamu jadi alasannya.

Senyummu menghilang, diganti kerut penat yang ingin segeranya aku hilangkan. Kamu memeluk sekadarnya saja, agar aku tenang dan tak bertanya makin banyak. Iya Sayang, aku sudah menahan diri untuk tak terus menanyaimu soal sebab.

Kita kemudian menyantap apa yang ada saja. Duduk berhadapan sambil mengunyah yang tak terasa nikmat di lidahku. Kamu tak berselera, membuatku makin jengah.

Aku mengamati kamu yang sesekali meneguk, sesekali bernapas berat, sesekali memberikan senyum hambar ke rautku yang bingung. Katakan Sayang, mahluk seperti apa yang berani mencuri lengkung bahagiamu. Mahluk seperti apa yang berani mengganggu satu-satunya Kesayanganku.

Pasti tak pernah dirasanya amarah seorang pecinta.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Syukur


Pagi ini tak semanis biasa. Banyak alasannya.

Semalam kamu pulang terlambat padahal aku menunggu dengan meja penuh hidangan istimewa.

Aku sudah sesiangan berkata bahwa aku rindu, aku sudah seharian mengirimkan pesan mesra, aku sudah memberi tau bahwa malam nanti aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Aku menunggu sampai habis kesabaran, membuang semua masakanku sendiri ke tempat sampah di dapur kita. Sembari menangis kesal. Aku tau alasanmu pulang terlambat. Bulan-bulan ini pekerjaanmu menumpuk banyak. Sejak dulu kita tak pernah mempersoalkan mana lebih dulu, aku atau pekerjaanmu. Namun rindu-rindu ini menyesakkan.

Dan kita sepakat bahwa perasaan tak pernah bisa dipersalahkan.

Paginya kamu datang, baru pulang dengan raut muka berantakan. Berjingkat pelan takut membangunkanku yang tertidur di sisi kanan tempat tidur. Kamu lupa bahwa aku tak pernah nyenyak tanpa kamu mendekap, bunyi anak kunci yang memutar di lubangnya dari lantai bawah pun bisa membangunkanku. Demi menjaga agar kamu tak merasa bersalah, aku tetap memejamkan mata.

Kamu tak pernah tau damai dan tenangnya menghirup aroma tubuhmu di sampingku.

Siangnya, saat aku sudah bangun sempurna, kamu justru masih lelap tertidur. Aku beringsut mendekat, mendengarkan irama napasmu yang pelan dan teratur. Ada hangat yang mengalir di dalam dadaku, seperti syukur yang berbaur dengan riuhnya bahagia karena ada di dekatmu. Iya, aku sejatuh cinta itu.

Tapi kita tak sering bicara cinta. Cinta bukan rangkaian kata tak berguna, katamu. Dengan tangan dan perbuatan, kamu tunjukkan cinta. Dengan pemahaman dan kesetiaan, aku mempersembahkan cinta yang aku punya. Setidaknya begitu yang kita percayai selama ini.

Seperti kamu percaya bahwa kebaikan adalah agama yang kamu pilih, bukannya datang tiap Minggu untuk bernyanyi atau lima kali sehari bergerak sambil menghafalkan bait-bait dalam bahasa asing.

Seperti aku percaya bahwa Tuhan hadir dalam semua hal nyata yang membahagiakan atau malah memberikan pengalaman tidak menyenangkan semata demi menguatkan umatNya. Kamu adalah cara Tuhan mengajari aku bersyukur.

Aku bersyukur, Sayangku.

Jumat, 10 Oktober 2014

Kabar Setahun


"Tapi kamu pernah berjanji akan menungguku," Arya bicara sambil menggenggam tanganku yang ada di atas meja. Sentuhannya sukses membuat rasa bersalahku berkali-kali lipat besarnya.

Aku menghela napas, "Kamu tak menghubungiku setahun terakhir, Ya. Sama sekali."

Arya meremas tanganku kuat, aku meringis sakit. Melihat reaksiku, segera dilepasnya genggaman tangan kami. "Taukah kamu sulitnya bertahan hanya dengan uang beasiswa, Sheil? Aku harus bekerja malam hari untuk membiayai hidupku, sementara pagi dan siangnya kugunakan untuk belajar sungguh-sungguh,"

"Seharusnya kamu tidak perlu sekeras itu pada dirimu," aku berucap datar. Aku tau mengapa kamu memilih untuk bersikeras hidup dari tanganmu sendiri. Aku tau kenapa kamu menahan untuk tidak menghubungi keluargamu dan meminta sebanyak yang kamu mau.

"Untukmu, Sheil."

Tepat seperti perkiraan. Kamu dengan bodohnya menyiksa diri demi melepaskan kewajiban untuk meneruskan dinasti keluargamu, membentuk keluarga kecil denganku. Tapi siapa yang menyangka kamu begitu bersungguh-sungguh, Arya. Setelah beberapa bulan tak ada lagi kabar yang aku dapatkan, aku berpikir bahwa kamu sudah lelah dan menghapus semua rencana kita. "Aku minta maaf," kataku, tak tau lagi harus berkata apa.

Kamu mengepalkan tangan, mengadunya dengan permukaan meja untuk melampiaskan kekesalan. "Selain permintaan maaf, apalagi yang tersisa untukku, Sheila?"

"Kembalilah ke keluargamu, Ya. Mereka pasti rindu," aku menahan genangan air mata turun dari kelopak mata. Terjebak dalam situasi ini rasanya menyakitkan. Namun kamu tetaplah kamu, laki-laki dengan kesabaran paling luas dan dalam. Tak ada cacian keluar dari mulutmu, padahal aku jelas pantas menerimanya.

Kamu menjauhkan diri dari meja. Bersiap pergi. "Maaf aku datang terlambat,"

Aku diam, yakin bahwa kalau aku memaksa diri bicara maka yang akan terdengar hanya tangis penyesalan.

'Aku yang pergi terlalu cepat, Arya.'

Kamis, 09 Oktober 2014

Review Dandi's Bunker


Ini (kalau nggak salah hitung) kali ke tiga saya mampir ke Dandi's Bunker. Halangan untuk mampirnya selain karena nggak ada temen makan ya preferensi menggunakan waktu sore ke malam hari sebagai kesempatan mengerjakan tugas atau tidoooor.

Buat yang kuliah di Jatinangor, Dandi's Bunker nggak susah dicari kok. Persis di sebelah kantor kecamatan Jatinangor, ada pintu yang dari luar kelihatannya menuju ke lorong. Pertama liat, saya nggak kebayang dalemnya kayak apa. Ternyata lorong tadi menuntun kita ke tempat makan utama yang konsepnya memang terpisah dari dunia luar. Pas masuk kesini suara berisik kendaraan di luar nggak terdengar lagi dan buat yang memang suka makan sambil nongkrong, suasananya dukung buat duduk lama-lama sambil ngobrol.

Menu yang disediakan cukup variatif. Karbohidratnya nggak cuma nasi, ada pasta dan potato wedges buat yang perutnya bule dan kenyang makan kentang beberapa potong. Buat yang butuh makan kenyang, tenang! Bagi saya yang punya kapasitas lambung di atas rata-rata pun porsi nasinya mengenyangkan.

Porsi bersamanya ada pizza yang toppingnya bermacam-macam. Saya sendiri belum pernah order menu pizza karena lebih suka nasi-kentang-pasta. Itu sih hampir semua ya. Iya. Hahaha.

Di post ini saya akan review beberapa menu favorit disini. Karena ada foto-foto stok lama yang ikut di-post juga jadi nggak semua menu infonya lengkap. Mohon dimaklumi ya :'D

Mojhito Tea Frappe
Mojhito Tea Frappe
Best Mojhito in J-town! J-nya tentu Jatinangor, hehehe. Mojhito Tea Frappe ini isinya mint syrup, rum syrup, sugar syrup, tea, lime, dan lemon grass alias batang serai/sereh. Mungkin karena pengaruh mint syrup jadi dinginnya nggak cuma karena es batu. Dari semua menu minuman, ini jadi juara satu versi saya! Sayangnya, batang serainya dimasukkan utuh padahal kalau dimemarkan lebih dulu pasti rasanya jadi makin rame. Saya akhirnya mencoba sendiri sih, menggigiti (?) batang serainya trus diaduk ke minumannya, asik kok!

Fishkrip
Fishkrip
Buat saya, ini terhitung light meal alias makanan yang dicemilin sembari ngobrol. Isinya potato wedges dan Ikan Dori lapis tepung yang dicocol mayones. Mungkin karena ekspektasi sama potato wedgesnya rendah jadi begitu nyobain jadi seneng karena potato wedges disini ditaburi bawang putih yang wanginya bikin laper. Ikan Dorinya juga nggak membuat kecewa karena tekstur dalemnya masih ciamik meskipun digoreng tepung. Maksudnya nggak jadi keras karena sudah disimpan kelewat lama di kulkas atau digoreng kelamaan.

Krimikriuk
Krimikriuk
Di menunya tertulis: "Seasoned rice with bread crumb chicken, egg, bunker creamy sauce, mozarella topping." Kalau dideskripsikan secara gampang, ini nasi panggang! Dengan nasi yang sudah dibumbui dan (sepertinya) ditumis dengan butter jadi rasanya gurih. Disajikan dengan mangkok yang masih panas baru keluar oven jadi diletakkan di atas talenan kayu. Sejauh ini saya kasi rekomendasi penuh buat krimikriuk! Dua teman saya yang saya minta untuk mencicipi menu ini pun komentarnya senada: "Enak banget!"

Selain menu-menu di atas, seperti kebanyakan kafe Dandi's Bunker juga menyediakan menu umum seperti milkshake, hot/cold chocolate, atau soda. Pastanya juga beragam seperti Aglio dan Carbonara.

Oh iya, sampai post ini dibuat di Dandi's Bunker belum tersedia wifi jadi puas-puasin dengan ngobrol sama pacar/gebetan kamu kalau makan disini :))

Ini menu-menu lain di Dandi's Bunker.
Buat yang penasaran gih mampir. Kalau nggak ada temen, saya available kok ;)









Selasa, 07 Oktober 2014

Pagi Sendiri


"Sendirian, lagi?" tanyamu mendekat, aku menoleh lalu memberikan anggukan singkat.

Desir angin memainkan rambutku yang tergerai, aku jarang mengikatnya karena aku suka kebebasan. Tak adil rasanya mengekang. Sama seperti aku yang bebas tidur dan bangun dimanapun aku mau, sama seperti aku bebas minum dan berdansa dengan siapapun yang jadi pilihanku.

Kamu mengamati aku yang masih menikmati sapuan angin di wajahku. Wajahmu setenang telaga, itu salah satu hal yang membuatku membiarkanmu duduk bersampingan denganku kala isi hatiku carut marut tak karuan. "Bagaimana malammu?"

Aku tertawa sinis. "Setidaknya lebih menyenangkan dari milikmu,"

Kamu mengangguk, tersenyum entah untuk apa. "Ceritakan padaku," ujarmu sambil menggeser posisi duduk mengarah padaku.

"Bukan urusanmu," aku menjawab defensif. Aku bukannya berbohong soal malamku, aku hanya enggan menceritakan bahwa paginya aku kembali sendirian. Saat bingar malam membuatku hidup, paginya semua kesenanganku seperti menciut lalu habis ditelan cahaya matahari. Brengsek.

Kamu masih tersenyum, sudah biasa mendapatkan perlakuan semacam itu dariku. "Malamku masih sama," katamu dengan nada datar.

Aku salah tingkah. Kita berdua tau apa kelanjutan dari kalimatmu.

"Masih menungguku."

"Masih menunggumu."

Kita berdua menyahut bersamaan.
Sayangnya, hati kita tak pernah bertautan.

Minggu, 05 Oktober 2014

Secangkir Teh Madu (untukmu)

Untuk memahami, baiknya menyempatkan diri untuk menyapa aksara di post ini.

...

Hari masih gelap, aku bangun dan bergegas ke dapur untuk menghangatkan air di panci kecil berisi daun-daun teh. Rutinitas pagi biasa, mungkin pagi ini bukan cuma aku yang melakukannya. Yang tak biasa adalah harapan yang terus kutumbuhkan tiap kali melakukan aktivitas ini.

Setengah cangkir teh panas, ditambah dua sendok makan madu hutan, diaduk perlahan sambil dikucuri air biasa. Kombinasi yang jadi favoritmu, tak pernah aku lupa. Madu hutan penting bagi kesehatanmu, aku mau kamu terus bisa menemani aku. Aku suka berbicara banyak hal bersamamu, kadang mengunci kalimat yang keluar dari bibirmu dengan kecupan singkat, kadang mengganti volume suaramu dengan dekap erat. Tiap kali kamu diam, entah karena terlalu marah atau kelelahan, aku merasa kehilangan.

Jadi bisakah kamu bayangkan hidupku beberapa bulan ini, Kesayangan?

Aku memanggilmu demikian karena 'sayang' tak pernah cukup menggambarkan yang aku rasakan padamu. Padahal kamu tak jarang menyebalkan luar biasa. Apalagi kalau tamu bulananmu datang, semua hal bisa dengan mudah mengusik ketenanganmu.

Tapi aku tak pernah sekalipun berharap melewatkan hari tanpamu di sampingku. Biar berisi gelak tawa atau omelan panjang, aku yakin segalanya akan lebih tidak menyenangkan tanpa hadirmu.

Jadi sudahkah kamu mengerti mengapa aku lebih memilih hidupku sekarang ketimbang harus sendirian?

Kesayangan, aku harap secangkir teh madu setiap pagi cukup untuk menggodamu bangun dan mencicipinya. Kamu rindu menulis semalaman, bukan? Membuat irama dari tuts keyboard di laptopmu. Aku juga sudah menyediakannya di sudut kamar, tidakkah kamu ingin bangun dan menyentuhnya?

Ada perasaan aneh tiap aku memandangimu. Rasanya seperti bahagia bercampur dengan ketakutan bahwa aku tak bisa lagi membelai pipimu secara langsung seperti hari ini. Aku butuh memelukmu setiap pagi agar aku punya alasan untuk menaklukkan kesulitan yang datang demi kembali pulang padamu. Kesayangan, tidak lelahkah matamu terpejam padahal kita bisa memandangi pendaran lampu kota dari balkon flat kita?

Kalau kamu bangun nanti, kamu boleh meminta apa saja yang kamu mau. Kamu boleh meminta wedang ronde kesukaanmu dini hari sekalipun. Kamu boleh memesan porsi steak dengan veg setup tanpa jagung, aku akan memisahkan bulir-bulir jagung yang ada di piringmu dengan senang hati.

Sampai saat itu, aku akan meletakkan secangkir teh madu di samping tempat tidurmu setiap pagi. Kalau kamu ingin, kamu boleh bangun dan meminumnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Secangkir Teh Madu


Aku melirik ke meja kecil di sebelah tempat tidur, cangkir berhiaskan ornamen mawar sudah cantik menunggu disesap isinya. Ini pasti kamu, yang setiap pagi bangun lebih dulu demi membuatkan secangkir teh untukku. Secangkir teh dengan dua sendok makan madu hutan yang katamu bisa meningkatkan daya tahan tubuhku.

Kamu tak suka dengan kebiasaanku bangun semalaman saat inspirasi menulisku sedang deras-derasnya. Namun kamu juga tak bisa melarangku, menulis bagiku adalah napas. Aku tidak mungkin hidup tanpa bernapas. 

Dan kamu bilang, kamu tak mungkin hidup tanpaku.

Aku sesungguhnya juga tak pernah tau akan seperti apa hidup jika tanpa kamu. Aku bisa gila menghabiskan hari tanpa mengawalinya dengan hangat dekapmu atau mengakhirinya dengan kecupan lembut di keningku.

Aku hanya tak pernah mengatakannya. Entahlah, mungkin ada sebagian diriku yang takut kamu kelak akan tinggi hati dan mencari hati lain untuk ditinggali. Memikirkannya saja sudah membuat aku takut setengah mati.

Lelaki kesayangan, aku tau kamu jarang mendengarku berucap cinta. Aku sungguh merasakannya dalam tiap kerat daging yang melekat di belulangku. Aku mengulangnya tiap tarik dan hembus napas yang kuhabiskan bersamamu. Aku beberapa kali membisikkannya di hadapmu saat tengah lelap, untuk memastikan kamu tak mendengarnya.

Ini bukan soal ego, meski aku yakin egoku tak kalah tinggi dibandingkan malam saat aku menulis ini untukmu. Ini adalah ketulusan, setidaknya kuharap demikian. Aku tulus mengucap cinta untukmu, tanpa berharap kamu membalasnya dengan kata-kata indah yang lebih terdengar seperti omong kosong kehidupan buatku.

Kesayangan, kalau hidup ini adalah tentang sulit dan lelah maka semua bujuk rayu roman picisan adalah pemanisnya. Ditipunya semua umat manusia agar lupa soal peluh dan darah. Tapi taukah, aku tak ingin ditipu oleh semu. Aku ingin melalui semua terik dan terjal bersamamu, aku tak takut menyusuri setapak penuh duri asal digenggam erat olehmu.

Kembali soal pemikiranmu bahwa kamu tak mampu hidup tanpaku.
Kamu bisa, Sayang.

Patah hati adalah luka kecil yang akan disembuhkan oleh waktu, kekecewaan adalah racun yang penawarnya segera datang ketika kamu berhenti meratap. Hatimu adalah yang terluas dan terkuat yang pernah aku temui, patah hati tak akan pernah menghancurkannya menjadi kepingan kecil.

Tak akan pernah ada hati yang sempurna kecuali mereka yang tak pernah mencinta, Sayang. Kalau sekiranya perempuan setelahku tak mau menerima hatimu yang retak, maka dia tak pantas bermukim di bagian lain hatimu dimana nestapa tak pernah terdengar gaungnya. Jangan biarkan dia menjelajahi luas savana-mu meski selangkah. Dia bukan orangnya.

Tak akan pernah ada hati yang tak pernah terpuruk kecuali mereka yang tak sungguh jatuh cinta, Sayang. Retak-retak hatimu adalah tanda bahwa dia pernah tegar bertahan dalam ujian. Kalau nanti perempuanmu mengharap hati yang bentuknya sempurna tanpa cela, namanya tak pantas kamu ukir di permukaan hatimu yang guratannya jadi pesona sendiri bagiku.

Aku tak ingin meninggalkanmu.
Aku tak ingin jauh meski sedepa.

Kamu tau aku selalu terbangun saat dekapmu merenggang malam hari. Aku akan beringsut pelan dan melekatkan diri ke bidang dadamu yang bergerak teratur kala kamu bernapas. Aku tak pernah mau meletakkan jarak. Jarak boleh singgah dimana saja, namun bukan di antara kita.

Tapi ajal, Sayang. Aku tak mampu menghentikan derap langkahnya yang kian cepat memburuku. Aku sudah berlari, lebih kencang dari saat aku menjemput kedatanganmu di bandara untuk kemudian menjatuhkan diri di pelukmu yang tenang. Aku sudah sembunyi di celah sempit, lebih sempit dari ruang yang kuberikan di lemari kita untuk menyimpan pakaianmu. Dia tetap saja menemukanku.

Aku lelah, Sayang.
Aku mau menyerah saja, mulai esok aku mau kamu berhenti membuatkan secangkir teh madu di meja kecil di samping tempat tidurku.

...

Sudut pandang lain tentang Secangkir Teh Madu bisa disapa disini

Jumat, 03 Oktober 2014

Semoga kamu tau


Semoga pada akhirnya kamu tau, bahwa tak mungkin mengganti aku.

Mungkin kamu bisa melupakan bekas gincu di kerah bajumu tapi tidak dengan senyumku.

Mungkin kamu bisa mengganti hadirku dengan siapapun yang kamu mau tapi sentuh dan gelak tawaku, tak bisa lagi ada di sekitarmu.

Semoga pada akhirnya kamu sadar, bahwa tak semudah itu mengakhiri yang sudah ditakdirkan.


Entah itu pertemuan kita yang tanpa rencana.

Atau rasa yang diam-diam menyelinap dan membuat kita saling butuh.

Ada yang tak sesederhana menyudahi.

Ada yang tak segampang memutuskan berpisah dan berjanji tak bertemu lagi.

(tak hanya) Janji


Masih ada satu jam lagi sampai waktu makan siang berakhir. Seperti biasa aku bisa diam menunggu sambil membaca ulang berkas bekal meeting bersama dengan klien. Aku punya kebiasaan buruk yang menahun, menjadikan makan sebagai prioritas nomor sekian dibandingkan segala kesibukan yang aku punya. Seperti siang ini misalnya.

Siang yang sama seperti siang-siang sebelumnya, kecuali kali ini ada sapaan yang mengganggu konsentrasiku. "Rana, apa kabar?"

Aku mendongak, memandang sosok yang sekarang tersenyum akrab. Membuatku mau tak mau ikut tersenyum juga. "Baik. Kamu?"

Pria berkemeja biru tua yang senyumnya makin lebar itu kemudian duduk di sebelahku. Refleks aku menggeser tempat duduk menjauh, aku belum mengingat siapa dia. 

"Rama. Inget kan?"

Seperti ada daya yang menyesap semua keinginanku untuk meneruskan obrolan ini. Senyum yang tadi aku hamburkan menjadi sia-sia rasanya. Kalau boleh mengulang, aku lebih baik tidak menanggapi sama sekali sapaan Rama dua menit lalu.

"Kamu kerja disini?" tanyanya menghadap ke arahku, antusias. Persis seperti kawan lama yang dipertemukan tak sengaja. "Kok aku jarang liat?" lanjut Rama tanpa didahului oleh jawabanku.

Aku menarik napas, siap merespon. "Cuma meeting biasa. Ada project."

Rama manggut-manggut, belum ada tanda menyudahi pembicaraan. "Jadi kamu nggak ngantor disini? Kerja dimana emangnya?"

"Jauh dari sini." balasku singkat. Tak boleh ada pertemuan setelah ini, aku tak akan meninggalkan informasi apapun yang memungkinkan kami bertemu lagi.

Rama diam. Menyadari bahwa dirinya satu arah mengganggap percakapan ini berjalan baik-baik saja. "Kamu masih marah, Ran? Setelah 8 tahun?"

Mendengar pertanyaan Rama, tubuhku berubah kaku. Sudah kuhindari topik apapun terkait masa lalu kami. "Ram, kamu yakin mau bahas ini?"

"People made mistake, Ran. Aku dulu ceroboh dan bodoh, aku minta maaf."

Cukup, Rama yang memintanya. Aku tak bisa lagi berlagak tenang. "Kamu meninggalkan aku, Ram. Kamu meninggalkan aku menangis gemetar di pinggir jalan, tengah malam. Kamu lupa? Aku memohon supaya kamu setidaknya mengantarku pulang. Kamu tidak bodoh, Ram. Kamu egois."

Rama berdehem, seperti sudah menyiapkan kalimat jawaban untuk argumenku yang emosional. "Kirana. Aku harus melakukannya, supaya kamu membenciku. Kamu tau dulu aku merasa tak sepadan denganmu. Aku egois Rana, aku meninggalkanmu seperti itu agar aku sendiri bisa lepas darimu."

"Nyatanya kamu berhasil Ram, sekarang aku masih membencimu."

"Tidak sepenuhnya Ran, aku masih mengharapkanmu. Sekarang aku sudah lebih berani, Rana. Aku tak serendah dulu." tiba-tiba segala sesuatu di antara kami seperti sunyi sekali. Mata Rama lurus ke arahku, tajamnya seperti mengiris luka yang sama sekali tak ingin kubuka kembali.

Aku berdiri, tak betah berlama-lama terhanyut. "Aku bukannya mencari yang tinggi dan berani, Rama. Kamu tau itu, sejak dulu aku hanya mencari yang berjanji tak akan meninggalkanku. Bukan, bukan hanya itu. Aku mencari yang mampu menepati janji tak akan meninggalkanku."

Kamis, 02 Oktober 2014

Pergi Mengitari Bumi


"Kemana kamu akan pergi?" tanyamu melihatku sibuk mengepak barang. Tas hijau tua yang biasanya aku gunakan untuk bepergian pun tak cukup, kukeluarkan semua isinya, lalu berjalan ke sudut ruangan hendak mengambil tas lain di atas lemari baju.

Aku berdehem. "Untuk apa kamu tau? Toh kamu tak akan tinggal bersamaku."

Kamu diam, seperti memikirkan sesuatu.

Apapun itu, yang jelas aku tau bahwa pergi bersamaku tak akan pernah jadi opsimu. Aku sudah letih menggumamkan pengharapan ke langit, aku lebih baik pergi ketimbang terus menerus sakit hati.

"Sudahlah, tak perlu merasa tak enak hati. Aku tau kamu tak pernah menjadikan aku pilihan utama dalam hidupmu. Tenang saja, aku cukup tau diri untuk tidak mengharapkannya barang secuil." Aku menelan ludah, menyadari kebohonganku barusan. Aku akan berpisah denganmu tapi malah meninggalkan sekerat kebohongan yang mungkin tak bisa aku hapus.

Aneh sekali, aku malah berdoa semoga kamu cukup peka untuk menyadarinya. Kurasa aku pembohong yang sangat buruk, tak ada pembohong yang berharap ketahuan, kan?

Kamu tak berani mendekat. Kamu mematung saja, duduk di sisi tempat tidur memandangi aku yang kini memaksa agar semua bawaanku masuk ke dalam tas. "Sayang, barangkali aku bisa mampir suatu hari," rajukmu, memintaku menyampaikan kemana aku menuju.

Aku menggeleng, "Aku tak ingin disinggahi, setidaknya olehmu. Aku ingin bersama orang yang berani mengambil risiko untuk tinggal bersamaku. Sudah bertahun hidupku dihabiskan menangisi mereka yang sekedar datang dan mampir sebentar. Maaf, aku lelah."

"Katakan saja, Sayang. Setidaknya aku tau seberapa jauh aku akan terpisah denganmu." ujarmu lagi, dengan tatapan memohon yang sukar kuhapus dari dalam kepala. Aku tak pernah sanggup menolak pintamu, apapun itu. Sesulit apapun, sesakit apapun, pintamu adalah yang nomor satu.

Kenyataannya adalah, aku tak tau hendak kemana aku pergi. Aku hanya ingin sejauhnya darimu, sejauh-jauh kakiku bisa berlari.

Bukan karena aku tak ingin kamu menyusulku, aku hanya menghindar dari kemungkinan suatu hari aku kembali pulang padamu. Aku harus menapak jalan sesulitnya, terpisah laut kalau memang diperlukan. Tak boleh tau bagaimana aku bisa pulang, kembali padamu adalah sebuah kekalahan. Bodoh sekali, aku tak pernah peduli soal menang saat bersamamu.

Aku tak tau kemana kakiku menuju, Sayang.
Tapi kalau aku harus mengitari Bumi dan mati di tengah perjalanannya demi melupakan keinginan untuk bersamamu, aku tak berpikir dua kali untuk melakukannya. Sama sekali bukan karena cinta untukmu telah menguap, aku masih dan akan selalu menyimpannya rapat.

Aku hanya tau, aku pantas mendapatkan yang lebih dari sekedar kunjungan singkat.

Minggu, 28 September 2014

Slmt Tdr


Malam ini, aku jatuh sakit. Pasti karena kafein yang tak cukup dua cangkir sehari dan jam istirahat yang minim. Organ pencernaanku cedera sudah lama tapi tetap saja aku enggan menahan diri untuk menjauhi semua pantangan. Bagiku, hidup adalah tentang nikmatnya bukan lama waktunya. Entah berapa kali dokter langgananku mengingatkan agar aku berhenti, aku malah membalasnya dengan candaan bahwa harusnya harusnya dia bersyukur aku sering kambuh supaya tetap memberikannya penghasilan.

Tiap aku sakit, kamu akan pulang lebih cepat. Membiarkan urusan-urusanmu bertumpuk padahal sebelumnya mereka punya prioritas yang besar. Egoisnya, aku menikmati dimanjakan olehmu. Kamu akan pulang dengan senyum terlengkung tak peduli seperti apa lelahmu seharian. Kamu akan berganti baju dan memelukku semalaman.

Malam ini lucu sekali, aku enggan tidur cepat. Mungkin karena besok hari libur, aku ingin bercerita tentang banyak hal. Padahal aku sendiri tau, tubuhku butuh lebih banyak istirahat. Namun siapa yang mau membuang waktu utnuk tidur saat kamu ada di sampingku?

"Sayang, ini sudah lewat tengah malam." ujarmu, mengeratkan pelukan. Aku masih berceloteh, belum menunjukkan tanda mengantuk.

Aku merapatkan tubuhku, punggungku terasa hangat. Kadang ada debarmu yang terasa, menenangkan. "Iya, aku belum selesai bercerita."

Kecupan mendarat di pundakku yang terbuka. "Iya, aku akan mendengarnya besok. Sekarang beristirahatlah."

Aku diam. Memejamkan mata. Kalau aku bicara lagi pasti kamu akan menegur dan suasana berubah tak nyaman. Soal kesehatanku, kamu tak pernah mau berkompromi.

Beberapa menit berlalu, aku masih belum terlelap juga. Nafas kuatur pelan agar kamu tak tau bahwa aku masih berusaha menanggalkan kesadaran. Kamu bergerak, mengecup punggungku sekali, dua kali, lalu berbisik lembut, "Selamat tidur, Kesayangan."

Ada air mata yang menyelinap keluar dari kelopak mata yang tertutup. Syukurku meluap-luap, rasanya ingin berbalik dan mendekap erat. Namun sesaat kemudian, dengkurmu terdengar di telinga.

Selamat tidur, Kesayangan.

Sabtu, 27 September 2014

Rasa Untuk Nina


Ditya memandangi gadis di sebelahnya yang tengah terlelap. Sudah 8 tahun tapi wajah Nina masih saja mampu mengulik keingintahuannya soal apa lagi yang belum diketahuinya soal gadis itu. Padahal Ditya sudah hafal betul tiap lekuk dan kerut wajah Nina. Tentu bukan kerut penuaan yang sering dikhawatirkan banyak perempuan sampai harus mengoleksi berbotol-botol perawatan anti aging yang bagi Ditya adalah kebohongan besar marketing.

Ditya sangat tau itu, dirinya adalah seorang dokter. Menjadi tua adalah kepastian yang tak dapat dicurangi, Ditya malah heran dengan orang-orang yang setengah mati menghindari tua. Tidakkah tiap orang perlu beristirahat dari dinamika masa muda yang melelahkan?

Menjadi tua adalah tentang beristirahat, memilih dengan siapa kita menghabiskan hari sembari menertawakan hal-hal yang mulai luput dari ingatan. Atau duduk saja di beranda rumah sambil bercerita tentang waktu muda. Atau malah menunjukkan cinta yang  murni. Cinta yang tak lagi diembeli oleh nafsu akan bentuk tubuh aduhai dan lama waktu bercinta di atas ranjang.

Ditya tak tau pasti apa yang akan dilakukannya di waktu tua. Dia hanya tau satu hal sejak bertahun-tahun lalu. Dia ingin menua bersama Nina.

Mengapa Nina? Ini masih misteri.

Secara fisik, Nina bukan tipe di atas rata-rata yang mampu menggugah hasrat banyak pejantan. Bahkan di beberapa bagian, tubuh Nina tak proporsional. Ini pasti karena enggannya gadis itu berolahraga. Olahraga baginya hanya sebatas berjalan kaki, itupun kalau matahari tak sedang terik. Nina juga tukang makan, tak pernah cukup hanya memesan satu porsi walaupun tak habis kalau harus memakan dua sekaligus. Jangan tanya soal makanan manis dan cemilan, Nina paling lemah dengan icing cake warna-warni di etalase toko. Ditya tersenyum sendiri, di kepalanya terbayang celoteh Nina bercerita soal toko-toko kue yang pernah disambanginya. Mana yang enak, mana yang mahal, mana yang tak pernah sepi pengunjung.

Nina mengguman dalam tidur, Ditya mengusap kepalanya pelan. Helai-helai rambut Nina melewati jemarinya, lembut. Biasanya Nina akan protes kalau ada yang menyentuh rambutnya, telapak tangan adalah bagian tubuh yang kotor dan berminyak dan Nina tak mau rambutnya ikut kotor. Protesnya akan nyaring terdengar kalau sampai ada asap rokok di sekitarnya, selain isu kesehatan paru, asap juga akan membuat rambutnya beraroma tidak sedap. Rambut Nina panjangnya sepunggung, tanpa model macam-macam dan warnanya tak pernah diganti dari warna aslinya.

Terlepas dari entah berapa pria yang sudah jatuh ke pelukan Nina, Ditya tetap ingin menua dengan gadis itu. Meskipun mereka punya pemahaman berbeda soal cinta. Bagi Nina, cinta adalah petualangan singkat yang dirasakannya berkali-kali. Berawal dari ketertarikan dan selalu dilanjutkan dengan bercinta lagi dan lagi. Ditya tau betul hal itu, Nina menganggap pernikahan adalah hal yang menyedihkan. Kembali pulang ke orang yang sama karena terpaksa adalah kutukan.

Sedang Ditya percaya bahwa cinta tak selalu harus diekspresikan dengan bercinta. Tentu Ditya punya hasrat, dirinya laki-laki normal. Ditya hanya tak ingin suatu hari dia berfantasi tentang perempuan lain saat bersama kecintaannya, yang sampai sekarang masih diisi oleh Nina. Tak pernah berhasil digantinya dengan perempuan manapun.

Ditya masih menaruh hormat pada Nina, tak peduli berapa kali dia harus memapahnya pulang setelah mabuk-mabukan karena patah hati. Ditya tak pernah kurang ajar menyentuh Nina kala terlelap meskipun Nina bukan gadis yang enggan memberi pelukan dan kecupan pada teman-teman sepergaulannya. Ditya menilai Nina jauh lebih tinggi dari itu.

Yang dilakukannya sekarang pastilah kebodohan kalau tak mau disebut ketololan. Nina tak pernah memberikannya harapan, Nina hanya menganggapnya teman. Ditya tau itu semua, tapi perasaan nyaman bersama Nina kelewat adiktif. Ditya tak pernah sanggup menolaknya.

Kalau menua bersama Nina berarti harus meninggalkan jam praktik demi memapahnya pulang setelah mabuk di bar atau malah menunggui Nina menangis meracaukan kekasihnya yang pergi demi perempuan lain saat mabuknya belum hilang, Ditya tak akan pernah keberatan. Dia tak menginginkan siapapun lagi, hanya Nina.
 

Template by Best Web Hosting