Sabtu, 30 November 2013

"Sayang, I love you." he said.

Satu dosen, muda, sama sekali bukan yang arogan dan menyebalkan.
Saat beliau mengangkat panggilan telepon, tanpa sengaja gue mencuri dengar karena memang sedang duduk bersebelahan.

D (Dosen): "Halo sayang,"

Dari kata pertama yang muncul, otomatis gue melirik ke arah jari manis kedua tangannya. Ada benda yang membuat perempuan patah hati di jari manis tangan kanan.

D: "Sayang udah bangun? Akan tetap bangun atau mau tidur lagi?"

Pembicaraan selanjutnya adalah tentang makan siang dan janji jalan-jalan akhir minggu. Belum, belum selesai. Di akhir pembicaraan,

D: "Sayang, I love you.."

...

Ada yang lebih membuat patah hati daripada lelaki romantis, pintar, good-looking yang sudah beristri?

Mungkin cuma varian ChaTime yang habis saat benar-benar diinginkan.

:')

Selasa, 26 November 2013

an (superb fun) assignment!

Anak-anaknya lucu-lucu kan?
Hari ini kelompok pratikum observasi kami yang terdiri dari gue, Fany, Uti, Lidya, Faiz, Sinta, dan Siddhi melakukan pengambilan data di SD Cikeruh 2. Pengambilan data dilakukan tanpa kehadiran Siddhi karena beliau masih bobo cantik di kosan. LOL.

Pengambilan data observasi kelompok kami tentang Concrete Operational Stage yang diajukan oleh seorang tokoh perkembangan yang terkenal, Jean Piaget. Pengambilan datanya overall sangat menyenangkan meskipun paginya kami terburu-buru dalam menyiapkan perlengkapan penelitian.

Sini yang cantik-cantik kita foto duluuuuu
Hal yang sangat berkesan adalah cara teman kami, Faiz memperlakukan anak-anak. Personally, I never know that he can treat kids very well.
But hey! He's sooooo damn good in treating and (of course) ordering them to do things. LOL

Push up!
and somehow reminds me of my Pap..
I'm so happy being surrounded by kids.
Their thoughts, questions, hugs, kisses, and giggles make me sooooooo happy!!

Thanks kiddo!

Picky girl

This year I've dated two guys..
I called my mom when we're officially dated.
From the voice, I knew she smiled while saying: "I sent my best prayer, dear."

Then,
The first one left me because of some cheesy reasons.
The second one slept with another girl because I chose to against premarital sex.
And I cried for both of them. Stupid and pathetic but true.

Broken heart hurt, a lot.

Pada masa awalnya lo akan mengusahakan apapun untuk bisa kembali bersama. Pada masa awalnya lo mungkin blaming yourself, entah menyalahkan diri sendiri karena sudah memilih dia, atau (parahnya) menyalahkan diri sendiri karena menganggap diri lo adalah alasan kenapa dia ninggalin lo.

Trust me, if he wants to go, he will ALWAYS find million reasons to!
Jadi jangan mempersulit diri sendiri dengan berusaha mempertahankan apa yang ingin dilepaskanya. Hubungan adalah tentang dua orang yang saling mendukung.


:)
I get over it now.
Thanks to tons of assignments, lovely family, and of course amazing bestfriends!!

PS: When you find a picky girl, don't judge her. She may be hurt many times before. She may lost a reason to believe in someone.

Minggu, 24 November 2013

ITB Insight Festival '13

Tsiry, Capistran, Jahir, Lydie, Sinta, Aulia, Audry
Yesterday we went to ITB Insight Festival!
Kami juga mengajak teman-teman foreign students yang belajar di Bandung untuk ikut..

Actually Uti and Tata wanted to come to the ghosthouse but too bad the ticket has been sold out when we arrived..

:(
But don't worry,
Disana juga ada banyak science experiments yang dipandu oleh mahasiswa/i ITB
Look, Hakimy's (guy is grey shirt) face is flat -..-
Acaranya sedikit membosankan karena euforia audiensnya sangat minim dan tidak ada audiens yang menari di depan panggung.. Actually it's been a lil bit weird because that supposed to be a music concert
Taken by Audry
Syukurlah kami bersama teman-teman yang asik mengobrol jadi kami tetap senang-senang! Hahaha

Kami makan malam bersama-sama setelah bertemu beberapa teman dari Tunisia, Afganistan, dan Venesia.. The moment was great, the people were super nice!

Terimakasih teman-teman..
<3

Sabtu, 23 November 2013

Angklung Udjo


Melewatkanmu

"Mungkin tanpa sadar kalian memang memiliki perasaan satu sama lain," ujar Renata, yang biasa disapa Ata sambil menepuk-nepuk punggung Fayra. Fayra diam, tak ingin menanggapi, entah lelah menyangkal pernyataan Ata atau takut bahwa sesungguhnya itu memang benar.

Fayra menarik napas, "Selama ini aku hanya menganggapnnya teman, Ta," 

Ata tersenyum prihatin, biasanya dia akan meledeki Fayra habis-habisan kalau sahabatnya mulai menyangkal seperti ini, tapi melihat rona wajah Fayra yang sedih rasanya itu tidak tepat dilakukan. "Kita tidak memilih dengan siapa kita jatuh cinta Ra, atau siapa yang bisa mencintai kita."

"Tapi aku masih bersama Alan," beberapa detik kemudian Fayra merasa asing dengan nada kalimatnya sendiri. Diam-diam Fayra meragukan keinginannya, apa memang dia menginginkan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lain bersama Reyhan?

...

Reyhan mengepalkan tangan, berusaha mengendalikan amarah yang tiba-tiba mendesak keluar dari rongga dadanya. Ata diam, membiarkan sunyi menjadi jeda.

"Lo tau kan gue nggak bisa, Ta?" ujar Reyhan sambil melihat ke arah Ata yang tak memberikan respon apapun. Baru beberapa menit lalu Ata datang dan menceritakan semuanya, selama tiga tahun berteman baru kali ini Reyhan tidak ada saat Fayra menangis. Lebih parahnya lagi, Reyhan yang jadi penyebab kesedihan Fayra.

Ata mengangkat bahu, "Gue nggak tau gue ini sahabat macam apa, tapi gue nggak akan menyalahkan Fayra kalau dia selingkuh sama lo di belakang Alan. Alan terlalu cinta sama kerjaannya Rey, dalam satu semester aja belum tentu Fayra bisa ketemu Alan."

Ata brengsek! Sudah lama Reyhan menahan diri untuk tidak menjadi duri dalam hubungan Fayra dan Alan, sedangkan Ata bisa seenaknya memberikan dukungan terhadap perselingkuhan mereka yang belum terjadi. "Gue nggak sepengecut itu. Gue akan memiliki Fayra dengan cara baik-baik, kalau memungkinkan."

"Tapi menjauhi Fayra bukan jawabannya Rey. Lo tau kan dia bertanya-tanya kenapa lo jauhin dia beberapa minggu ini? Gue mulai kehilangan cara buat hibur dia," Ata bersikeras. Dia mulai kasihan pada Fayra yang terus menerus mencari jawaban atas sikap diam Reyhan.

Reyhan tak menjawab, rasa bersalah menguasai perasaannya.

"Maybe she waits, Rey. But no one wait forever."

...

"Hai Ra," Reyhan menyapa kaku, Fayra yang duduk sendiri sedikit terkejut walaupun langsung bisa menguasai dirinya lagi.

Fayra tersenyum formal, "Hai Rey, kamu dateng juga?"

"Hehehe iya. Mereka butuh insinyur amatir untuk jadi asisten perancangan gedung, jadi aku daftar. Kamu?" diam-diam Reyhan bersyukur menerima tawaran proyek ini, meskipun hasilnya tidak begitu besar dan hanya sebagai pengisi waktu luang tapi bisa membuatnya bertemu langsung dengan Fayra.

Sikap Reyhan yang 'normal' membuat Fayra enggan menanyakan hal-hal yang tidak terkait dengan pekerjaan, padahal sudah ada seribu pertanyaan yang ingin dilontarkannya sekarang juga. "Aku hanya diminta jadi konsultan iklannya. Konsultan yang lama dipromosikan ke bagian marketing."

Reyhan mengangguk-angguk, kepalanya sibuk memikirkan bagaimana cara menahan Fayra lebih lama setelah acara ini berakhir. Mereka bekerja di divisi yang berbeda, itu berarti tidak akan ada banyak pertemuan yang akan dihadiri bersamaan. Reyhan butuh kesempatan lebih lama bersama Fayra, mungkin ini adalah kesempatan yang menjadi jawaban atas doa-doanya selama ini.

"Pulangnya kamu ada acara, Ra?" tanya Reyhan tiba-tiba. Sedetik kemudian ia merutuki dirinya sendiri, lelaki bodoh macam apa yang langsung menanyakan hal itu tepat setelah sapaan yang tertunda bertahun lamanya.

Fayra tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Maaf, aku sudah ada janji sore ini."

"Nggak masalah. Besok atau besoknya lagi pun bisa," jawab Reyhan sesantai mungkin, kali ini akan diusahakannya apapun untuk bertemu Fayra. Cukup dia berharap, kali ini tidak akan disia-siakan kesempatan untuk memiliki Fayra. Reyhan tidak akan membatu lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Aku sudah menikah, Rey. Kalau memang kamu mau bertemu, datang saja ke apartemenku," Fayra angkat bicara, berusaha agar tidak ada sesal yang terdengar di telinganya sendiri. "Ata sudah cerita semuanya. Aku sudah berhenti menunggu kamu, Rey.

"Oh," kalimat Reyhan terhenti, tenggorokannya tercekat. "Alan?"

Fayra mengangguk, "Iya, Alan suamiku sekarang."

"Harusnya ku telah melewatkanmu.
Menghapuskanmu dari dalam benakku.  
Namun ternyata sulit bagiku
Merelakanmu pergi dari hatiku." -Adera (Melewatkanmu)

 

Jumat, 22 November 2013

#thought

Sungguh, saya gerah dengan diskusi mengenai kapabilitas calon presiden BEM yang argumennya adalah gender. Saya bukannya membela salah satu calon presiden,
saya hanya sedih karena ternyata kompetensi seseorang bisa disimpulkan dari gender saja.

Mungkin lama kelamaan, psikolog sudah tidak dibutuhkan lagi.
Kepribadian dan kompetensi dipercaya bisa dilihat dari warna kulit dan bentuk hidung.
Guys, please..
 

Interview!

Di kampus  gue , di mata kuliah Psikodiagnostik III diajarkan tentang interview. Mulai dari seperti apa interview dalam setting psikologi, fungsinya, teknik pelaksanaannya dan (yang paling menguras hati) membuat laporan interview.
Pertama kali praktik tentang teknik interview, gue sangat bingung dalam hal 'menjalin good rapport'. Menjalin good rapport ini penting agar interviewee (orang yang di-interview) merasa nyaman dan mengungkapkan banyak hal kepada kita (interviewer).

Awalnya masih menyapa dengan sapaan garing seperti, "Cuacanya diluar cerah ya," atau "Gimana, tadi sudah sarapan?" Tapi lama-kelamaan Alhamdulillah sudah mulai menggunakan kalimat lain yang lebih 'waras' sebagai 'senjata' menjalin good rapport.
Let's make an ugly pose!
 Pada mata kuliah ini juga, penampilan menjadi satu aspek yang cukup penting dan diperhatikan dalam penilaian. Kami diminta menggunakan setelan resmi, seperti kemeja dan celana kain untuk laki-laki dan kemeja dengan rok untuk perempuan. Untuk mahasiswi malah biasanya diminta untuk menggunakan high heels dan rambut dicepol rapi.

Setelan rapi membuat kami, mahasiswa/i yang mengikuti mata kuliah ini menjaga sikap dan perilaku kami agar pantas dan profesional. Meskipun gue (yang sangat tidak betah menggunakan rok resmi) selalu mengganti rok dengan celana panjang saat kelasnya selesai. Hehehe.
Selain sikap dan perilaku, hal yang tidak kalah pentingnya adalah awareess terhadap gesture interviewee. Kami diminta untuk paying attention terhadap gesture yang ditampilkan oleh interviewee supaya kami mengetahui apakah interviewee sudah merasa nyaman dan mengungkapkan penyataan yang sebenar-benarnya (that's why lying to psychology student is a bad idea, bro!). LOL!
'ceritanya' belajar
Tapi meskipun tuntutan menguasai teknik interview kadang memusingkan dan laporan yang harus dikumpulkan sangat menyebalkan, tetap saja banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan bersama dengan teman-teman kesayangan.

Foto-foto ini diambil seusai bimbingan interview dan tanpa make up karena bangun kesiangan dan harus buru-buru ke kampus. Hehehe.
XOXOXO
I love you guys!
<3

Senin, 18 November 2013

International Students Summit 2013 (part 2)

Seperti orang Indonesia kebanyakan, gue juga menganggap bahwa badan mungil, kulit putih, dan hidung mancung merupakan indikator kecantikan.

Ah, jangan lupa juga kalau bisa ada campuran keturunan asing yang makin kental kadarnya makin baik dan dianggap cantik.

Saat dipercaya sebagai LO (Liaison Officer) sebuah acara pertemuan internasional, gue mendapatkan banyak sekali self esteem booster dari teman-teman yang merupakan mahasiswa asing.

Me and Anvar from Uzbekistan
Culture yang berbeda juga membuat teman-teman mahasiswa asing lebih terbuka dalam memberikan pujian (dan kritik, tentunya). Hal ini agak berbeda dengan culture Indonesia yang cukup hemat pujian, hehehe.

Semua yang gue anggap sebagai kekurangan seolah-olah berubah jadi anugerah selama beberapa hari.

Luai from Jordania
Mulai dari warna kulit yang kecokelatan, bentuk hidung yang pesek (tapi disebut cute oleh teman-teman yang berasal dari negara dengan keturunan hidung mancung), sampai bentuk tubuh yang menurut gue agak gemuk tapi dianggap bagus oleh mereka.

Padahal siapalah gue kalau di kampung sendiri. Masuk kategori cantik, enggak.
Pinter pun enggak. Kalau cerewet dan banyak makan sih pasti! Hahaha..


Oussou from Senegal
Menurut gue sih semua orang pasti akan menganggap sesuatu yang rare dan tidak dipunyainya sebagai sesuatu yang indah dan menarik. Semacam teori, 'Rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau'.

Melirik rumput halaman tetangga itu boleh, tapi akan semakin baik kalau bangga dengan rumput di halaman sendiri, kan?
:)

Back: Luai-Audry-Lidy-Aulia-Tsiry-Anvar
Front: Dirami
Berhubung sedang bertugas, jadi hanya sedikit kesempatan untuk berfoto.
Tapi semuanya terbayar dengan momen dan persahabatan yang terjalin,
meskipun tidak diabadikan lewat gambar digital.
:)

International Students Summit 2013

Selamat Pagi,

Pada tanggal 14-17 November 2013 di Universitas Padjadjaran diadakan International Student Summit. Acara ini adalah pertemuan mahasiswa asing yang belajar di Indonesia, pesertanya berasal dari banyak negara dan daerah asal belajar (universitas).

Salah seorang peserta yang saya kenal baik selama acara, Tsiry Harrison berasal dari Madagaskar. Tsiry banyak mengungkapkan kekagumannya terhadap Indonesia kepada saya. Saat saya tanyakan kenapa memilih Indonesia sebagai tempat belajar,

Tsiry menjawab: "Saya suka Indonesia. Saya belajar history di sekolah, orang-orang pertama yang datang ke Madagaskar berasal dari Indonesia. Saya juga pernah datang ke acara 17 Agustus di Embassy (kedutaan besar) Indonesia yang ada di Madagaskar dan saya suka sekali. Saya lalu bilang sama ibu saya, saya mau kuliah di Indonesia."

Lalu tiba-tiba saya jadi merasa sangat sayang sama Indonesia.. 
:)



Kamis, 14 November 2013

#TipsKencan (khusus cowok)

Sebelum memiliki pasangan, perempuan biasanya dilindungi oleh 'dekapan' ayah dan (kalau ada) kakak laki-lakinya. Setelah perlindungan tersebut, baru sahabat dan teman dekat memegang peranan.

Makanya tiap kali ada cowok yang minta saran untuk melakukan pendekatan terhadap keluarga pacar, gue selalu menyarankan 'hadapi dulu kepala sukunya, sisanya gampang'. Biasanya kesalahan yang terjadi adalah hubungan udah cukup jauh tapi kedekatan dengan keluarga pasangan belum terbangun.

Biar cowok nggak numpuk PR (pekerjaan rumah) menjalin hubungan dengan keluarga pasangannya, coba mulai menjalin komunikasi dari kencan pertama.

Baiklah, untuk kencan pertama berikut tipsnya (khusus buat cowok):

1. Datang ke rumah pacar paling tidak setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan.
Kenapa? Dengan datang lebih awal kamu bisa dapat beberapa keuntungan. Yang pertama, kamu nggak bakal bikin pacar kamu nunggu. Yang kedua, kamu bisa ngobrol-ngobrol dulu sama keluarganya (baca: ayahnya). Oke, yang kedua lebih mirip uji nyali dibandingkan sama keuntungan. LOL.

2. Bawa bunga? Ganti!
Entahlah, gue sendiri nggak pernah dibawain bunga waktu kencan. Yang jelas beberapa temen gue cerita kalau pemberian berupa bunga semacam agak membingungkan. Bingung nyimpennya, lagian lama-lama juga mati dan busuk. Saran lain? Bawa martabak untuk keluarganya, kalau tau apa kue kesukaan orang tuanya juga lebih oke.

3. Dia dandan?
Perempuan biasanya antusias dengan kencan pertama. Jangan kaget liat perempuan yang biasanya cuma pake kaos dan sneakers tiba-tiba jadi cantik kemayu di kencan pertama. Saran paling penting adalah, JANGAN gue ulangi JANGAN ngomentarin apapun soal dandanannya kecuali "Kamu cantik."
Kenapa? Untuk berpenampilan lain butuh keberanian besar, komentar negatif (walaupun becanda) bisa merusak mood dan suasana.

4. Ijin sama ayahnya, beri perkiraan waktu pulang, bilang terima kasih udah diijinin pergi.
Simpel tapi sering banyak yang lupa. Begini ya, para lelaki.. Seorang ayah menahan diri mati-matian untuk tidak melarang kamu pergi dengan putrinya. Jadi, yakinkan bahwa pasanganmu aman dengan memberi perkiraan waktu pulang ke rumah dan bertrimakasihlah atas ijinnya.

5. Mau kemana?
Nah, pertanyaan yang ini biasanya ada untuk kencan yang tidak terstruktur (?). Memberikan kebebasan bagi perempuan untuk menentukan adalah hal yang baik tapi siapkan beberapa pilihan kalau-kalau dia menjawab dengan jawaban 'terserah'. Jangan mengabaikan hal ini, gue kenal beberapa teman yang kencannya berantakan karena pertengkaran yang dimulai dengan jawaban 'terserah'.

6. Antar kembali ke rumah. Terlambat itu fatal!
Sama seperti kamu menjemput pacarmu, antarkan kembali dia ke rumah. Ke rumah berarti kamu harus melihat sendiri dia masuk ke rumah, bukannya ditinggal di depan pagar atau depan teras.
Ingat, sebelum jadi milikmu dia masih milik ayahnya jadi secara teknis kamu sedang 'meminjam'. Jadilah peminjam yang baik, kembalikan sesuai dengan waktu perjanjian (lebih baik lagi kalau lebih awal).

7. Sisakan waktu ngobrol.
Kalau memungkinkan, ngobrol dengan ayahnya sebelum kamu pulang. Jangan jadi cowok yang cuma SKSD (sok kenal sok dekat) pas ada maunya. Jangan lupa mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang sudah diberikan ke kamu. Kalimat penutup seperti, "Sesuai janji saya, saya antar putri Oom pulang sebelum jam 11 malam (misalnya) ya Oom. Terimakasih sudah percaya sama saya." memang kedengarannya klasik, tapi nggak pernah gagal buat mencuri hati.

Sekian #TipsKencan nya..
Selamat mencoba dan semoga berhasil!

Rabu, 13 November 2013

Tiga Komponen Komitmen

Di sebuah seminar yang temanya 'Kekerasan Dalam Pacaran' gue mengajukan sebuah pertanyaan ke narasumbernya yang merupakan psikolog dan dosen yang sangat gue kagumi (@bangjeki). Dari jawaban beliau, gue mendapatkan sebuah poin penting:

'Usia hubungan TIDAK menggambarkan keberhasilan atau kebahagiaan hubungan tersebut.'

Lama/tidaknya sebuah hubungan, berkaitan dengan komitmen kedua orang yang terlibat dalam hubungan tersebut. Supaya jelas, gue menyertakan pengertian komitmen menurut Merriam-Webster 

 
Beberapa waktu yang lalu, saat mempelajari mata kuliah Psikologi Organisasi, gue menemukan istilah affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment dalam bahasan The Three Component Model of Commitment.

Bahasan tentang model komponen dalam komitmen ini gue coba terapkan dalam hubungan romantis. Kenapa? Karena menurut gue pada dasarnya komitmen dalam sebuah hubungan nggak jauh berbeda dengan komitmen dalam organisasi, yakni mengikat individu untuk tetap mempertahankan keberadaannya dalam hubungan tersebut.

Affective commitment adalah komitmen yang muncul karena adanya ikatan perasaan yang kuat, kalau komitmen yang muncul dalam hubungan adalah affective commitment maka individu enggan meninggalkan pasangannya karena perasaan kasih sayang. Komitmen ini bisa tumbuh karena adanya kepuasan dalam hubungan dan perasaan positif yang ditimbulkan karena keberadaan individu dalam hubungan tersebut (diperhatikan, dihargai, dsb).

Continuance commitment muncul karena individu merasa adanya kehilangan yang ditimbulkan kalau meninggalkan hubungan. Komitmen ini dapat dikatakan melakukan 'perhitungan' terhadap keuntungan dan kerugian yang akan didapat oleh individu. Continuance commitment cenderung muncul pada individu yang memiliki hubungan yang umurnya sudah cukup lama sehingga alasan untuk tidak berpisah bisa jadi: "Kalau putus, sayang udah sekian tahun pacaran." atau "Orang tua udah saling kenal, jadi sayang kalau putus."

Normative commitment, sesuai dengan namanya adalah komitmen yang bersifat normatif. Artinya, individu bisa saja merasakan ketidakbahagiaan dalam sebuah hubungan namun tetap mempertahankannya karena merasa bahwa hal tersebut adalah hal yang 'benar' untuk dilakukan. Misalnya pada pasangan suami istri yang sudah memiliki anak atau usia pernikahannya sudah lama.

Meskipun tiga komponen ini berbeda-beda namun seorang individu bisa saja merasakan lebih dari satu komponen dengan kadar yang bervariasi. Namun komponen yang dirasa paling baik adalah affective commitment karena ndividu dengan affective commitment akan memiliki usaha yang lebih dalam mengembangkan dan menyelesaikan masalah yang ada dalam hubungan tersebut.

More Qs, please mention me!
Ciao!

Bisakah kita berhenti sekarang?

"Kamu kehujanan," ujarmu sambil memberikan sebuah handuk kering untukku. Di luar hujan deras luar biasa, rambutku basah kuyup. Aku kesal karena baru tadi pagi aku mencuci rambutku, sedangkan kamu duduk di atas kursi malas sambil tersenyum.

Aku melirik ke arahmu, "Apa yang lucu?"

"Lekas keringkan tubuhmu, nanti kamu jatuh sakit. Lebih baik jatuh ke pelukanku ketimbang jatuh sakit,"

Aku berusaha mati-matian menahan senyum. Kamu paling juara melukiskan senyumku dalam berbagai situasi. "Dan membiarkan wangiku bercampur dengan aroma perempuan lain? Maaf, hargaku terlalu mahal, Tuan."

Mendengar celetukanku, kamu bangun dari posisimu. Posisi yang biasanya membuatmu betah berlama-lama menatap layar televisi dan memakan apapun yang tersedia dalam kulkas, aku tak akan melupakan kaleng-kaleng bir yang berserakan setelahnya.

"Kata siapa aku akan membiarkan aromamu bercampur dengan aroma perempuan lain?" katamu dengan suara berat, mendekat ke arahku.

Aku menghindar, "Minggir, aku harus mengeringkan tubuhku. Nanti aku jatuh sakit,"

Kamu tau aku pura-pura, karena itu kamu lantas memelukku kuat-kuat dan memberikan beberapa kecupan. "Aku ingin selamanya bersamamu," ujarmu yang lalu mengecup lagi, berkali-kali.

Aku tertawa, entah karena bahagia mendengar ucapanmu atau karena sensasi asing yang menjalar melalui serabut saraf di tubuhku. "Pulanglah, ambil cincin yang ada di jari manis tunanganmu. Lalu menua bersamaku."

Kecupanmu terhenti. Aku tau apa artinya. Kamu selalu saja hilang selera tiap kali aku menyebutkan cara agar kita bisa benar-benar bersatu. Kenyataannya memang tak pernah ada yang kamu lakukan untuk mewujudkan harapan menua bersamaku.

Katamu, ada beberapa orang yang diciptakan untuk saling mencinta tanpa harus memiliki satu sama lain.
Katamu, tunanganmu bisa mencuri nama belakangmu tapi bukan hatimu yang sudah jadi milikku.
Katamu, hanya namaku yang bergaung dalam kepalamu.


Aku lelah sembunyi dan meyakinkan diriku berulang-ulang bahwa aku satu-satunya untukmu.
Aku lelah tersenyum palsu tiap kali kita bertemu sedang perempuan itu merangkulmu seolah kamu benar miliknya.
Aku lelah sayang, bisakah kita berhenti sekarang?

Dibilang bego atau kehilangan temen?

Di tengah proses belajar SKS (sistem kebut semalam) sebelum UTS (ujian tengah semester) mata kuliah Psikologi Organisasi, gue-Uti-Siddhi mengusir kantuk sambil berdiskusi tentang materi yang harusnya sudah kami pelajari jauh-jauh hari tapi baru malam ini dibaca. LOL.

Sampai pada pembahasan Hirarki Kebutuhan milik Abraham Maslow, Uti nyeletuk: "Mana ya yang lebih dulu, kebutuhan akan esteem atau love-belonging?"

Sesuai dengan segitiga Maslow yang memang sudah dijelaskan dari awal semester pertama, gue langsung bilang bahwa love-belonging jelas kebutuhan yang lebih utama dibandingkan dengan esteem (meskipun memang urutan kebutuhan bisa saja berbeda bagi setiap individu).

Merespon jawaban gue, Uti bilang: "Lo lebih milih mana? Dibilang bego atau kehilangan temen?"

"Emang ada orang yang mau dibilang bego?" jawab gue.

Uti tertawa kecil, "Ya berarti kebutuhan akan esteem lo lebih besar dari kebutuhan love-belonging. Lo sama kayak gue berarti."

"Bentar, gue kan tadi nanya, emang ada orang yang mau dibilang bego?"

Untuk menjawab pertanyaan gue, Uti langsung nanya ke Siddhi pertanyaan tentang memilih dibilang bego atau kehilangan temen. Diluar dugaan gue, Siddhi jawab: "Ya (aku lebih milih) dibilang bego lah! Biarin aja orang mau bilang apa. Daripada harus kehilangan temen."

Beberapa detik berikutnya gue seperti merasa ada outburst emotion sekaligus toyoran imajiner yang berkali-kali menyadarkan gue bahwa dibilang bego sama orang lain itu nggak ada apa-apanya dibandingkan sama kehilangan teman.

Lagipula, untuk apasih menyakinkan orang lain soal sejauh apa kualitas yang kita punya tapi kehilangan orang yang menerima kita apa adanya?

Minggu, 03 November 2013

Asal Bersamamu

"Aku akan menikah, usia 28 nanti,." ujarnya sambil menyeruput kopi hitam, tanpa gula. Lelaki di depanku ini memang total kalau menggombal, katanya senyumku sudah cukup membuat Arabica nya terasa manis.

Aku mengaduk smoothies yang di atasnya diberi es krim vanilla, berusaha tidak terlihat terkejut dengan pernyataan Derrian, "Oh ya, sama siapa?"

"Kamu."

Betul kan kataku, Derrian memang tukang gombal paling jago sejagad raya.

...

"Kamu tau Ren, apa yang paling seru dari menunggu?" sambil melirik baris-baris tulisan di buku menu, aku mengangkat alis, meminta Derrian melanjutkan. "Usaha yang diberikan harus total, tak bisa sekedar main-main."

"Termasuk kalau menunggu taksi?" tukasku, setelah beberapa detik lalu memutuskan akan menjadikan Panecotta sebagai hidangan pencuci mulut.

Derrian tertawa, "Bisa. Kalau kamu sudah berniat menunggu taksi, maka kamu akan berhenti melihat yang lain. Tidak peduli walaupun bis kota yang jurusannya sama lewat di depanmu."

"Aku menyebutnya bodoh ketimbang heroik," kataku singkat, dengan nada datar. Tanganku melambai ke pegawai dengan baju putih, hendak menyebutkan pesanan. "Eh, kamu mau apa?"

"Aku mau kamu, sudah kuputuskan dari bertahun lalu." mendengar pernyataan Derrian, pegawai resto diam karena salah tingkah. Aku menghela napas panjang.

See? Derrian lebih masuk ke kategori bodoh ketimbang heroik, atau romantis.

...

Seperti ada yang salah, alis mataku yang pagi ini berubah jadi asimetris, pipiku yang tak ada tirus-tirusnya, atau hidungku yang mungkin ukurannya hampir sama dengan Shrek. Derrian mengintip dari balik pintu, berusaha meredakan kecemasanku yang sedang muncul berlebihan.  "Kamu cantik, Rena."

Aku menggeram gemas, "Cuma kamu yang mikir gitu. Lagipula, kita dilarang bertemu sampai prosesi akad selesai, Der. Kok kamu bisa sampai ke sini, sih?"

"Memangnya butuh berapa ratus pengakuan, Ren? Toh cuma aku yang akan menikahimu, kan? Aku mau melihat pengantinku, problem?" tawa Derrian berderai renyah, membuat aku was-was kalau-kalau ada perias melihat si mempelai lelaki yang menyelinap ke ruang rias wanita.

...

"Jadi, penantianmu berakhir hari ini Der?" tanyaku yang sibuk membersihkan riasan bekas resepsi. Derrian melipat rapi baju yang kuletakkan asal di atas tempat tidur, obsesinya terhadap kerapian memang jauh berbeda skalanya denganku.

Derrian mendekat, memeluk dari belakang dengan hati-hati, tak ingin mengganggu usahaku menghapus segala macam benda yang tak juga habis dilap dengan kapas sejak tadi. "Bagian meyakinkanmu untuk hidup bersamaku memang selesai, Ren. Tapi soal membahagiakanmu, ini belum ada apa-apanya."

Senyumku terulas, tak ingin lagi kusembunyikan. Tidak, tidak ada sanggahan yang bisa mematahkan usaha dan waktu yang sudah diberikan Derrian. Pipiku perlahan menghangat, lengan Derrian makin erat memeluk begitu menyadari ada dua anak sungai yang mengalir dari sudut mataku.

"Jadi, Paris atau Roma?" tanyanya kemudian. Aku tak perlu bertanya apa maksudnya, Derrian tau Eropa adalah mimpiku sejak lama.

"Terserah, asal bersamamu."

Bukan sembarang kategori

Ada orang-orang yang saat kita berniat untuk bertemu dengan mereka, kita tidak akan pusing-pusing dan repot memikirkan baju apa yang kita pakai, jenis sepatu apa yang pantas, atau apa warna kelopak mata yang senada.

Bukan karena kita tidak peduli dan tidak ingin membahagiakan mereka, tapi karena kita yakin bahwa mereka menilai kita jauh lebih dalam dari apa yang sekedar terlihat dari luar. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini, harus dijaga sepenuh hati, dibahagiakan dengan usaha yang tidak main-main, dan dipertahankan entah bagaimanapun susahnya.

Orang-orang yang masuk dalam kategori ini, berhak mendapatkan pelukan hangat walaupun beberapa menit lalu perilakunya membuat suasana hati kita carut-marut berantakan. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini, tidak boleh ditinggalkan dan dilupakan saat kita komat-kamit mengucap doa.

Sayangnya, kita sering lupa bahwa orang-orang yang masuk dalam kategori ini harus dihujani senyum, ucapan terima kasih, dan kalimat-kalimat cinta. Kewajiban menghargai mereka jauh lebih besar dari memelihara penggemar yang mengangumi penampilan dan kelebihan kita.

Untuk keluarga dan sahabat-sahabat terdekat,
:)
Terimakasih, saya sayang kalian.
Aulia Fairuz hutang banyak pelukan.

Sabtu, 02 November 2013

Hati-hati bicara!

"Ih amit-amit gue (kalo sampe jadian) sama anak teknik. Udah nggak peka, gayanya selangit, nyebelin. Bisa stress gila gue punya pacar macem mereka," ujar gue sambil makan mi ayam di kantin. Pernyataan itu bisa keluar karena beberapa kasus pedekate (pendekatan, sebelum jadian) yang berujung pada ilfil (ilang feeling) sama mahasiswa jurusan teknik.

Waktu berjalan, lalu terjerumuslah (?) gue dalam hubungan berpacaran yang melibatkan anak teknik. Well, nggak seburuk yang gue perkirakan kok. Meskipun tetep aja, kandas.
Dear ex(es), we're cool right?
;)

Lalu ada juga seorang senior dari SMA gue yang sekarang sedang menjalani fase ko-ass karena memang beliau adalah lulusan fakultas kedokteran. Senior yang juga menulis blog pribadi yang post-nya didominasi oleh curhat.

Beliau menulis sukadukanya menjadi mahasiswi kedokteran, menjadi anak perantauan, dan (yang paling mengenaskan) menjadi ko-ass. Tidak lupa juga menuliskan tentang pengalaman berelasi intim dengan beberapa laki-laki plus pemikiran pesimistis tentang jodoh.

Yang terakhir akan gue garis bawahi.
Pemikiran pesimistis tentang pengakuan beliau bahwa hubungan intim dan pernikahan sekarang bukan prioritasnya, tentang laki-laki yang mahluk visual dan beliau yang tidak merasa cantik, blah blah.

Eh bulan lalu, siapa yang mengira beliau menikah dengan teman seangkatannya saat SMA yang berarti juga senior gue. Trus baru deh post blognya berisi satu post yang pandangannya positif soal cinta.
:)

Semesta memang ajaib, seringkali mengingatkan dengan kejadian-kejadian yang tak disangka. Makanya, hati-hati bicara!
:))
 

Template by Best Web Hosting